Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengaku mengikuti kondisi terkini pergulatan politik di Indonesia. "Walaupun ada demonstrasi kepada Ahok namun diadakan dengan cara yang cukup tertib. Tertibnya demonstrasi 2 Desember menggambarkan demokrasi di Indonesia yang semakin matang," ujarnya saat memberikan kuliah umum bertema Peace and Interreligious Dialogue in Worldwide Education di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (05/12).
Mahathir juga memuji cara peserta aksi 2 Desember yang berkumpul dan menyatakan pendapatnya dengan cara berdoa bersama ratusan ribu orang. "Ini sesuatu yang ditunggu Agama Islam," puji Mahathir.
Mahathir mengatakan bahwa jika umat Islam mengalami masalah dan tersesat maka diharapkan kembali ke ke kitab suci Al Quran. Dalam Al Quran disebutkan semua hal tentang kondisi alam termasuk masalah sosial agama. Sehingga sudah layaknya umat Islam selaku berpegang teguh dengan Al Quran.
"Kita perhatikan ajaran Islam apabila ada masalah kita kembalikan ke agama khususnya ke Al Quran. Jadi harus tahu agama engkau agama engkau. Agama kami agama kami. Kita harus ingat itu," kata Mahathir.
Sesama umat beragama, kata Mahathir, seharusnya tidak saling menghina. Karena kondisi tersebut bisa menciptakan huru-hara. "Umat Islam tidak menjelek-jelekkan agama lain. Cara-cara damai, ikuti ajaran Islam, itu penyelesaiannya," ujar Mahathir.
Mahathir juga mengetahui dan mengakui kepiawaian aparat keamanan Indonesia dalam mengamankan denyut dinamika demokrasi.
Tito berhasil membuat panggung politik yang cantik buat umat Islam Indonesia dan juga buat Presiden Jokowi.
Kepolisian pun melakukan 'operasi subuh' menangkap Rachmawati Soekarnoputri dkk yang diendus akan menduduki DPR paralel dengan aksi damai 2 Desember.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku sudah mencium gelagat ini dari informasi intelijen yang diperolehnya. Beberapa kali pertemuan kelompok ini juga tak lepas dari pantauan aparat.
Tito membeberkan alasan tidak melakukan penangkapan beberapa hari sebelum aksi 2 Desember. Dikhawatirkan kelompok ingin makar ini akan memutarbalikan fakta jika penangkapan beberapa hari sebelum aksi.
"Kita lakukan penangkapan kenapa tidak sehari, dua hari, tiga hari sebelumnya, karena ini akan dipelintir kemudian di media sosial. Bapak-bapak paham betul kekuatan media sosial," kata Tito dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Senin (5/12).
Menurut Tito, 'sadisnya' media sosial berpotensi mempengaruhi opini publik dalam merespons penangkapan tersebut. "Bisa membalikan semua, maka yang terjadi di balik penangkapan seolah-olah dilakukan penggembosan massa aksi bela Islam," tuturnya.
"Kita setting penangkapan subuh agar tidak ada lagi waktu untuk goreng-goreng, provokasi massa," tambah mantan Kapolda Papua itu.
Dia juga menegaskan sudah memiliki barang bukti. Dia menolak jika dikatakan penangkapan hanya karena kelompok ini melakukan kritik keras ke pemerintah. "Kita paham pada saatnya itu kritik, mana yang provokatif membahayakan," tuturnya.
"Kalau sudah dobrak sana, dobrak sini kita tangkap, hukum harus tegas bukan tutup ruang protesnya, bukan karena kritik ke pemerintah," tegasnya.
Selain penangkapan, Tito juga sudah menyiapkan skema mulai dari rute demo sampai speaker untu orasi. Untuk lokasi demo sejak awal Tito tegas menolak peserta aksi tumplek sampai Thamrin dan Sudirman. Ternyata ini semua ada alasannya.
Menurut dia, kelompok makar ingin membelokkan ratusan ribu massa yang tergabung dalam GNPF untuk menduduki gedung DPR dan MPR. Tito menjelaskan, pernyataan Polri soal makar bukan ditujukan kepada GNPF yang menuntut penegakan hukum terhadap Ahok.
"Kami tahu Anda, kira-kira begitu, tolong hentikan, jangan manfatkan massa GNPF yang murni ingin proses hukum terhadap saudara Basuki. Polri komit untuk proses hukum itu sudah kita buktikan," tutur dia.
Tito melanjutkan, Polri melihat kelompok makar ini intens berkooptasi dengan GNPF. Oleh sebab itu, Polri membangun dialog dengan massa GNPF. Sebab, Tito mengaku tahu bagaimana cara kelompok makar ini ingin tunggangi massa GNPF.
"Kalau begitu, jangan gunakan Jalan Sudirman Thamrin, kalau mereka gunakan jalan Sudirman Thamrin, dengan massa yang begitu besar, ekornya ada di DPR/MPR, sampai Semanggi, patung Senayan, belok dia ke depan Hotel Mulia dan seterusnya, sampai ke belakang DPR, berikutnya naik Semanggi dan pelintir sedikit saja mudah sekali jumlah massa besar mudah sekali (masuk DPR)," lanjut dia.
Soal speaker, kata Tito merupakan magnet utama bagi demonstran. Sehingga, speaker dipusatkan pada panggung utama untuk menghindari provokator yang berpotensi memanaskan situasi dan membuat kericuhan.
"Sehingga magnet utama dari pengendalian massa itu adalah speaker, kami yang siapkan speaker sehingga tidak terlalu banyak yang orasi menggunakan mobil, dan itu berbahaya sekali. Jadi cukup satu saja suara," kata Tito.
Magnet kedua yang dapat menarik perhatian peserta aksi adalah panggung. Oleh sebab itu, Polri harus berada di atas panggung untuk memastikan aksi berjalan damai dan tertib sesuai kesepakatan.
"Ini adalah komando untuk semua. Nah, oleh karena itu kami hadir di sana, ingin mengendalikan mereka yang sudah berkomitmen dengan kami," jelasnya.
