Matematika modern dimulai dengan adanya konsep angka nol. Konsep angka nol adalah konsep alami, tetapi memiliki kekuatan revolusioner. Angka nol dan ilmu hitung dimulai dari sebuah buku yang ditulis oleh Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi. Judulnya Al-Jabr wa'l-Muqabala, yang berarti "Restorasi dan Reduksi".
Pada 711 Masehi, seorang jenderal bernama Thariq ibn Ziyad memimpin sebuah pasukan melintasi tempat yang sekarang disebut Mediterania. Dia menaklukkan wilayah di sebuah gunung yang oleh orang Spanyol disebut sebagai "Mons Calpe". Gunung itu kemudian dinamai kembali oleh serdadu Tariq sebagai "Jabal Al-Thariq" --'Gunung Thariq'". Orang Spanyol menyebutnya "Gibraltar."
Spanyol dan Portugal --yang pernah bernama Jazirah Iberia-- juga tertaklukkan, dan peradaban Islam ditumbuhkan di sana oleh orang-orang Muslim pengikut Thariq.
Islam datang bukan untuk membuat kehancuran. Agama ini membawa perbaikan dan pembangunan. Membangun sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan memberikan arah tujuan hidup manusia.
Bilangan Romawi segera dihapuskan setelah bilangan Arab diperkenalkan ke Eropa. Angka-angka yang janggal itu diungguli oleh angka-angka Arab yang lebih mudah dan aktif serta dapat memberikan bukan hanya pemikiran atas apa yang dilambangkan, tetapi juga memungkinkan untuk menghitung tanpa kesulitan.
Salah satu buku penting yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin adalah yang ditulis oleh Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi itu. Ketika buku itu diterjemahkan ke bahasa Latin, kata --wa'l-Muqabala-- dihilangkan, jadi tinggal kata Al-Jabr, yang menjadi "algebra". Dan dari nama Al-Khawarizmi didapatkan kata "algoritma" dan "logaritma".
Dari sanalah matematika dan ilmu pengetahuan berkembang. Berlangsung sejak abad ke-12 M menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) di Eropa pada abad ke-14 M. Eropa bangkit dari kegelapan melalui para filsuf dan fisikawan yang kemudian memunculkan era industri.
Sementara di kurun waktu tak lama sesudah itu, di dunia muslim yang telah lebih dulu menggeliat peradabannya justru dilanda konflik politik yang mengatasnamakan agama, yang berimbas filsafat diharamkan, dan kebebasan berpikir ditutup. Umat diwajibkan tunduk pada aturan hukum empat mazhab fiqih yang diakui. Segala buku dan perpustakaan berbau filsafat dibakar dimusnahkan.
Selanjutnya, seperti yang kita ketahui, banyak bangsa-bangsa muslim menjadi bangsa terjajah oleh imperialisme dan kolonialisme bangsa Eropa yang mereguk kemajuan teknologi dari sumber awal para filsuf dan ilmuwan muslim.
Namun kini, di awal abad 21, kita hidup di suatu masa yang merupakan kebangkitan kembali jiwa peradaban Islam.
Semangat Islam telah termanifestasikan ke seluruh dunia. Fenomena ini sebagai fenomena alam yang benar-benar mewakili hasrat kerinduan akan kemurnian pikiran, kebaikan, persamaan, dan keadilan di dunia.
