Suatu siang bulan April 2016 yang lalu, Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Pandjaitan bertemu di kantor Menko Polhukam, membicarakan hal-hal khusus. Dari mulai bisnis pertambangan hingga isu-isu politik. Usai pertemuan itu, sebelum menuju mobilnya, "Give me a call," kata Prabowo kepada Luhut.
Mengenai pertemuan itu, "Silaturahmi, beliau (Luhut) kan senior saya," kata Prabowo kepada koresponden Galaberita yang 'mencegatnya' di dekat mobil.
Komunikasi Prabowo dengan Luhut secara berkala berlanjut. Urusan bisnis maupun politik. Tentunya semuanya sepengetahuan Presiden Jokowi, karena Luhut selalu melapor.
Luhut dan Prabowo sangat kompak sejak masih menjadi perwira muda dan bertugas di Kopassus TNI AD. Mereka berdua mendapat tugas menimba ilmu ke berbagai negara, mulai dari Jerman, hingga Belanda. Keduanya punya andil besar dalam pembentukan Sat-81 Gultor. Saat itu Luhut menjadi Komandan Sat-81 dan Prabowo menjadi wakil komandan.
Ketika masih berpangkat Kapten, Prabowo konflik dengan Panglima ABRI Jenderal Leonardus Benny Moerdani. Saat itu Prabowo termasuk kelompok yang diistilahkan 'ABRI Hijau' yaitu para perwira yang dekat dengan kalangan Islam dan pesantren.
Mayjen (Purn) Kivlan Zen, salah satu jenderal pendukung Prabowo, menjelaskan awalnya hubungan Prabowo dan Benny Moerdani sangat dekat. Namun hal itu berubah saat Benny berniat menghancurkan gerakan Islam secara sistematis. Benny juga dinilai ingin menguasai Indonesia dan menjadi presiden menggantikan Soeharto
"Prabowo Subianto merasa tidak cocok dengan langkah-langkah tersebut dan melaporkan langkah-langkah Benny pada mertuanya, Presiden Soeharto, termasuk rencana Jenderal Benny Moerdani menguasai Indonesia menjadi Presiden RI," kata Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen Kivlan Zen dalam buku Konflik dan Integrasi TNI AD terbitan Institute for Policy Studies tahun 2004.
Konflik Prabowo dengan Benny Moerdani kemudian dimediasi oleh Luhut Pandjaitan. Menurut Profesor Salim Said, ahli militer terkemuka dalam bukunya Dari Gestapu Ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian, Leonardus Benny Moerdani (LB Moerdani) yang dianggap sebagai Raja Intelijen Indonesia, mempunyai seorang anak emas yaitu Luhut Binsar Pandjaitan.
![]() |
| Prabowo dan Luhut |
Luhut sama-sama pernah berlatih dengan Prabowo Subianto di US Army's Special Forces, Fort Bragg, Amerika Serikat, tapi pelatih mereka, Jenderal Wayne Downing justru menyebut nama Prabowo Subianto sebagai murid terbaik di antara sekian banyak prajurit asing yang pernah dia latih.
Namun, Luhut unggul dalam kemampuan intelijen. Banyak ilmu dia serap dari Benny Moerdani. Secara umum ilmu intelijen terbagi tiga yaitu: penyelidikan (pengumpulan informasi); penggalangan (gerakan-gerakan rahasia seperti penggalangan massa, propaganda, anti-teror, spionase dan disinformasi) sampai tingkat tertinggi yaitu analis.
Maka tidak heran bila Luhut Pandjaitan lebih banyak berkutat di dunia intelijen: Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat), Satuan Tugas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI dan kemudian atas izin LB Moerdani mendirikan Proyek Intelijen Teknik pada Den 81/Anti Teror Kopassus atau proyek Charlie (1985).
Adalah sangat logis bila kini, di samping jabatan formalnya, Luhut Panjaitan adalah penasehat utama Presiden Jokowi urusan intelijen. Termasuk operasi pengendalian dunia politik.
Kepada Galaberita Luhut pernah cerita tentang awal kedekatannya dengan Jokowi:
"Dulu saya ada perusahaan kayu glondongan, tapi anak saya pengennya saya tidak menjualnya dalam bentuk glondongan. Tapi dalam bentuk finish produk," kata Luhut (29/5/2014). Lalu Luhut mencari informasi pengusaha yang bisa mengolah kayu glondongan. Dalam pencariannya, Luhut mengaku dikenalkan ke Jokowi yang saat itu masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Sebelum menjadi Wali Kota, Jokowi memang seorang pengusaha mebel berorientasi ekspor yang terbilang sukses. Luhut pun tertarik bekerja sama.
"Saya dikenalkan. Kemudian kita bikin dengan anaknya, perusahaan, karena dia jadi wali kota. Perusahaan finishing furnitures. Perusahaan kecil lah. Bisnis saya kan di energi," tutur Luhut.



