Menurut Iblis, penderitaan merupakan cara ampuh untuk memaksa manusia mengingkari Allah Maha Adil Maha Pengasih Maha Penyayang.

Dalam hal Ayub, Iblis beranggapan bahwa kesalehannya adalah karena Allah selalu memberkatinya. Karena Allah memberinya hidup sejahtera. Oleh karena itu, Iblis menghajar Ayub dengan berbagai penderitaan. Allah mengijinkannya.
Ayub menderita bukan karena dosa-dosanya, tetapi Allah memperlihatkan contoh: bagaimana Ayub sanggup tidak melakukan dosa dalam penderitaannya.
Dari suatu kehidupan mapan berlimpah berkah, dalam sekejap tiba-tiba Ayub kehilangan segalanya. Kehilangan istri, kehilangan anak, kehilangan teman, kehilangan harta, kehilangan kesehatan, kehilangan kehormatan sebagai manusia menggelepar dalam kesendirian dengan penyakit tubuh yang menjijikan.
Namun Ayub tidak mengeluh, tidak meratapi diri, tidak kehilangan keimanannya, tidak kehilangan rasa cinta dan welas asih, bahkan pada cacing-cacing yang menggerogoti luka di tubuhnya.
Kata seorang guru sufi: Renungkanlah mereka yang menempuh jalan ruhani. Lihat apa yang terjadi pada Adam; ingat berapa tahun yang ia lewatkan dalam berduka. Renungkan air bah di masa Nuh serta kesulitan dan penderitaannya. Pikirkan Ibrahim yang penuh cinta pada Tuhan: ia menderita penganiayaan dan dilemparkan ke dalam api. Ingat Ismail, yang diuji pengorbanan demi cinta ilahiat. Tengok Yakub yang menjadi buta lantaran meratapi putranya. Lihat Sulaiman yang jatuh dari kekuasaannya dan jadi rakyat jelata ketika kerajaannya dikuasai jin. Ingat Zakaria, begitu menyala-nyala cintanya pada Tuhan sehingga ia tetap diam ketika orang-orang membunuhnya; dan Yahya, yang dihinakan di muka orang banyak, dan kepalanya diletakkan di atas lempengan kayu. Tegak berdirilah di kaki tiang salib membayangkan Isa ketika ia menghadapi penyiksaan. Dan akhirnya, renungkanlah segala yang diderita oleh sekalian penempuh jalan ruhani, penghinaan dan penganiayaan.
Setelah itu, adakah yang mengira mudah saja untuk berserah tulus pada Allah?
Jika Sigmud Freud berhenti pada tesis kesimpulan bahwa dorongan paling mendasar dari setiap manusia adalah ”kehendak untuk kenikmatan” dan Alfred Adler sampai pada rumusan kesimpulan bahwa yang menjadi dorongan mendasar manusia adalah ”kehendak untuk berkuasa”, Viktor Frankl sudah pada tesis kesimpulan bahwa dorongan terdalam manusia bukanlah ”kenikmatan” ataupun ”kekuasaan” tetapi ”kehendak untuk mendapatkan makna”.
Menurut Frankl, ”makna” merupakan entitas yang harus ditemukan dan bukan sesuatu yang diberikan. Makna mempunyai sifatnya yang ’imanaen’ dan ’idependen’ dari pikiran manusia. Jadi, makna sudah hadir di sana dan siap ditemukan. Bagaimana ’makna’ ini kemudian ditemukan? Melalui tiga cara yaitu: melalui nilai-nilai yang dialami, melalui penciptaan nilai-nilai kreatif, dan melalui tindakan yang memiliki nilai-nilai hidup. Dan keutamaan yang paling mendasar adalah ”menemukan makna melalui penderitaan”.
Aspek terakhir kebebasan manusia adalah menentukan sikap dalam keadaan paling sulit.

