Terorisme yang mengatasnamakan Islam telah membuat warga muslim di negara-negara Eropa menjadi tersudut, dan dipandang menganut agama kebencian dan kekejaman.
Menghadapi kenyataan itu, apakah merumuskan 'Islam Eropa' yang sesuai dengan budaya Eropa menjadi sungguh dibutuhkan?
Kerem Öktem, dosen pada Pusat untuk Studi Eropa di Universitas Oxford mengatakan, pengajuan pertanyaan itu saja sudah keliru, karena menguatkan bahwa "Islam adalah sesuatu yang asing, sesuatu yang datang dari luar Eropa, dan karena itu harus didomestikkan, dieropakan atau dinasionaliasi."
Di Eropa banyak komunitas berkarakter muslim, entah itu Turki, Aljazair, Albania, Bosnia atau Pakistan dan Iran. Namun mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda, memiliki latar budaya dan tradisi keagamaan yang juga berbeda-beda.
Muslim sebagai kelompok mayoritas di Bosnia sejak lama hidup berdampingan dengan Kristen Ortodoks dan Katolik, juga Yahudi. Pengalaman hidup bersama selama lebih dari 130 tahun di Monarki Austria-Hungaria yang berkarakter Kristen, membentuk Islam di Bosnia.
Warga Austria juga memberi perhatian pada keistimewaan tradisi Islam di Bosnia.
Kerem Öktem menekankan, tidak mungkin atau tidak perlu menetapkan sebuah bentuk terpadu Islam untuk seluruh Eropa, karena "Ada terlalu banyak keragaman yang harus dipertimbangkan."
Karena itu tidak realistis bila mengharapkan bahwa sebuah tradisi islam, entah itu Bosnia atau lainnya, diambil sebagai model masa depan bagi semua muslim di Eropa. Öktem yakin, kelak ada model yang berbeda di masing-masing negara. Namun memiliki ciri khas yang sama, kata Adam Was. Islam dengan karakter Eropa, yang berbeda dengan islam di Afrika atau Asia Tenggara misalnya. Terkait kontekstualisasi sebuah agama, rumusnya adalah berbeda-beda namun tetap satu jua.
Islam yang sesungguhnya, kata Adam Was, menghargai demokrasi, HAM dan kebebasan beragama. Itu berarti, diperlukan proses interpretasi ulang Al Quran, penafsiran baru terhadap ayat-ayat suci, kata Was. Ia menambahkan, "Muslim yang sudah berabad-abad hidup di Eropa juga bisa memberi kontribusi dalam hal itu."
Di Eropa banyak komunitas berkarakter muslim, entah itu Turki, Aljazair, Albania, Bosnia atau Pakistan dan Iran. Namun mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda, memiliki latar budaya dan tradisi keagamaan yang juga berbeda-beda.
Muslim sebagai kelompok mayoritas di Bosnia sejak lama hidup berdampingan dengan Kristen Ortodoks dan Katolik, juga Yahudi. Pengalaman hidup bersama selama lebih dari 130 tahun di Monarki Austria-Hungaria yang berkarakter Kristen, membentuk Islam di Bosnia.
Warga Austria juga memberi perhatian pada keistimewaan tradisi Islam di Bosnia.
Kerem Öktem menekankan, tidak mungkin atau tidak perlu menetapkan sebuah bentuk terpadu Islam untuk seluruh Eropa, karena "Ada terlalu banyak keragaman yang harus dipertimbangkan."
Karena itu tidak realistis bila mengharapkan bahwa sebuah tradisi islam, entah itu Bosnia atau lainnya, diambil sebagai model masa depan bagi semua muslim di Eropa. Öktem yakin, kelak ada model yang berbeda di masing-masing negara. Namun memiliki ciri khas yang sama, kata Adam Was. Islam dengan karakter Eropa, yang berbeda dengan islam di Afrika atau Asia Tenggara misalnya. Terkait kontekstualisasi sebuah agama, rumusnya adalah berbeda-beda namun tetap satu jua.
Islam yang sesungguhnya, kata Adam Was, menghargai demokrasi, HAM dan kebebasan beragama. Itu berarti, diperlukan proses interpretasi ulang Al Quran, penafsiran baru terhadap ayat-ayat suci, kata Was. Ia menambahkan, "Muslim yang sudah berabad-abad hidup di Eropa juga bisa memberi kontribusi dalam hal itu."
DW / Siti Rahmah
