Transportasi otonom untuk dalam kota bukan lagi mimpi. Berbagai produsen otomotif kini serius menggarap bus tanpa supir untuk kota masa depan.
Untuk sebuah bus masa depan Mercedes masih menggunakan mesin penggerak dari abad lalu, yakni mesin diesel. Namun berbeda dengan bus pada umumnya, the future bus memiliki sepuluh kamera dan sejumlah sensor. Bus ini bisa mengawasi situasi lalu lintas di sekitarnya, mengenali pejalan kaki, berhenti di lampu merah atau mengurangi kecepatan di terowongan.

"The Future Bus" milik Mercedes saat ini lalu lalang dari bandar udara Schipol ke Haarlem. Layaknya transportasi dalam kota pada umumnya, bus otonom Mercedes ini secara otomatis berhenti di setiap halte dan berkecepatan maksimal 70 kilometer/jam. Dengan proyek ujicoba ini Mercedes ingin mempopulerkan bus tanpa supir kepada penduduk kota.

Agar bus otonom bisa menjadi kenyataan, dibutuhkan sebuah jaringan lalu lintas yang terkoneksi satu sama lain. Namun khususnya di Eropa, sistem semacam itu sudah tersedia, kendati belum sempurna. Sebab itu Mercedes yakin konsepnya sudah akan bisa dinikmati dalam waktu dekat.

Kendati telah dilengkapi dengan teknologi otonom, bus Mercedes bukan tanpa supir. Namun demikian supir cuma bertugas mengawasi sistem, tanpa perlu campur tangan kecuali dalam situasi berbahaya. Mercedes berharap sudah bisa memasarkan bus otonomnya selambatnya awal tahun 2020.

Untuk jarak yang lebih dekat perusahaan asal Perancis, Navya, mendesain Arma - sebuah mini bus bertenaga elektrik yang juga bisa melaju tanpa supir. Berbeda dengan konsep future bus milik Mercedes, Arma sudah dipasarkan sejak beberapa bulan silam. Arma saat ini sudah digunakan di berbagai kompleks perkantoran sebagai moda transportasi buat pegawai.

DW/GBC
