Islam yang saat sekarang, yang menjunjung tinggi toleransi, saling menghormati, beradab, dan berbudaya, adalah Islam kita di Nusantara ini.
Kita lihat keadaan umat Islam di Timur Tengah. Perang saudara tidak berkesudahan. Di Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Afganistan, Mesir, Libya.
Islam atau umat Islam yang berkembang di kawasan Nusantara, yang kita warisi dari para wali atau ulama leluhur kita. Mereka telah berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara, mereka berhadapan dengan Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan-kerajaan lain. Berhasil mengislamkan bangsa ini tanpa kekerasan, tanpa berdarah-darah, tapi dengan pendekatan budaya akhlakul karimah. Menunjukkan Islam itu beradab, bermartabat, disiplin, dan bersih penampilannya.
Islam Nusantara itu artinya Islam yang tidak menghapus budaya, Islam yang tidak memusuhi tradisi, Islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur. Islam Nusantara adalah Islam yang mensinergikan nilai-nilai universal bersifat teologis dari Tuhan yang ilahiah dengan kultur budaya tradisi yang bersifat kreativitas manusia atau insaniah.
Islamnya kuat karena didukung budaya. Budaya menjadi lestari karena dipoles oleh Islam. Kecuali tradisi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, itu jelas kita tolak.
Begitu pula kalau masuk masjid atau musala, kakinya harus bersih, caranya bukan ditulis lepas sandal, batas suci. Tidak begitu. Di depan pintu masuk ada air. Jadi orang masuk masjid pasti kakinya nyemplung air. Dakwah model itulah yang kita maksud Islam Nusantara. Menggabungkan antara Islam dan budaya.
Seperti dulu juga sahabat (Nabi Muhammad) sangat terbuka terhadap budaya luar. Contohnya kubah masjid. Itu bukan dari Arab, tapi dari Romawi. Setelah Islam menyebar ke Barat, melihat istana, gedung-gedung besar, gereja pakai kubah, maka diambil kubah itu untuk masjid, sehingga tidak banyak tiang di dalamnya.
Begitu pula kalau mau detail ilmu kalam. Islam itu sebenarnya sistem dan metodenya terpengaruh filsafat walaupun isinya adalah dalam rangka mentauhidkan Tuhan. Tapi sistem berpikirnya terpengaruh filsafat Yunani. Itulah Islam yang terbuka.
Islam Indonesia itu bukan Islam Arab, tidak harus pakai gamis, tidak harus pakai sorban. Tidak. Islam Indonesia adalah Islam khas Indonesia. Hal terpenting adalah substansinya, yaitu berakhlak Islam, beribadah. Gamis, celana, sarung, tidak urusan itu.
Kita tidak bisa hanya (berpegang pada) Alquran-hadis saja. Akal pun harus dipakai, yakni ijma dan qiyas. Ahlus Sunnah Waljamaah itu mensinergikan antara Alquran, hadis, dan akal.
Akal itu kalau akalnya orang banyak kolektif namanya ijma atau konsensus. Kalau akalnya sporadis atau satu-satu namanya qiyas. Alquran-hadis sebagai dasarnya. Semua ilmu pengetahuan dalam Islam adalah kreativitas manusia. Nabi Muhammad tidak mengajarkan ilmu. Tetapi, supaya ibadah kita atau berislamnya seperti Nabi Muhammad, kita harus dengan ilmu.
Jangankan ilmu, nulis Alqurannya saja tidak ada titiknya. Yang bikin titik (di Al-Quran) itu ulama, bukan Nabi, bukan sahabat.
Islam kita itu yang dibawa Wali Songo. Membawa keharmonisan dan kedamaian. Sama sekali tidak membawa radikalisme atau mengkafir-kafirkan orang. Tidak sama sekali.
Said Aqil Siradj

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
