
Gus Dur pernah dihebohkan dibaptis, dan menjalani ritual mistik di pantai selatan bersama paranormal. Beberapa ulama mendatanginya, memprotesnya bahwa itu perbuatan kufur dan musyrik. Sambil tertawa Gus Dur menjawab: "Gitu aja kok repot. Gusti Allah juga tahu bahwa saya cuma main-main kok, hehehe..." dan katanya lagi, "Kalau enggak percaya, tanya sendiri pada Gusti Allah."
Ada satu istilah dalam vokabulari sufisme untuk tipe sufi macam Gus Dur: “qalandar”, yaitu sufi yang memilih jalan bebas dan tak berminat untuk menjadi anggota dari sebuah tarekat. Para sufi macam ini kerap bertingkah aneh di depan umum memantik rasa jengkel orang.
Sang Sufi acapkali membuyarkan keajekan, membiaskan titik fokus, dan memendarkan warna cahaya. Sufi tidak sedang mencari surga untuk dirinya sendiri. Ia sedang berbagi kepada orang lain, tanpa pandang bulu. Tanpa melihat secara petak-petak kebenaran. Jadi, jangan lihat warna sufi hanya sebening cahaya putih saja, karena sesungguhnya ia sedang mengurai berbagai warna yang berbeda secara sama.
Sufisme yang diolah Gus Dur adalah sebuah kritik sosial. Membalikkan yang positif melalui cara negatif, yang sebetulnya tidak biasa. Nalar yang dibalik justru untuk dipikirkan. Ini membuat kita memandang sesuatu secara tidak hitam putih. Ada suatu makna yang bisa tak terhingga dijangkau pengindera manusia. Antara laku dan kata para sufi acapkali melampaui atau menyalahi kebiasaan, nonkonvensional, untuk memperoleh hikmah kearifan. Secara kasatmata kelihatan negatif, tapi banyak orang yang tidak menyadari hati positifnya.
Model pemahaman seperti ini sebetulnya ampuh untuk melumpuhkan ketergesaan dan ketertutupan dalam beriman. Sufi bahkan tidak takut dituduh salah dituduh sesat dalam menjalani kehidupan, karena di matanya selalu memandang ”Tuhan”. Kematian pun bukan sebuah kekalahan, melainkan dunia baru menuju kemenangan. Para sufi membangun sendiri metode penjemputan menuju kematian dengan tidak menghiraukan surga dan neraka. Spiritualitas adalah kekayaannya, dan Tuhan merupakan khazanah yang tersembunyi untuk disingkap. Hidupnya sumringah penuh anekdot dan ketawa.
Karena itu, sufi sebetulnya amat peduli dan dekat dengan keseharian kita, keberadaannya tidak sejauh apa yang banyak dianggap selama ini. Bahwa ia berperan sebagai Semar. Keganjilannya dalam kekocakan menyuruk waskita, nubuat, untuk kita renungkan. Kadang, ia rela menjadi lilin yang sedia meleleh untuk menerangi kita.

