Buku Khadijah The True Love Story of Muhammad mengisahkan, suatu hari Khadijah mendengar kabar tentang pemuda yang sangat terpercaya di kalangan Arab, dialah Muhammad.

Desa Malula, 50 kilometer dari Damaskus, Ibu Kota Suriah
Tertarik menjadikan pemuda itu mitra dagangnya, Khadijah pun memanggilnya. Muhammad menerima tawaran Khadijah dengan senang hati.
Khadijah mengirim Muhammad sebagai pemimpin kafilah dagang ke negeri Syam. Negeri Syam adalah negeri yang saat ini mencakup: Suriah, Palestina, Yordania dan Libanon. Jadi yang dimaksud negeri Syam dalam literatur sejarah Islam adalah wilayah empat negara ini, dan Damaskus adalah ibukotanya. Wilayah ini sekarang telah terpecah menjadi empat negara sebagai dampak dari imprealisme barat di masa lalu.
Bisnis Khadijah pun semakin besar, laba yang dihasilkan meningkat pesat.
Profesi sebagai pedagang ditekuni Muhammad sampai dia menjadi nabi dan rasul di usia yang ke- 40. Sulaiman PhD dan Aizuddinur Zakaria dalam Jejak Bisnis Rasul mencatat ringkasan hidup Rasulullah SAW sebagai berikut: Usia 8 sampai 12 tahun menggembala domba, usia 12 tahun ikut berdagang ke negeri Suriah/Syam dengan rombongan pamannya, Abu Thalib. Usia 25 tahun, menjadi pengelola perdagangan Siti Khadijah. Usia 40-63 menjadi rasul.
Sang uswatun khasanah, Rasulullah SAW, merupakan seorang pedagang ulung. Hidup di tengah keluarga pedagang membuatnya terlibat dalam perdagangan sejak usia belia.
Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfurry dalam Sirah Nabawiyyah menyebutkan, saat itu usia Nabi SAW baru bekisar 12 tahun. Dia turut serta dalam perjalanan dagang pamannya, Abu Thalib.
Inilah perjalanan dagang pertama Muhammad SAW. Pada perjalanan inilah terjadi sebuah pertemuan Muhammad dengan Rahib Kristen yang melihat tanda-tanda pada Muhammad sebagai bakal utusan Allah.
Negeri bersejarah dalam perjalanan hidup Rasulullah itu, berapa tahun terakhir ini dilanda pertumpahan darah.
Namun, ketegangan seakan tidak menular terhadap warga Desa Malula, 50 kilometer dari Damaskus, Ibu Kota Suriah. Di desa itu sejak dulu para penduduk hidup tenang. Uniknya, mereka sampai sekarang tetap menggunakan bahasa yang digunakan Yesus, yaitu bahasa Aramaik.
Jumlah pengguna Aramaik di Malula mencapai 18 ribu orang, seperti dilaporkan msn.com. Malula dalam bahasa Aramaik berarti pintu masuk. Selain desa itu, dua desa tetangga yaitu Bakhaa dan Jabadin juga menggunakan bahasa itu sebagai sarana percakapan sehari-hari. Bila berkunjung ke daerah ini, orang bakal merasakan suasana seperti film kondang "Passion of the Christ" yang disutradari Mel Gibson.
Aramaik lazim digunakan di zaman Yesus masih hidup. Menurut para ahli, bahasa ini merupakan akar bahasa Yahudi dan Arab modern. Bahasa ini muncul pertama kali dalam tulisan sekitar tiga ribu tahun lampau. Kini status bahasa ini, menurut UNESCO, terancam punah. Bahasa ini dianggap cuma diketahui para pakar linguistik saja.
Menurut tinjauan ahli bahasa Yona Sabar dari Universitas California di Amerika Serikat, Malula bisa mempertahankan Aramaik karena kemungkinan besar bahasa itu muncul di daerah itu. "Bahasa Aramaik memang pertama kali menyebar dari daerah yang kini kita sebut Suriah modern," ujar Sabar.
Bagi warga, Aramaik bisa lestari di daerah Malula karena keberadaan Biara Katolik Santo Serge. Wilayah ini merupakan basis pemeluk agama Kristen di Suriah. Biara itu mempertahankan penggunaan Aramaik di setiap ibadah.
Ada alasan lain para penduduk tetap menggunakan bahasa itu sehari-hari. Rupanya, mereka berharap saat Yesus kembali ke dunia, seperti diajarkan Injil, mereka bisa ngobrol dengan sang Juru selamat itu.
Khadijah mengirim Muhammad sebagai pemimpin kafilah dagang ke negeri Syam. Negeri Syam adalah negeri yang saat ini mencakup: Suriah, Palestina, Yordania dan Libanon. Jadi yang dimaksud negeri Syam dalam literatur sejarah Islam adalah wilayah empat negara ini, dan Damaskus adalah ibukotanya. Wilayah ini sekarang telah terpecah menjadi empat negara sebagai dampak dari imprealisme barat di masa lalu.
Bisnis Khadijah pun semakin besar, laba yang dihasilkan meningkat pesat.
Profesi sebagai pedagang ditekuni Muhammad sampai dia menjadi nabi dan rasul di usia yang ke- 40. Sulaiman PhD dan Aizuddinur Zakaria dalam Jejak Bisnis Rasul mencatat ringkasan hidup Rasulullah SAW sebagai berikut: Usia 8 sampai 12 tahun menggembala domba, usia 12 tahun ikut berdagang ke negeri Suriah/Syam dengan rombongan pamannya, Abu Thalib. Usia 25 tahun, menjadi pengelola perdagangan Siti Khadijah. Usia 40-63 menjadi rasul.
Sang uswatun khasanah, Rasulullah SAW, merupakan seorang pedagang ulung. Hidup di tengah keluarga pedagang membuatnya terlibat dalam perdagangan sejak usia belia.
Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfurry dalam Sirah Nabawiyyah menyebutkan, saat itu usia Nabi SAW baru bekisar 12 tahun. Dia turut serta dalam perjalanan dagang pamannya, Abu Thalib.
Inilah perjalanan dagang pertama Muhammad SAW. Pada perjalanan inilah terjadi sebuah pertemuan Muhammad dengan Rahib Kristen yang melihat tanda-tanda pada Muhammad sebagai bakal utusan Allah.
Negeri bersejarah dalam perjalanan hidup Rasulullah itu, berapa tahun terakhir ini dilanda pertumpahan darah.
Namun, ketegangan seakan tidak menular terhadap warga Desa Malula, 50 kilometer dari Damaskus, Ibu Kota Suriah. Di desa itu sejak dulu para penduduk hidup tenang. Uniknya, mereka sampai sekarang tetap menggunakan bahasa yang digunakan Yesus, yaitu bahasa Aramaik.
Jumlah pengguna Aramaik di Malula mencapai 18 ribu orang, seperti dilaporkan msn.com. Malula dalam bahasa Aramaik berarti pintu masuk. Selain desa itu, dua desa tetangga yaitu Bakhaa dan Jabadin juga menggunakan bahasa itu sebagai sarana percakapan sehari-hari. Bila berkunjung ke daerah ini, orang bakal merasakan suasana seperti film kondang "Passion of the Christ" yang disutradari Mel Gibson.
Aramaik lazim digunakan di zaman Yesus masih hidup. Menurut para ahli, bahasa ini merupakan akar bahasa Yahudi dan Arab modern. Bahasa ini muncul pertama kali dalam tulisan sekitar tiga ribu tahun lampau. Kini status bahasa ini, menurut UNESCO, terancam punah. Bahasa ini dianggap cuma diketahui para pakar linguistik saja.
Menurut tinjauan ahli bahasa Yona Sabar dari Universitas California di Amerika Serikat, Malula bisa mempertahankan Aramaik karena kemungkinan besar bahasa itu muncul di daerah itu. "Bahasa Aramaik memang pertama kali menyebar dari daerah yang kini kita sebut Suriah modern," ujar Sabar.
Bagi warga, Aramaik bisa lestari di daerah Malula karena keberadaan Biara Katolik Santo Serge. Wilayah ini merupakan basis pemeluk agama Kristen di Suriah. Biara itu mempertahankan penggunaan Aramaik di setiap ibadah.
Ada alasan lain para penduduk tetap menggunakan bahasa itu sehari-hari. Rupanya, mereka berharap saat Yesus kembali ke dunia, seperti diajarkan Injil, mereka bisa ngobrol dengan sang Juru selamat itu.
SR/NF

