
Cucuku sekalian, inilah cara yang sebenarnya. Kita harus melakukan segala sesuatu dengan cinta dalam hati kita. Tuhan adalah milik semua orang, apapun agamanya, maupun yang tidak beragama. Dia telah memberi persemakmuran untuk semua ciptaan-Nya. Cucuku sekalian…. kita tidak harus untuk diri kita sendiri. Kita tidak boleh mengambil lebih dari bagian kita. Hati kita harus meleleh dengan kasih, kita harus berbagi dengan orang lain, dan kita harus memberikan kasih untuk membuat orang lain merasakan kedamaian. Kemudian kita akan memenangkan keindahan kita yang sesungguhnya dan memperoleh pembebasan jiwa kita. Silakan renungkan tentang hal ini. Berdoalah, tingkatkan kualitas keyakinan kepada Tuhan, kesejahteraan akan menjadi milikmu.
Pesan itu disampaikan oleh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, yang mengabdikan dirinya untuk membangkitkan keyakinan akan Tuhan di dalam kalbu orang-orang yang datang kepadanya. Sebagai seorang guru sufi, Muhaiyaddeen memiliki kemampuan yang unik, yaitu kemampuan memurnikan esensi kebenaran dari semua agama.
Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang guru sufi berbahasa Tamil yang muncul dari hutan Sri Lanka pada awal 1940-an. Dia adalah seorang seniman. Dia menggambarkan seni budaya sebagai “pekerjaan jantung” - Muhaiyaddeen datang ke Amerika Serikat pada Oktober 1971 dan mendirikan Bawa Muhaiyaddeen Fellowship di Philadelphia. Dan dari Philadelphia, dengan ribuan pengikutnya, cabang Fellowshipnya telah menyebar di seluruh Amerika Serikat dan Kanada, serta Australia dan Inggris, hingga berbagai penjuru dunia.
Selama lima puluh tahun terakhir kehidupannya, Muhaiyaddeen membagi pengalaman-pengalamannya ini kepada berbagai orang dari seluruh dunia. Walaupun memberikan pelajarannya dalam kerangka sufistik Islam, orang-orang dari agama Kristiani, Yahudi, Buddha, maupun Hindu, tetap datang kepadanya dan duduk bersama-sama, selama berjam-jam, di dalam majelisnya.
Muhaiyaddeen menyuarakan Islam Hakikat merujuk pada nilai esensial yang dikandungnya, bukan pada bentuk lahiriah dan penggunaan nama formal kearaban. Menurutnya, Islam sebagai hakikat menjadi misi ratusan ribu Nabi -- meski hanya 25 Nabi disebutkan dalam Al Qur'an -- semua Nabi itu mengajak mengembangkan kesatuan dan iman kepada Tuhan, untuk hidup damai dan penuh toleransi sebagai satu keluarga besar manusia. Islam Hakikat adalah agama cinta, kasih, damai, keadilan, dan kesatuan.
Para akademisi, juga para pemikir filsafat maupun pemimpin politik serta kelompok-kelompok spiritual tradisional, mengapresiasi Muhaitaddeen karena kemampuannya menyegarkan keyakinan spiritual di dalam hati setiap orang yang datang kepadanya.
Beberapa media yang mengulas pemikirannya di antaranya adalah Time, The Philadelphia Inquirer, Psychology Today, dan The Harvard Divinity Bulletin.
Ia terus membimbing murid-muridnya dari segala bangsa, dan juga menerima tamu-tamu hariannya dari pelbagai kalangan, mulai dari pelajar sekolah dasar, petani, dan buruh, hingga para tokoh agama, pemimpin dunia, jurnalis, akademisi, maupun para pencari Tuhan; untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, membantu memecahkan persoalan mereka dan menyentuh hati mereka dengan cara yang sangat personal.
Ia terus melakukan semua itu hingga hari meninggalnya pada 8 Desember 1986 di Philadelphia, Amerika Serikat, dan dimakamkan oleh murid-muridnya di sana.
Agamaku agama cinta,
di manapun tak ada agama seindah agama
yang dibangun di atas cinta dan kasih sayang

