Makna Qadim adalah bukan terciptakan dan menjadi satu dengan hakikat Allah.
Jadi, Tuhan Qadim berarti Tuhan tidak diciptakan, tetapi adalah Pencipta, dan alam Qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula hingga zaman tak berakhir.
Dengan demikian sungguhpun alam Qadim, alam bukan Tuhan, tetapi adalah ciptaan Tuhan, Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada.
Janganlah menyangka bahwa Allah akan menyalahi janjiNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi Perhitungan, bumi ditukar dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.
Jika di dunia yang ini seseorang adalah dzalim, mungkin saja di dunia yang lain dia seseorang yang didzalimi. Demikian seterusnya ragam nasib tak terhingga.
Takdir anak macan adalah menjadi macan, takdir anak kucing adalah menjadi kucing, takdir anak buaya adalah menjadi buaya. Takdir anak manusia menjadi apa?
Yang membedakan manusia dengan makhluk bumi yang lain adalah adanya iradat sehingga ia bebas memilih. Akan tetapi manusia tidak bisa menentukan gerak hakiki yang mengalir dalam dirinya.
Gerak hakiki adalah gerak dimana Tuhan telah menentukan arah dan kadar fungsinya. Ia tidak akan menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan. Ia patuh sebagaimana alam semesta patuh. Ia bersifat pasrah yang dinamis, karena ia selaras dengan dinamika alam semesta.
Kita tidak bisa menghentikan kehendak hakiki pada tubuh kita untuk mati. Kita tidak pernah merencanakan lahir menjadi seorang laki-laki ataupun perempuan, sebagai bangsa apa.
Dalam diri manusia ada kehendak hakikat dan yang bukan hakikat. Kehendak yang bukan hakikat semestinya mengikuti gerak hakikat yang menjadi pusat ketentuan dan ide di dalam setiap manusia.
Manusia dimudahkan dalam jalannya masing-masing dan tidak diberi beban melainkan apa yang mampu ia pikul. Tetapi, ego manusia cenderung memilih jalan yang justru ia menjadi ribet, tidak berjalan dengan energi minimalnya, energi hakikinya. Bukankah alam semesta itu wujud dalam energi minimalnya? Misi hidup setiap manusia itu bekerja dalam energi minimalnya, dimudahkan untuk apa ia dicipta.
Alam semesta hidup mengalir mengikuti gerak hakiki, ini adalah tasbih.
Dalam kondisi singularitas jagat raya Teori Relativitas, karena rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga akan menghasilan besaran yang tidak dapat diramalkan.
Menurut Stephen Hawking dalam bukunya A Brief History of Time, di sini kita harus menggunakan mekanika kuantum. Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan menghasilkan alam semesta “tanpa pangkal ujung” karena adanya waktu maya dan ruang kuantum.
Pada kondisi waktu nyata (waktu bumi) waktu hanya bisa berjalan maju dengan laju tetap, menuju nanti, besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke masa lalu atau masa depan. Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke waktu manapun, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.
Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking “telah ada dan sudah selesai” sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika.
Atas dasar teori ini, menurut Hawking, segala sesuatu sudah tertentukan hingga hal-hal yang paling remeh temeh. Takdir itu tidak bisa diubah, sudah jadi sejak segalanya diciptakanNya.
Hawking menuturkan: "Pembelaan untuk masalah takdir ini biasanya adalah bahwa Tuhan Mahakuasa dan di luar waktu, maka Tuhan mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Tetapi andaikata demikian, mengapa kita boleh mempunyai kehendak bebas, mengapa kita harus bertanggung jawab atas perbuatan kita? Seseorang praktis tidak boleh disalahkan bila dia telah ditakdirkan untuk merampok bank. Lalu mengapa ia harus dihukum karena perbuatan itu?"
Namun, kata Hawking, "Orang tidak dapat mendasarkan tindakannya pada alasan bahwa segala sesuatu telah ditentukan baginya. Sebagai gantinya, orang harus mengacu kepada teori efektif yang menyatakan bahwa ia mempunyai kehendak bebas serta ia harus bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya."
"Sebuah masyarakat yang anggota-anggotanya merasa bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya lebih mungkin bekerjasama menyebar-luaskan nilai-nilai baik. Tentu saja semut termasuk mahluk yang mampu bekerjasama, tetapi masyarakat semut bersifat statis. Mereka tidak mampu bersikap tanggap terhadap tantangan-tantangan yang mereka kenal atau memanfaatkan peluang-peluang baru. Sebaliknya sekelompok individu manusia merdeka yang mempunyai tujuan bersama tertentu dapat bekerja bersama dalam meraih tujuan bersama tapi tetap bebas dalam berinovasi. Masyarakat yang demikian lebih mungkin mempertahankan dan menyebar-luaskan sistem nilainya."
Ibnu Taymiyyah mengatakan:
Tidak ada jalan keluar bagi manusia dari ketentuan-Nya,
Namun manusia tetap mampu memilih yang baik dan yang buruk
Jadi bukannya ia itu terpaksa tanpa kemauan, melainkan ia berkehendak dengan terciptanya kemauan.


