Secara terbuka, Ahok dengan vulgar sering menyatakan bahwa dirinya dipersiapkan untuk menjadi Wakil Presiden dan kemudian akan menjadi Presiden Republik Indonesia. Berikut ini opini Johan O Silalahi - Pendiri Perhimpunan Negarawan Indonesia (PNI)
Realitas politik paska pengumuman 3 pasangan Cagub-Cawagub dalam Pilgub DKI kali ini, mencerminkan peta politik riil dalam pentas politik nasional menuju Pilpres 2019 kedepan. Pesan politik yang perlu dipahami oleh Presiden Jokowi adalah bahwa sesungguhnya koalisi dan konsolidasi politik yang dibentuknya paska reshuffle kabinet kedua amatlah rapuh. Secara objektif sesuai fakta, Megawati Soekarnoputri dan PDIP yang telah mengantarkan Jokowi menjadi Presiden RI sesungguhnya sudah 'patah arang' dan sangat tidak nyaman dalam mencalonkan Ahok dalam Pilgub DKI ini. Sikap antipati kader dan mesin politik PDIP pada Ahok sangatlah nyata pada seluruh tingkatan. Mulai kader tingkat elite DPP PDIP, hingga kader tingkat akar rumput.
Dilema ini semakin diperburuk dengan memuncaknya rasa skeptis dan pesimis paska pengumuman terus menurunnya elektabilitas Ahok dalam berbagai survei. Masih ditambah lagi dengan konflik laten antara PDIP dengan Golkar, Nasdem dan Hanura, 3 partai politik terdahulu yang sudah jauh lebih dulu bersedia menjadi kendaraan politik untuk Ahok. Hampir mustahil 'mesin politik' PDIP bisa berkerja maksimal, seperti saat memenangkan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014 lalu.
Jalan Menuju Pilpres 2019
Secara objektif, selama ini Ahok lebih merupakan 'beban' bukan menjadi 'aset' bagi Presiden Jokowi. Pada saat merasa terdesak menghadapi masalah tuduhan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, Ahok secara verbal dan implisit selalu mengkaitkan dan menyeret nama Presiden Jokowi. Secara terbuka, Ahok dengan vulgar juga sering menyatakan bahwa dirinya dipersiapkan untuk menjadi Wakil Presiden dan kemudian akan menjadi Presiden Republik Indonesia. Hal yang sangat absurd dan hampir mustahil, karena mayoritas mutlak hampir 80 (delapan puluh) persen rakyat Indonesia beragama Islam. Masih diperkeruh lagi dengan pernyataan keliru sekaligus blunder yang dilakukan Ahok, saat meminta supaya masyarakat Jakarta tidak memilih dirinya karena perintah Surat Al-Maidah ayat 51 dalam Al-Qur'an. Ahok malah menjerumuskan dirinya dalam masalah laten SARA dengan mempertentangkan dan mempersoalkan masalah akidah dan iman Islam. Tentu menjadi murtad bagi siapapun yang memeluk agama Islam, jika tidak taat dan tidak patuh kepada Al-Qur'an, walau hanya pada satu ayat sekalipun.
Saya jadi teringat masa lalu sebelum persiapan Pilpres 2014. Saya diminta Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan untuk membantu dirinya supaya bisa menjadi pasangan Cawapres bagi Capres Joko Widodo. Pertemuan dan diskusi sebagai kakak beradik ini diikuti oleh para Jenderal senior yang ikut dalam tim Bravo 5, salah satu sayap tim kampanye Jokowi-JK dulu. Karena peka dan sensitif, secara komprehensif dan sangat berhati-hati, Saya uraikan pada Luhut B. Panjaitan dan tim Bravo 5 bahwa Joko Widodo, Megawati Soekarnoputri dan PDIP sangat lemah basis Islamnya. Akan menjadi 'blunder dan harakiri' politik, jika tiba-tiba Joko Widodo dipasangkan dengan Luhut B Panjaitan yang beragama Nasrani, sebagai Capres dan Cawapres dalam Pilpres 2014 lalu. Dengan lugas dan tegas, Saya menyatakan kepada para Jenderal senior tersebut, jika mau yakin, tenang dan aman memenangkan Pilpres, maka hanya ada satu pilihan, Joko Widodo harus dipasangkan dengan Jusuf Kalla yang kuat basis Islamnya.
Pilgub DKI ini bisa menjadi musibah yang membawa manfaat atau 'blessing indisguise' bagi Presiden Jokowi. Paska pencalonan Anies Baswedan berpasangan dengan Sandiaga S Uno oleh koalisi Partai Gerindra dan PKS, serta Agus H Yudhoyono berpasangan dengan Sylviana Murni oleh koalisi Partai Demokrat, PPP, PKB dan PAN, maka berdasarkan analisis yang rasional dan faktual, pamor dan cahaya pasangan Ahok-Djarot semakin meredup.
Jika Ahok-Djarot kalah dalam Pilgub DKI, Presiden Jokowi harus ikhlas dan legowo melepaskan Ahok sebagai 'beban' bagi dirinya. Supaya bisa tenang dan fokus menatap Pilpres 2019 yang akan datang. Sebagai salah satu pendukung utama Presiden Jokowi jauh sebelum Pilpres 2014 lalu, Saya mengingatkan dan mengharapkan Presiden Jokowi segera melakukan kalkulasi politik yang realistis dan rasional. Presiden Jokowi perlu selalu mengingat rekomendasi yang sudah pernah Saya sampaikan kepada Jenderal (Purn) Luhut B. Panjaitan serta Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, jauh sebelum Pilpres 2014 dulu.

Johan O Silalahi
Doctor of Law (JD), Banking, Corporate, Finance, and Securities Law, Universitas Padjadjaran, President of Directors JCapital, Presiden Negarawan Center






