Kepolisian mengatakan gunakan "informasi intelijen" yang menyebut aktor-aktor politik berada di belakang kerusuhan yang terjadi pasca aksi damai demo 4 November.
Dugaan keterlibatan aktor politik itu, disampaikan Presiden Joko Widodo dalam keterangan pers Jumat tengah malam, dengan menyebutkan kerusuhan yang terjadi setelah unjuk rasa damai dimanfaatkan oleh aktor politik.
"Itu menjadi bagian yang kami cermati dan selidiki, " jelas Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Boy Rafli Amar. "Yang jelas itu bagian dari kegiatan-kegiatan deteksi dini dan intelijen... tentu aparat mencermati aktivitas itu," tambah dia.
Namun, Boy tidak menjelaskan bagaimana penyelidikan akan dilakukan oleh kepolisian.
Sementara itu, Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan dalam aksi yang terjadi jelas terlihat aktor-aktor kunci yang menyebarkan pesan kebencian.
"Demokrasi juga mempunyai rule yg jelas untuk menindak setiap orang yg melakukan aksi-aksi kekerasan, provokasi, penghasutan, dan penyebaran kebencian (hate speech) yg memanifes menjadi kejahatan kebencian (hate crime) dalam bentuk anarkisme. Sebagai negara hukum, aktor lapangan dan aktor di balik layar mutlak diproses secara hukum, " jelas Hendardi dalam keterangan tertulisnya.
Polisi telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga merupakan provokator aksi kekerasan yang berlangsung usai demonstrasi damai pada Jumat (04/11).
Kepolian mengatakan dalam demonstrasi itu memang massa terbagi dua, ada massa yang ingin terlibat aksi damai, tetapi juga ada yang berniat untuk rusuh.
