Skandal "Trio National-Sozialistischer Untergrund (NSU)" di Jerman sempat membuat heboh publik. Anggota kelompok ini melakukan rangkaian pembunuhan terhadap warga migran di Jerman selama bertahun-tahun, tanpa terungkap oleh pihak intelijen dan kepolisian. Kanselir Jerman Angela Merkel kemudian perlu meminta maaf kepada para korban dan keluarganya, warga migran di Jerman, yang tidak mendapat jaminan keamanan sebagaimana mestinya.
Isu sosialisme tiba-tiba jadi sulit "disosialisasikan", sementara derap globalisasi dan ideologi kapitalisme plus liberalisme kanan makin mendominasi kegiatan ekonomi.
Di Indonesia, bangkitnya ekstremisme kanan muncul dalam varian yang lebih berbahaya, karena bercampur dengan ideologi fasisme agama ala Taliban dan ISIS. Bermunculan banyak orang yang kelihatannya "bisa menerima" wacana ekstrem kanan, termasuk jargon-jargon 2B2P yang umum di kalangan militan: Bakar, Bunuh, Potong (tangan) dan Penggal (kepala).
Sangatlah aneh, ketika para gembong ekstrem kanan meneriakkan hak-hak kebebasan berekspresi, sementara mereka dikenal sering menyerbu acara-acara yang tidak mereka setujui atau menghancurkan toko-toko, tanpa tersentuh oleh hukum.
Ketimpangan wacana dan "pembelaan" terhadap agenda ekstremisme kanan ini, jika tidak dihadapi dan dijawab dengan serius, akan punya dampak panjang dan suram terhadap perkembangan demokrasi dan penghormatan hak-hak asasi di Indonesia. Jika itu yang terjadi, maka senjapun akan turun untuk waktu yang sangat lama di Bumi Nusantara.
"Jadi kalau seandainya ada yang menuntut dan meminta Pak Presiden untuk memenjarakan saudara Basuki Tjahaja Purnama itu berarti membuat presiden salah dalam mengintervensi teknis dalam penegakan hukum," sambungnya.
Editor Deutsche Welle Hendra Pasuhuk dan Editor Galaberita Siti Rahmah
