Pengemis dan gelandangan yang masih banyak ditemui di Jakarta tak dijumpai lagi di Surabaya. Risma dianggap telah menarik perhatian nasional dan internasional karena mempromosikan penuh semangat humanis, kebijakan sosial ekonomi, dan lingkungan di kota terbesar kedua di Indonesia.
Sejak menjadi Wali Kota Surabaya tahun 2010 silam, Tri Rismaharini bekerja keras tanpa mengenal waktu, membuat Surabaya menjadi lebih nyaman dan bersih. Salah satunya, membersihkan gelandangan, pengemis maupun pengamen di tiap-tiap traffic light.
Untuk menangani hal tersebut, Risma meminta pada Satpol PP Surabaya membuat tim khusus yang bertugas mengintai keberadaan gelandangan, pengamen, pengemis, dan orang gila kemudian mengamankannya.
Tim khusus itu ada dua yakni, Tim Kaypang yang bertugas khusus melakukan pengintaian terhadap gelandangan, pengamen, pengemis, dan orang gila. Kedua, tim Becak Air yang bertugas melakukan patroli menyusuri Sungai Kalimas dengan perahu karet untuk mengantisipasi masalah gelandangan yang ada di kolong jembatan.

Risma dianggap telah menarik perhatian nasional dan internasional karena mempromosikan penuh semangat humanis, kebijakan sosial ekonomi, dan lingkungan di kota terbesar kedua di Indonesia.
Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto mengatakan penanganan PMKS di Surabaya lebih mengedepankan tindakan non yudisial dan humanis. "Misal kita mengamankan pengamen anak. Bukan kita tangkap lalu kita bawa ke Liponsos. Tapi kita lakukan kerja sama dengan Dinas Sosial, jika tidak sekolah kemudian dibiarkan. Tapi bagaimana membuat mereka sekolah kembali," kata Irvan.
Kepala Dinas Sosial Supomo mengungkapkan gelandangan, pengemis dan pengamen yang tertangkap, tak cuma ditampung, tapi juga dididik. "Mereka ditempatkan di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih Surabaya dan ditangani perawat profesional sehingga mentalnya bisa disembuhkan," ujar Supomo.
