Wikileaks merilis puluhan ribu surat elektronik pribadi dari Berat Albayrak, salah seorang menteri senior Turki. Dalam bocoran surat elektronik ini, Albayrak, yang juga adalah menantu Presiden Recep Tayyip Erdogan, memiliki hubungan dengan sebuah perusahaan yang terkait dengan ladang minyak ISIS.
Berat Albayrak, salah satu sosok paling berpengaruh di Turki, diyakini tengah dipersiapkan sebagai penerus Erdogan.
Selain hubungan Albayrak dengan Powetrans, kumpulan surat elektronik itu juga membeberkan hubungan Albayrak dan Mehmet Ali Yalcindag, rekan bisnis presiden terpilih AS Donald Trump.
Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan, ia mempunyai data intelijen dan mendesak dunia internasional untuk menghentikan perdagangan minyak ilegal yang dilakukan oleh ISIS. Ia pun menunjukkan foto-foto yang diambil dari angkasa dan pesawat yang menunjukkan perdagangan ilegal produk minyak dan minyak bumi.
Tetapi, bagaimana cara minyak tersebut diekstrak, lalu siapa yang menyalurkan atau bertanggungjawab pada transportasi, dan siapa yang menjual? Siapa yang membeli? Dan bagaimana minyak itu bisa mencapai Israel?

Foto yang diambil dari pesawat yang menunjukkan perdagangan ilegal produk minyak ISIS.
Sebelum melintasi perbatasan, mafia perusak citra Islam ini mentransfer minyak mentah ke salah satu perusahaan minyak swasta, untuk diolah terlebih dahulu sebelum melintas ke Ibrahim Khalil, wilayah Turki perbatasan. Penyulingan sederhana ini diperlukan karena pemerintah Turki tidak mengizinkan minyak mentah menyeberangi perbatasan jika tidak ada lisensi dari pemerintah Irak.
Setelah tiba di Turki, minyak ini dikirimkan kepada seseorang yang disebut dengan nama alias Dr. Farid, atau Paman Farid.
Yang disebut Paman Farid adalah seseorang yang berusia 50 tahun, memiliki dua kewarganegaraan yaitu Israel dan Yunani. Ia selalu ditemani oleh beberapa orang pengawal dan mengendarai Jeep Cherokee berwarna hitam.
Setelah masuk ke Turki, minyak curian ISIS dibedakan dengan minyak yang dijual oleh Pemerintah Daerah Kurdistan. Meski demikian, keduanya disebut minyak ‘ilegal’,
Perusahaan yang membeli minyak dari Pemerintah Daerah Kurdi juga membeli minyak curian ISIS.
Setelah membayar para pengemudi, tengkulak, dan suap, ISIS mendapat sekitar 15 hingga 18 dollar per barrel. Dengan demikian, mereka mendapatkan rata-rata sekitar 19 juta dollar per bulan.
Paman Farid memiliki lisensi bisnis untuk melakukan ekspor-impor yang dia gunakan untuk menengahi kesepakatan antara mafia yang membeli minyak curian ISIS dan tiga perusahaan minyak yang mengekspor ke Israel.
Perusahaan ini membeli minyak selundupan, lantas mentransfer ke Israel melalui pelabuhan Turki yaitu Mersin, Dortyol dan Ceyhan.

Sebuah paper yang ditulis oleh George Kioukstsolou dan Dr Alec D Coutroubis dari University of Greenwich juga telah melacak perdagangan minyak di pelabuhan Ceyhan, dan menemukan beberapa korelasi antara keberhasilan operasi militer yang dilakukan ISIS dengan minyak-minyak di pelabuhan.
Pada bulan Agustus, Financial Times (FT) melaporkan bahwa Israel mendapatkan 75% suplai minyak dari Kurdi Irak. Lebih dari sepertiga ekspor tersebut telah melalui pelabuhan Ceyhan, dan FT menyebut bahwa Ceyhan adalah gerbang potensial untuk menyelundupkan minyak curian ISIS.
Lalu Israel, yang tidak memiliki kilang canggih, lantas melakukan pemurnian minyak sekali atau dua kali. Lalu minyak tersebut dijual ke negara-negara di kawasan Mediterania, dengan harga 30 hingga 35 dollar per barrel.
Minyak ini dijual dalam satu atau dua hari ke sejumlah perusahaan swasta. Sebagian besar minyak ini sampai ke kilang Italia yang dimiliki oleh salah satu pemegang saham terbesar di klub sepakbola Italia…
Israel memiliki cara untuk menjadi pemasar utama minyak ISIS. Tanpa mereka, minyak ISIS mungkin hanya akan tetap berada di Irak, Suriah, dan Turki. Bahkan, tiga perusahaan minyak tidak akan mau membeli minyak ini jika mereka tidak memiliki pembeli di Israel.
Pembayaran Minyak
ISIS menggunakan beberapa cara untuk menerima pembayaran dari minyak selundupan ini, dan biasanya, mereka menggunakan cara-cara yang kerap dipakai oleh jaringan kriminal internasional.
Pertama, ISIS menerima uang tunai (10-25%) dari total harga minyak dari para mafia yang beroperasi di sekitar perbatasan Turki.
Kedua, pembayaran dari perusahaan perdagangan minyak yang kemudian ditransfer dan disimpan ke akun bank di Turki. Pemilik rekening ini adalah orang Irak, dan kemudian melalui orang-orang seperti Paman Farid, dilakukan pencucian uang, lalu ditranfer ke Mosul dan Raqqa.
