Bercokolnya Vietnam di posisi 12 pada peringkat penilaian kemampuan pelajar internasional (Pisa) terkini merupakan prestasi yang menakjubkan.
Dalam penilaian yang dibuat Organisasi Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD) tersebut, siswa-siswi berusia 15 tahun dari Vietnam mampu memperoleh nilai lebih tinggi dalam pelajaran membaca, matematika dan ilmu pengetahuan ketimbang sejumlah pelajar-pelajar dari negara maju, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.
Padahal, tahun ini merupakan tahun pertama para pelajar Vietnam mengikuti penilaian internasional itu. Ini menjadi catatan prestasi mengejutkkan baik bagi para pejabat Vietnam maupun bagi pengamat luar.
Jadi apa resep performa Vietnam yang sangat baik?
Para pendidik di Vietnam telah merancang kurikulum yang terfokus agar siswa memperoleh pemahaman mendalam tentang konsep dan penguasaan keterampilan inti.
Bandingkan itu dengan kurikulum rumit namun dangkal yang biasa ditemukan di Eropa dan Amerika Utara dan Anda akan memahami mengapa begitu banyak siswa-siswa Vietnam unggul.
Siswa-siswa itu diharapkan untuk melalui pendidikan dengan tidak hanya mampu membaca apa yang mereka pelajari di kelas, tetapi menerapkan konsep-konsep dan praktik pada konteks asing.
Ruang-ruang kelas Vietnam memiliki kesan tegas, dengan guru-guru yang menantang siswanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut. Mereka berfokus mengajar beberapa hal dengan baik dan dengan pengertian yang bisa membawa siswa maju.
Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tenaga kerja Indonesia dinilai masih kalah jauh dibanding dengan Vietnam. Hal tersebut bisa menjadi alasan para investor asing untuk lebih memilih berinvestasi di Vietnam.
"Khususnya untuk sektor padat karya, harus diakui kita kalah oleh Vietnam," ujar Ketua Asosiasi Pedagang Indonesja (Apindo), Hariyadi Sukamdani.
Hal itu mengakibatkan Vietnam menjadi lebih menarik di mata Investor. Dalam hal keterampilan tenaga kerja, Indonesia dinilai masih rendah.
Imbasnya, adalah pada produktivitas tenaga kerja dan kualitas. Kata Hariyadi, walau tenaga kerja diVietnam dibayar lebih mahal, investor tetap tidak keberatan karena tenaga kerja di Vietnam akan jauh lebih produktif.
