Arab Saudi dilaporkan berencana membatalkan sepertiga dari proyek-proyek bernilai $ 20 miliar yang baru saja ditandatangani, karena sedang menghadapi masalah anggaran kerajaan yang semakin memburuk.
Menurut Bloomberg, ribuan proyek senilai $ 69 miliar sedang ditinjau. Proyek-proyek tersebut akan berdampak pada sektor transportasi, perumahan dan kesehatan.
Dalam rencana terpisah, termasuk penggabungan beberapa departemen pemerintah, The Financial Data dan perusahan media melaporkan dengan mengutip dari sumber-sumber yang akrab dengan masalah.
"Langkah-langkah yang diambil akan berdampak pada anggaran selama beberapa tahun," katanya.
.
Cadangan keuangan kerajaan menyusut sebanyak $ 12- $ 15 miliar per bulan karena harus mendanai belanja pemerintah dan perang di Yaman serta mendanai aktifitas proxy militer di tempat lain.
Di bawah penguasa baru, Arab Saudi telah melihat berkembangnya utang publik yang semakin berkembang, Bloomberg memperkirakan kenaikan sekitar 30% dari PDB pada tahun 2020.
Menghadapi krisis uang tunai, untuk pertama kalinya kerajaan berencana menerbitkan obligasi internasional awal bulan berikutnya yang bisa menaikkan cadangan sebanyak $ 10 miliar. Namun para ekonom mengatakan, bahwa langkah-langkah drastis yang dilakukan hanya sedikit menolong mengatasi krisis keuangan terburuk di negara itu dalam beberapa tahun.
Pada tahun 2015, Riyadh membuka saham untuk investasi asing langsung dalam rangka memikat dana dari luar negeri, namun investor asing kini hanya memiliki satu persen dari total saham senilai $ 400 miliar di bursa saham Tadawul.
Kegagalan telah mendorong penguasa Saudi bertindak lebih drastis, yaitu berencana untuk menjual saham di perusahaan Aramco yang merupakan perusahaan terkaya di dunia,
Sadarudin.
Sumber: Bloomberg




