• HOME
  • NEWS & FEATURES
    • OPINI
    • FEATURES
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • ENTERTAINMENT
    • SPORT
    • XLINK
      • DETIK
      • TEMPO
      • KOMPAS
      • BBC
      • DW
      • VOA
      • NATIONAL GEOGRAPHIC
      • YOUTUBE

Utang Rp 2,3 Triliun TVOne, ANTV, Vivanews

Hillary Clinton Mengalami Radang Paru-paru

Arab Saudi Setujui Penambahan Kuota Haji Indonesia

Makanan Pokok 1,3 Miliar Warga Tiongkok

Presiden Jokowi, Kami Menunggu Implementasi Janjimu.

Category Category: OPINI

Istri mendiang pejuang HAM Munir, Suciwati dan para pegiat HAM kembali mendesak pemerintah membuka hasil investigasi Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir. Berikut ini, Suciwati menyuarakan isi hatinya.


Siang itu tepat tanggal 19 April 2016, ketika Republik ini ramai membicarakan simposium penyelesaian tragedi 65, saya mendapat pesan elektronik dari seorang teman yang menghadiri acara tersebut. Dia mengirimi gambar acara dengan pesan “Ada Muchdi PR”.

Sebagai apa dia hadir disana? Pelaku Pelanggaran HAM? Teman saya hanya mengatakan banyak tokoh dan pejabat yang datang berpikir pragmatis. Mereka sibuk berbicara tentang 'memaafkan' kasus pelanggaran HAM berat, tidak hanya kasus 1965, tapi semua kasus pelanggaran HAM.

Membincang tentang memaafkan, sebagai keluarga atas kasus pembunuhan suami saya Munir, saya bingung dengan pernyataan para pejabat yang selalu berbicara harus memaafkan untuk semua kasus pelanggaran HAM.

Dalam kasus Munir saya diminta memaafkan para pelakunya. Pertanyaan saya hanya sederhana: Siapa yang perlu minta maaf? Pelakunya? Pelakunya itu siapa? Bahkan Pollycarpus yang jelas divonis empat belas tahun, lalu mendapat potongan menjalani hanya delapan tahun dan sekarang sudah bebas, pun tidak pernah meminta maaf atau penyesalan secuilpun.

Jadi, sebetulnya saya selalu ingin bertanya kembali pada para pejabat itu, sebetulnya siapa yang minta maaf itu? Presiden yang mewakili para pelanggar HAM atau khususnya pembunuh Munir? Jadi logikanya, Presiden tahu sebenarnya siapa pembunuh Munir. Kalau tahu, apakah dia sedang melindungi pembunuh Munir?

12 tahun menanti keadilan

Duabelas tahun penantian keadilan, penuntasan kasus pembunuhan Munir tak kunjung datang. Berbagai cara telah saya lakukan bersama para sahabat pecinta keadilan dan kebenaran. Bersama-sama terus mendorong kasusnya diselesaikan, lewat persidangan pidana sejak tahun 2005-2008.

Seiring dengan itu, perjuangan juga dilakukan lewat persidangan perdata, mekanisme Pengadilan Tata Usaha (PTUN) 2015, dan Komisi Informasi Publik (KIP), agar BIN membuka informasi tentang pengangkatan Pollycarpus sebagai anggota BIN serta surat penugasan Muchdi PR ke Malaysia pada tanggal 6 September 2004.Dan sekarang kami meminta KIP agar membuka rekomendasi temuan Tim Pencari Fakta (TPF) Munir. Sekaligus terus mengajak masyarakat peduli atas penegakan hukum dan HAM di Indonesia.

Dalam bulan ini saya mendapat jawaban dari Kementerian Sekretariat Negara (kemensesneg) atas permintaan saya untuk mempublikasikan hasil rekomendasi TPF Munir. Mereka menyatakan bahwa:

1) TIDAK MEMILIKI INFORMASI yang dimaksud;

2)TIDAK MENGETAHUI keberadaan informasi dan badan publik yang menguasai informasi yang dimaksud.

Kita dibodohi

 
Image result for pegiat ham munir

Apakah kembali lagi rejim ini mengulang kesalahan yang sama: membodohi kita, masyarakat, dengan jawaban-jawaban tanpa tanggung jawab? Sementara Presiden Jokowi dengan Nawacitanya berjanji akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Kami tahu betul bahwa TIM Pencari Fakta (TPF) Munir sudah menyerahkan secara resmi hasil penyelidikannya kepada Presiden RI pada tanggal 11 Mei 2005. Tentu saja saya akan terus menagih janji, siapapun presidennya, untuk menuntaskan kasus Pembunuhan Munir dengan mempublikasikan rekomendasi TPF Munir sebagai langkah awal.

Bekerjalah untuk Keadilan, Presiden Jokowi. Kami menunggu implementasi atas pernyataan dan janjimu.
 

Penulis:
 
Penulis: Suciwati

Suciwati, istri mendiang pejuang HAM Munir. Suciwati merupakan pegiat HAM dan ketua dewan pembina Museum HAM Omah Munir.
 
DW
ShareThis

Utang Rp 2,3 Triliun TVOne, ANTV, Vivanews

Hillary Clinton Mengalami Radang Paru-paru

Arab Saudi Setujui Penambahan Kuota Haji Indonesia

Amerika Serikat Menuju Kehancuran Finansial Total

Mereka Meyakini Dewa Tertinggi itu Bernama Allah

Mereka Meyakini Dewa Tertinggi itu Bernama Allah

Saya Setuju Tes DNA, Kata Ario Kiswinar Merespons Tantangan Mario Teguh

Saya Setuju Tes DNA, Kata Ario Kiswinar Merespons Tantangan Mario Teguh

Tidak Ada Perintah Tuhan Kepada Ibrahim Untuk Menyembelih Anaknya

Tidak Ada Perintah Tuhan Kepada Ibrahim Untuk Menyembelih Anaknya

.

  • facebook
  • google+
  • twitter
  • tumblr
  • Linkedin

Utang Rp 2,3 Triliun TVOne, ANTV, Vivanews

Hillary Clinton Mengalami Radang Paru-paru

Arab Saudi Setujui Penambahan Kuota Haji Indonesia

Makanan Pokok 1,3 Miliar Warga Tiongkok

Sebagian dari 229 Jemaah Haji yang Ditangkap di Arab Saudi Bakal Dideportasi

Ledakan Besar di Makassar, Puluhan Rumah dan Toko Rusak

Bentrokan Berdarah Dipicu Bupati Merampas Hak Pewaris Raja Gowa

Dalang Konflik Suriah, Rusia dan Amerika Serikat Berdamai

Reklamasi Pulau G Lanjut atas Arahan Jokowi, Luhut Cuma Bumper

Mereka Meyakini Dewa Tertinggi itu Bernama Allah

Mereka Meyakini Dewa Tertinggi itu Bernama Allah

Saya Setuju Tes DNA, Kata Ario Kiswinar Merespons Tantangan Mario Teguh

Saya Setuju Tes DNA, Kata Ario Kiswinar Merespons Tantangan Mario Teguh

Romo Yang Gemar Melintas Batas

Gatot Brajamusti dan Ritual Uh-oh-ihnya dengan Wanita

Gatot Brajamusti dan Ritual Uh-oh-ihnya dengan Wanita

Mahfudz Siddiq yang Enak eh Saya yang Diomelin, Kata Mahfud MD

Amerika Serikat Menuju Kehancuran Finansial Total

Tidak Ada Perintah Tuhan Kepada Ibrahim Untuk Menyembelih Anaknya

Tidak Ada Perintah Tuhan Kepada Ibrahim Untuk Menyembelih Anaknya

Anda Orang Jakarta atau Makassar?

Benarkah Paranoid Bisa Mengantarkan Anda Menuju Sukses?

Gaya Hidup Tepat Waktu Bangsa Swiss

Gaya Hidup Tepat Waktu Bangsa Swiss

  • Homearrow
  • NEWS & FEATURESarrow
  • OPINI

We have 155 guests and no members online

Powered by Helix
Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates
Goto Top
  • HOME
  • NEWS & FEATURES
    • OPINI
    • FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    •  
    • XLINK
      • DETIK
      • TEMPO
      • KOMPAS
      • BBC
      • DW
      • VOA
      • NATIONAL GEOGRAPHIC
      • YOUTUBE