Tahun ini calon jemaah haji dari Iran dilarang menunaikan ibadah haji setelah pada Mei lalu kedua negara gagal melanjutkan perundingan pengaturan haji. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan kecaman pedas kepada Arab Saudi. Ia juga menyuarakan kembali gagasan Imam Khomeini: pengelolaan Mekah dan Madinah sebaiknya ditangani organisasi Islam Internasional. Karena Mekah dan Madinah dinilai milik umat Islam internasional.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan menjelang Hari Raya Idul Adha, 12 September mendatang, Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa dunia Islam secara mendasar harus mempertimbangkan ulang pengelolaan ibadah haji.
"Karena tingkah laku para penguasa Arab Saudi yang opresif terhadap para tamu Allah, dunia Islam secara mendasar harus mempertimbangkan kembali manajemen dua tempat suci (Mekah dan Madinah) dan masalah penyelenggaraan haji," katanya dalam situs resminya pada Senin (05/09).
Ia lantas menyebut peristiwa berjejalan tahun lalu saat melempar jumrah di Mina.
Ratusan jemaah haji dari berbagai negara meninggal dunia dalam peristiwa itu, termasuk jemaah dari Iran dan Indonesia. Namun data dari sejumlah negara dilaporkan bahwa jumlah jemaah yang meninggal dunia lebih tinggi dibandingkan angka resmi pemerintah Arab Saudi.
AFP
Pemerintah Iran menyalahkan Arab Saudi atas peristiwa yang dianggapnya sebagai salah urus penyelenggaraan haji.
Tahun ini calon jemaah haji dari Iran dilarang menunaikan ibadah haji setelah pada Mei lalu kedua negara gagal melanjutkan perundingan terkait pengaturan haji.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menolak gagasan untuk menyerahkan pengelolaan ibadah haji tahunan kepada negara-negara Islam.
Penolakan gagasan itu disampaikan anggota senior keluarga Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal. Alasannya, pengelolaan ibadah haji di wilayah Saudi menyangkut soal kedaulatan dan “hak istimewa”.
Dari pengelolaan Haji dan Umroh, setiap tahunnya kerajaan Arab Saudi meraup perolehan dana sangat besar dari jutaan jemaah yang datang dari berbagai negara di dunia.
