Menu
  • HOME
  • NEWS & FEATURES
    • FEATURES
      • XLINK
        • DETIK
        • TEMPO
        • KOMPAS
        • BBC
        • DW
        • VOA
        • NATIONAL GEOGRAPHIC
        • YOUTUBE
        • BERITASATU
        • VIVA
        • METROTVNEWS
        • MERDEKA
        • CNN
        • OKEZONE
        • JPNN
    • OPINI
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • ENTERTAINMENT
    • SPORT

Warga Keturunan Tionghoa Terbelah soal Ahok

Category Category: NASIONAL

ahok, jakarta

Dua jam setelah persidangan yang mengadili Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok rampung, organisasi Muslim Tionghoa Indonesia (Musti) menggelar acara penghargaan untuk Rizieq Shihab, ketua Front Pembela Islam yang lantang menyuarakan agar Ahok dipenjarakan.



Kepala Muslim Tionghoa Indonesia (Musti), Jusuf Hamka, mengaku dirinya berseberangan pandangan dengan Ahok walau sama-sama keturunan Tionghoa.

"Kedekatan etnis saya sama Ahok, sama-sama Tionghoa. Tapi, itu bukan itu saya melihatnya. Saya melihatnya ini sebagai hak individu seseorang (untuk memilih). Tapi, bukan berarti dengan musuh Ahok, saya bermusuhan. Lalu, saya mesti berteman dengan temannya Ahok? Nggak juga," kata Jusuf.

Pria yang menjadi mualaf sejak 1981 lalu itu mempersilakan anggota organisasinya untuk bersekutu dengan Ahok atau membuat penghargaan untuk Ahok.

"Belajar mendidik mereka, bagaimana berdemokrasi dengan santun, dengan baik. Jangan karena orang musuh sama si anu, kita ikut-ikutan bermusuhan. Orang senang sama si anu, kita ikut-ikutan. Kemajemukan ini, kebhinekaan ini harus kita jaga benar-benar," ujarnya.

Sebagai seorang muslim dan keturunan Tionghoa, Jusuf mengaku tidak memiliki konflik di dalam batin ketika Ahok diadili terkait kasus penistaan agama Islam.

"Hanya saja, kalau ada yang keseleo-keseleo lidah, saya mengharapkan tidak berdampak pada Tionghoa-Tionghoa lain. Fokus saja secara hukum, selesaikan. Saya tidak ikut campur," ucap Jusuf.

jakarta, ahok, tionghoaImage copyrightACHMAD IBRAHIM/AP
Image captionBerdasarkan sensus Badan Pusat Statistik pada 2010, jumlah warga DKI Jakarta mencapai 9,6 juta orang. Dari jumlah itu, sebanyak 632 ribu di antara mereka merupakan warga etnis Tionghoa.


Dukungan etnis Tionghoa

Di sisi lain, walau kini Ahok tengah diadili dalam kasus penistaan agama, dukungan dari etnis Tionghoa tetap mengalir.

Lenny Kurniati, seorang etnis Tionghoa yang menjadi simpatisan Ahok, mengatakan dia dan keluarganya rela merogoh kocek pribadi demi menyokong Ahok. Namun, menurutnya, sikap itu bukan karena kesamaan latar belakang etnis.

"Ini bukan karena etnis, bukan karena agama, tapi karena clean government. Kalaupun Ahok bukan etnis Tionghoa, misalnya, kita tetap akan mendukung," kata Lenny.

Ketika ditanya apakah dia dan keluarganya akan tetap mendukung Ahok, meskipun pria asal Belitung itu sekarang menjalani persidangan, Lenny menyampaikan sebuah analogi.

"Sebuah sinar tidak akan padam hanya karena dalam kungkungan apapun, kendati kungkungan penjara yang harus dihadapi," ujarnya.

Lenny menyadari bahwa rata-rata keluarga Tionghoa di Indonesia, seperti keluarganya, tidak acuh dengan politik Indonesia lantaran diskriminasi yang dialami selama bertahun-tahun.

"Saya dari kecil merasakan prasangka, saya merasakan hidup sebagai minoritas, dengan pengalaman-pengalaman yang tidak enak. Dari kecil kita sudah mengalami begitu banyak pengalaman buruk. Jadi untuk kita bangga menjadi warga negara Indonesia, butuh waktu, benar-benar butuh waktu," kisahnya.

Namun, dia merujuk sosok Ahok sebagai pengubah sikap tersebut.

"Ahok telah maju beberapa langkah ke depan dan dia menjadi panutan, sebagai contoh buat kita bahwa kita bisa melakukan perubahan," tandasnya.

tionghoa, politik, jakarta, ahokImage copyrightACHMAD IBRAHIM/AP
Image captionSeorang warga keturunan Tionghoa menjalankan ibadah di rumahnya di Jakarta, pada 28 November 2016. Menurut pengamat politik Tionghoa, warga etnik Tionghoa bukan kelompok homogen sehingga mereka tidak serta-merta beraliansi menyokong figur politikus Tionghoa, seperti Ahok.


Aktif dalam politik

Penjelasan soal sikap politik warga Tionghoa dikemukakan Leo Suryadinata, peneliti politik yang banyak menulis buku soal warga Tionghoa di Indonesia, seperti "Dilema Minoritas Tionghoa" dan "Pemikiran Politik Etnis Tionghoa di Indonesia 1900-2002".

Menurutnya, warga Tionghoa makin aktif terlibat politik sejak Soeharto lengser pada 1998. Bagaimanapun, itu bukan berarti warga Tionghoa serta-merta beraliansi menyokong figur politikus Tionghoa, seperti Ahok.

"Warga Tionghoa itu bukan kelompok homogen. Mereka berbeda kelas, berbeda agama, berbeda kebudayaannya. Nilai-nilainya juga berbeda," kata Leo, yang kini menjadi peneliti Institute of Southeast Asian Studies di Singapura.

Hal ini juga menjelaskan mengapa ada pro dan kontra di antara warga Tionghoa terhadap Ahok.

"Warga Tionghoa yang mendukung Ahok mungkin punya kesamaan nilai, biarpun agamanya lain. Ada juga karena kepentingan kelas, kepentingan ekonomi, dan tidak mau ada bentrokan agama, mereka tidak mendukung Ahok," papar Leo.

Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik pada 2010, jumlah warga DKI Jakarta mencapai 9,6 juta orang. Dari jumlah itu, sebanyak 632 ribu di antara mereka merupakan warga etnis Tionghoa.

 
Jerome WirawanWartawan BBC Indonesia
Follow @LebihJelas
  • Presiden Jokowi Dinobatkan Jadi Raja Dayak
  • Teroris di Tangsel Melawan dengan Melempar Bom Sebelum Ditembak
Follow @LebihJelas

Developed in conjunction with Joomla extensions.

UGM Kembangkan Nusa Health, Layanan Kesehatan Berbasis Android

Bendahara MUI Fahmi Darmawansyah Ditahan KPK

Pelaku Serangan Teror Berlin Ditembak Mati di Italia

Gugatan AS atas Pemerintah Indonesia yang Lindungi Petani Dikabulkan WTO

ISIS Membakar Hidup-hidup Dua Tentara Turki

Jokowi Jelaskan soal Jumlah Tenaga Kerja Cina di Indonesia

Berapa Sebenarnya Jumlah Tenaga Kerja Cina yang Masuk ke Indonesia?

Apakah Anda Mau Menikah dengan Robot?

Sajak Malam Kudus Ditulis Setelah Letusan Hebat Gunung Tambora

Bolehkah Saya Sentuh Kepala Presiden?

Peran Ibu di Balik Kesuksesan Bill Gates

Mendapatkan Pekerjaan Impian Lalu Membencinya

Siapakah Penemu Lampu Lalu Lintas?

Santa Claus Lahir di Turki, Dikenal Sebagai Saint Nicholas dari Myra

Dari Sebuah Pelana Kuda, Hermes Menjadi Sentuhan Mewah ala Prancis

Membacakan Buku Meningkatkan Kinerja Otak Balita

Apakah Anda Mau Menikah dengan Robot?

Sajak Malam Kudus Ditulis Setelah Letusan Hebat Gunung Tambora

Bolehkah Saya Sentuh Kepala Presiden?

Peran Ibu di Balik Kesuksesan Bill Gates

Mendapatkan Pekerjaan Impian Lalu Membencinya

Siapakah Penemu Lampu Lalu Lintas?

Santa Claus Lahir di Turki, Dikenal Sebagai Saint Nicholas dari Myra

Dari Sebuah Pelana Kuda, Hermes Menjadi Sentuhan Mewah ala Prancis

Membacakan Buku Meningkatkan Kinerja Otak Balita

Bisakah Otak Berkembang Setelah Usia Dewasa? Bisa, Ini Caranya

Apakah Engkau Seorang Pengekor atau Pemimpin?

Masyarakat Semut yang Gigih Pantang Menyerah

Jantung Mempengaruhi Baik atau Buruknya Pikiran dan Perbuatan Kita

Budaya Kebebasan Berinovasi di Silicon Valley

Drama Cinta Sutan Sjahrir dengan Nyonya Belanda

Misteri Deja Vu Akhirnya Terpecahkan

Apa Biang Kekalahan Napoleon di Pertempuran Waterloo?

Fatwa-Fatwa yang Malah Memelorotkan Keagungan Tuhan

Ini Sebab Mengapa Mr P Tidak Punya Tulang

Ketika Soekarno Menjalin Cinta dengan Istri Seorang Pengurus Sarekat Islam

Banyak Dibaca

Perang Narkoba di Filipina dan Cara Cepat Menjadi Gila

Give Me a Call, Kata Prabowo Subianto Kepada Luhut Pandjaitan

Aksi Bela Islam Telah Menipu Rakyat, Kata Ketua PP Muhammadiyah

Ridwan Kamil: Hari ini Kita Diuji, Bersyukurlah Kita Punya Pancasila

Demi Menyusui Pacarnya Tiap Dua Jam, Wanita Ini Berhenti Bekerja

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Pembuat isu SARA itu Ahok sendiri, kata Boy Sadikin

Dewan Kesepian Jakarta: Menjadi jomblo dan tetap baik-baik saja

Peran Jokowi dan Sunny Tanuwijaya dalam Akrobat Politik Ahok

Generasi Tanpa Ayah, Anak-Anak yang Terlahir dari Wisata Syahwat

Pergilah Lebih Tinggi, Lihatlah Jiwa Manusia

Mereka Meyakini Dewa Tertinggi itu Bernama Allah

Buya Syafii Maarif: Penjarakan Ahok Selama 400 Tahun

Atas Nama Kekuasaan dan Syahwat

Orang Ambivert adalah Ekstrovert sekaligus Introvert

Gusti Allah Diajak Kampanye Kebangetan Tenan, Kata Gus Mus

Islam Gincu versus Islam Garam Bung Hatta

Beginilah ISIS Jual Minyak Curian Ke Israel via Turki

Makam Yesus Dipercayakan Kepada Keluarga Muslim, Kenapa?

Ini 8 Diktator Paling Kejam dalam Sejarah Dunia

Erdogan dan Gulen, Kawan yang Berubah jadi Lawan

Rusia Kelebihan Wanita, Bila Anda Berminat ada Wife Tours

Gatot Brajamusti dan Ritual Uh-oh-ihnya dengan Wanita

Pertanyaan Soekarno yang Memicu Merumuskan Dasar Negara Indonesia

Bu Guru Cantik Menggoda, Murid Menghamili Bu Guru

www.GALABERITA.com
World Trade Centre 5, Jl. Jendral Sudirman Kav. 29-31, Jakarta, 12920
[email protected]
  • Homearrow
  • NEWS & FEATURESarrow
  • NASIONAL
Powered by Helix
Copyright © GALABERITA 2016 Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates
Goto Top
  • HOME
  • NEWS & FEATURES
    • FEATURES
      • XLINK
        • DETIK
        • TEMPO
        • KOMPAS
        • BBC
        • DW
        • VOA
        • NATIONAL GEOGRAPHIC
        • YOUTUBE
        • BERITASATU
        • VIVA
        • METROTVNEWS
        • MERDEKA
        • CNN
        • OKEZONE
        • JPNN
    • OPINI
    • NASIONAL
    •  
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    •