Menu
  • HOME
  • NEWS & FEATURES
    • FEATURES
      • XLINK
        • DETIK
        • TEMPO
        • KOMPAS
        • BBC
        • DW
        • VOA
        • NATIONAL GEOGRAPHIC
        • YOUTUBE
        • BERITASATU
        • VIVA
        • METROTVNEWS
        • MERDEKA
        • CNN
        • OKEZONE
        • JPNN
    • OPINI
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • ENTERTAINMENT
    • SPORT

Mendapatkan Pekerjaan Impian Lalu Membencinya

Category Category: GAYA
Pilot


Banyak orang yang punya gambaran menarik tentang sesuatu pekerjaan, tetapi melupakan hal-hal kecil yang akan ikut serta ketika pekerjaan itu didapat.



Waktu masih kecil, saya suka binatang. Kegemaran ini tidak berubah ketika saya beranjak dewasa.

Alhasil, ketika ada kesempatan untuk istirahat sebentar dari pekerjaan jurnalistik, saya memutuskan untuk menjadi relawan di sebuah penangkaran hewan di Tasmania selama tiga bulan. Saya yakin sekali itu akan jadi pekerjaan impian saya.

Tapi realitas yang kemudian saya alami, sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Alih-alih menghabiskan waktu bermain bersama binatang dan berusaha mengerti mereka, saya malah menghabiskan delapan jam sehari berlari-lari di hutan, di tengah hujan, mengerjakan berbagai hal yang bahkan membuat hati saya sedih.

Banyak hewan yang saya tangani ditabrak mobil dan membutuhkan rehabilitasi. Saya memberi mereka makan, merawat mereka, berusaha agar saya tidak digigit dan memandikan mereka. Jika mereka mati, kami menguburkan mereka, saya ikut merasa sedih.

kebun binatangImage copyrightOLI SCARFF
Image captionBekerja di penangkaran hewan, mungkin terdengar menarik. Namun, apa yang terjadi di balik layar kadang tidak pernah kita bayangkan.


Bahkan pekerjaan saya juga meliputi berbagai hal di luar merawat hewan; salah satu tugas saya adalah membersihkan toilet umum. Apakah ini pekerjaan impian saya? Tentu tidak. Dan pengalaman saya ini ternyata juga banyak dialami orang. Mungkin termasuk Anda.

Saya kemudian mulai berpikir bahwa banyak hal-hal remeh-temeh yang ternyata harus ikut kita kerjakan ketika kita menjalankan pekerjaan yang diidam-idamkan. Dengan kata lain kita cenderung punya harapan yang tidak realistis bahwa pekerjaan baru akan membuat kita merasa berbeda, sesuai dengan pola bahwa lahan tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.

Lisa A Williams, profesor psikologi dari Universitas New South Wales di Sydney mengungkapkan situasi ini mirip dengan emosi ketika seseorang berpikir, memenangkan lotre akan membuat mereka bahagia. Namun, penelitian mengungkapkan kebahagiaan yang ditimbulkan karena menang lotre hanyalah sesaat.

Dalam kasus saya, ini berarti saya terlalu membiarkan emosi mempermainkan masa depan saya: saya hanya memikirkan bahwa saya kan bermain dengan binatang-binatang menarik dan melupakan soal pekerjaan fisik lainnya. Karena ketika kita didorong untuk mencari pekerjaan impian, kita hanya menyukai idenya, tetapi tidak realitasnya.


Membodohi diri


Itu pulalah yang terjadi pada Sue Arnold, 46, yang sudah lama bercita-cita ingin menjadi arkeolog. Arnold, yang berprofesi sebagai sekretaris di London menceritakan bagaimana dia sangat menggemari film-film klasik tentang mumi Tutankhamen dan persaingan untuk menemukan makam Firaun di Mesir. Dengan pemikiran itu, dia pun mendaftar untuk ikut serta melakukan penggalian di situs arkeologi di Dorset, Inggris.

Meskipun sejak awal dia sudah tahu tidak akan membuat sejarah dengan melakukan penggalian ini, dia tetap kecewa.
arkeologImage copyrightGETTY IMAGES
Image captionMenemukan artifak-artifak kuno mungkin menarik, tetapi apakah Anda memiliki keahlian lain yang dibutuhkan untuk menjadi arkeolog?

"Itu adalah salah satu minggu paling membosankan di hidup saya. Saya cuma mengotor-ngotori badan dengan tanah dan debu," ungkapnya.

Meskipun dia tidak menyesali pengalaman itu, dia kemudian menyadari bahwa dia tidak punya kesabaran yang diperlukan untuk pekerjaan arkeolog. Walau begitu, dia pun tetap suka membaca buku sejarah dan berencana berkunjung ke Mesir, sebagai turis.

Elliot Berkman, seorang calon profesor psikologi dari Universitas Oregon, Amerika Serikat mengungkapkan fenomena ini terkait dengan harapan dan ekspektasi kita.

"Orang secara umum tidak sebahagia yang mereka kira, ketika dia meraih mimpinya. Ini sebagian karena kita tidak siap dengan berbagai kerja keras yang dilakukan atau muncul bersama mimpi itu."
arkeologImage copyrightGETTY IMAGES
Image captionKita kerap hanya suka dengan gambaran tentang sebuah pekerjaan, tetapi tidak realitanya.

Apa yang membuat kita bahagia atau sedih itu adalah terkait perubahan yang terjadi dibandingkan sejak pertama kita memulai sesuatu. Menurut Beran, "Anda harus terus berubah supaya bisa terus bahagia."

Jadi, tidak mengejutkan kalau kita perlu mencoba dan mencari berkali-kali untuk menemukan pekerjaan yang tepat, ungkap Rachel Grieve, pengajar psikologi senior dari Universitas Tasmania. "Kebanyakan orang mengambil keputusan secara tidak rasional. Kita hanya bergantung pada instuisi dan apa yang terasa benar.

"Kalau cuma soal pilihan makan siang, tidak apa-apa. Namun, kalau ini terkait hal yang lebih besar, misalnya mengubah karir, maka lebih baik berpikir lebih tenang dan pelan, dan pertimbangkan masak-masak berbagai pilihannya."

Dinamika sosial


Kepuasan soal pekerjaan lebih terkait dengan dinamika sosialnya dari pada gelar atau titel, ungkap profesor psikologi, Alexander Haslam, dari Universitas Queensland.

"Jika Anda adalah dokter, mungkin Anda suka sekali dengan obat-obatan, tetapi jika Anda berujung di lingkungan kerja yang tidak nyaman, Anda tetap tidak akan merasa puas dengan pekerjaan tersebut," paparnya

Inilah perasaan yang banyak sekali dirasakan orang yang harus belajar dan bekerja ekstra keras supaya bisa bekerja di bidang hukum, salah satu profesi favorit di barat. Pekerjaan impian mereka berujung pahit.

"Karena hukum adalah bidang dengan lingkungan kerja yang kaku dan sangat kompetitif," kata Andrew Walker, yang bekerja di bidang hukum.

"Selama bertahun-tahun saya berpikir, bekerja di bidang hukum adalah pekerjaan yang seru, dan sekarang saya rasa seluruh pemikiran itu salah. Saya lebih ingin bekerja bersama orang di lingkungan yang dinamis dan tidak stres. Saya berpikir untuk pindah kerjaan."

Mengikuti kata hati

Dan bagi saya sendiri, tampaknya saya sudah terjebak di profesi jurnalisme ini. Saya memang rindu bertemu binatang di penangkaran, tetapi bukan berarti saya harus berganti profesi. Saya cuma perlu tinggal di alam, dan di dekat orang-orang yang peduli dengan alam dan lingkungan.
bayi hewan
Image captionPenulis Georgina Kenyon kini tinggal di pinggir hutan, tempat dia bisa melihat banyak hewan.

Seperti sekarang, saya tinggal di hutan Australia yang merupakan bagian dari situs dunia UNESCO. Sempurna untuk berjalan-jalan sore di semak sambil melihat binatang.

Jadi, ketika saya melihat ada iklan di koran lokal yang memperlihatkan penjaga kebun binatang sedang tersenyum, sambil memegang ember dan sapu, mengajak untuk bergabung mencoba profesi mereka, saya sudah tahu lebih banyak.

Mimpi dan pekerjaan kadang tidak harus berjalan bersamaan.
 
 
Georgina KenyonBBC Capital
Follow @LebihJelas
  • Apakah Anda Mau Menikah dengan Robot?
  • Ketika Media Sosial Menjadi Pasar Wisata Syahwat
Follow @LebihJelas

Developed in conjunction with Joomla extensions.

Donald Trump Tunjuk Penasihat Ekonomi Anti-Cina

Kekuatan Baru Ekonomi RI: Waralaba

UGM Kembangkan Nusa Health, Layanan Kesehatan Berbasis Android

Bendahara MUI Fahmi Darmawansyah Ditahan KPK

Pelaku Serangan Teror Berlin Ditembak Mati di Italia

Gugatan AS atas Pemerintah Indonesia yang Lindungi Petani Dikabulkan WTO

ISIS Membakar Hidup-hidup Dua Tentara Turki

Kawin Cara Elang, Sambil Berduet Salto Terjun ke Bumi

Gus Dur: Universalisme dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam

Apakah Anda Mau Menikah dengan Robot?

Sajak Malam Kudus Ditulis Setelah Letusan Hebat Gunung Tambora

Bolehkah Saya Sentuh Kepala Presiden?

Peran Ibu di Balik Kesuksesan Bill Gates

Mendapatkan Pekerjaan Impian Lalu Membencinya

Siapakah Penemu Lampu Lalu Lintas?

Santa Claus Lahir di Turki, Dikenal Sebagai Saint Nicholas dari Myra

Kawin Cara Elang, Sambil Berduet Salto Terjun ke Bumi

Gus Dur: Universalisme dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam

Apakah Anda Mau Menikah dengan Robot?

Sajak Malam Kudus Ditulis Setelah Letusan Hebat Gunung Tambora

Bolehkah Saya Sentuh Kepala Presiden?

Peran Ibu di Balik Kesuksesan Bill Gates

Mendapatkan Pekerjaan Impian Lalu Membencinya

Siapakah Penemu Lampu Lalu Lintas?

Santa Claus Lahir di Turki, Dikenal Sebagai Saint Nicholas dari Myra

Dari Sebuah Pelana Kuda, Hermes Menjadi Sentuhan Mewah ala Prancis

Membacakan Buku Meningkatkan Kinerja Otak Balita

Bisakah Otak Berkembang Setelah Usia Dewasa? Bisa, Ini Caranya

Apakah Engkau Seorang Pengekor atau Pemimpin?

Masyarakat Semut yang Gigih Pantang Menyerah

Jantung Mempengaruhi Baik atau Buruknya Pikiran dan Perbuatan Kita

Budaya Kebebasan Berinovasi di Silicon Valley

Drama Cinta Sutan Sjahrir dengan Nyonya Belanda

Misteri Deja Vu Akhirnya Terpecahkan

Apa Biang Kekalahan Napoleon di Pertempuran Waterloo?

Fatwa-Fatwa yang Malah Memelorotkan Keagungan Tuhan

Banyak Dibaca

Perang Narkoba di Filipina dan Cara Cepat Menjadi Gila

Give Me a Call, Kata Prabowo Subianto Kepada Luhut Pandjaitan

Aksi Bela Islam Telah Menipu Rakyat, Kata Ketua PP Muhammadiyah

Ridwan Kamil: Hari ini Kita Diuji, Bersyukurlah Kita Punya Pancasila

Demi Menyusui Pacarnya Tiap Dua Jam, Wanita Ini Berhenti Bekerja

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Pembuat isu SARA itu Ahok sendiri, kata Boy Sadikin

Dewan Kesepian Jakarta: Menjadi jomblo dan tetap baik-baik saja

Peran Jokowi dan Sunny Tanuwijaya dalam Akrobat Politik Ahok

Generasi Tanpa Ayah, Anak-Anak yang Terlahir dari Wisata Syahwat

Pergilah Lebih Tinggi, Lihatlah Jiwa Manusia

Mereka Meyakini Dewa Tertinggi itu Bernama Allah

Buya Syafii Maarif: Penjarakan Ahok Selama 400 Tahun

Atas Nama Kekuasaan dan Syahwat

Orang Ambivert adalah Ekstrovert sekaligus Introvert

Islam Gincu versus Islam Garam Bung Hatta

Gusti Allah Diajak Kampanye Kebangetan Tenan, Kata Gus Mus

Beginilah ISIS Jual Minyak Curian Ke Israel via Turki

Makam Yesus Dipercayakan Kepada Keluarga Muslim, Kenapa?

Ini 8 Diktator Paling Kejam dalam Sejarah Dunia

Erdogan dan Gulen, Kawan yang Berubah jadi Lawan

Rusia Kelebihan Wanita, Bila Anda Berminat ada Wife Tours

Gatot Brajamusti dan Ritual Uh-oh-ihnya dengan Wanita

Pertanyaan Soekarno yang Memicu Merumuskan Dasar Negara Indonesia

Bu Guru Cantik Menggoda, Murid Menghamili Bu Guru

www.GALABERITA.com
World Trade Centre 5, Jl. Jendral Sudirman Kav. 29-31, Jakarta, 12920
[email protected]
  • Homearrow
  • NEWS & FEATURESarrow
  • GAYA
Powered by Helix
Copyright © GALABERITA 2016 Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates
Goto Top
  • HOME
  • NEWS & FEATURES
    • FEATURES
      • XLINK
        • DETIK
        • TEMPO
        • KOMPAS
        • BBC
        • DW
        • VOA
        • NATIONAL GEOGRAPHIC
        • YOUTUBE
        • BERITASATU
        • VIVA
        • METROTVNEWS
        • MERDEKA
        • CNN
        • OKEZONE
        • JPNN
    • OPINI
    • NASIONAL
    •  
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    •