Aksi teror dari kelompok Islamis merupakan tantangan terbesar yang dihadapi Jerman, demikian Kanselir Jerman Angela Merkel dalam pesan Tahun Barunya.

Mengacu pada serangan truk yang mematikan di kota Berlin oleh seorang pencari suaka asal Tunisia, menurutnya, hal itu "menyakitkan" ketika aksi teror dilakukan oleh orang-orang yang mencari perlindungan.
Dia mengatakan, tahun 2016 merupakan tahun yang berat. Namun demikian Merkel juga mengatakan bahwa dirinya yakin Jerman bisa mengatasinya.
"Seperti kita menjalani hidup ini, kita harus beritahu kepada kaum teroris: 'Anda adalah pembunuh penuh kebencian, tapi Anda tidak akan menjadi penentu cara hidup kami dan kehendak hidup kami. Kami adalah orang-orang bebas, penuh perhatian dan terbuka'", kata Merkel.
Perhatian berbagai kota besar di seluruh dunia terfokus pada keamanan, untuk mengantisipasi kerumunan besar massa dalam perayaan menyambut Tahun Baru 2017.
Keamanan tambahan diberlakukan di banyak kota, karena serangan truk pada 19 Desember di sebuah pasar Natal Berlin yang menewaskan 12 orang dan serangan lainnya pada 2016.
Ibukota Jerman itu menambah perintang beton dan kendaraan lapis baja dekat gerbang Brandenburgh, tempat perayaan, guna melindungi orang-orang dari kendaraan.
Paris sekali lagi membatalkan kembang api di Menara Eiffel tahun ini, tetapi sebuah peragaan akan diselenggarakan di Champs Elysees, yang telah dibentengi oleh tentara bersenjata dan perintang.
Di pusat London, polisi yang dilengkapi senjata akan dikerahkan di kereta-kereta bawah tanah. Ini untuk pertama kalinya petugas dilengkapi senapan akan naik kereta bersama penumpang ke dan dari Trafalgar Square, serta pinggiran Sungai Thames guna memperingati tahun baru.
Di New York, pejabat telah mengerahkan puluhan truk sampah yang bermuatan pasir di sela-sela pencakar langit Times Square, Manhattan. Truk-truk itu berfungsi sebagai perintang sementara sekitar satu juta orang akan ikut dalam countdown atau hitungan mundur ke tahun baru.

Di Indonesia, bangkitnya ekstremisme kanan muncul dalam varian yang lebih berbahaya, karena bercampur dengan ideologi fasisme agama ala Taliban dan ISIS. Bermunculan banyak orang yang kelihatannya "bisa menerima" wacana ekstrem kanan, termasuk jargon-jargon 2B2P yang umum di kalangan militan: Bakar, Bunuh, Potong (tangan) dan Penggal (kepala).
Sangatlah aneh, ketika para gembong ekstrem kanan meneriakkan hak-hak kebebasan berekspresi, sementara mereka dikenal sering menyerbu acara-acara yang tidak mereka setujui atau menghancurkan toko-toko, tanpa tersentuh oleh hukum.
Dalam konteks demo 4 November, kaum fasisme agama ala Taliban dan ISIS di Indonesia ini, mendapat angin segar dari para ambisius politik, pecundang politik, pengangguran politik, para pedagang agama, dan para koruptor kakap. Mereka saling memanfaatkan untuk kepentingannya masing-masing. Bersatu padu meski palsu.

