Densus 88 mendapat pujian pengamat internasional dalam keberhasilannya menangkal gelombang serangan berdarah di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini.
Indonesia telah menggagalkan sedikitnya 15 serangan tahun ini saja, dan melakukan lebih dari 150 penangkapan.
"Densus 88 telah menjadi pasukan anti-terorisme terbaik di dunia," kata Greg Barton, profesor ahli terorisme dan Politik Islam Global di Alfred Deakin Institute di Melbourne.
"Mereka memiliki beban kerja yang luar biasa berat dan mereka telah menjadi sangat baik dengan apa yang mereka lakukan," ujarnya.
Dalam enam tahun terakhir, telah ada hanya satu serangan besar di Indonesia yang menyebabkan kematian warga sipil, ketika penyerang memukul mal Jakarta dan polisi posting dengan tembakan dan bom, yang mengakibatkan kematian tiga warga Indonesia dan dual Aljazair-Kanada nasional. Semua empat penyerang juga tewas dalam serangan Januari 2016.
Antara tahun 2002 sampai 2009, ada sembilan serangan besar oleh militan, meninggalkan 295 tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Densus 88 banyak melakukan kerja intelijen dengan infiltrasi dan pemantauan chat room, media sosial dan aplikasi messaging populer.
"Kami membangun organisasi kami untuk belajar dari musuh," kata seorang perwira senior kontra-terorisme Densus 88, sambil meminta merahasiakan namanya.
Densus 88 memiliki sekitar 400 sampai 500 anggota, state-of-the-art persenjataan. Unit ini dipimpin oleh gugus tugas inti 30 atau lebih anggota senior.
"Banyak dari mereka memiliki gelar doktor dan memiliki spesialisasi seperti psikologi dan perilaku sosial," tambah sumber tersebut. "Mereka tidak seperti polisi biasa."
Sidney Jones, direktur Institute for Policy Aanalysis Konflik (IPAC), mengatakan kunci keberhasilan Densus 88 terletak pada kepiawaian pengumpulan informasi intelijen.
"Mereka tahu jaringan radikal dan memiliki secara rapi set informan," katanya. "Hal ini tak tertandingi dalam hal kemampuannya untuk memahami sumber kemungkinan ancaman." imbuhnya.

