Gülen pernah menjalin kerjasama dengan Erdogan dalam membangun politik Islam di Turki. Bahwa kedua tokoh ini memiliki keunggulannya masing-masing, tak dapat dipungkiri dunia internasional. Mereka telah mencatat sejarah membumikan nilai-nilai Islam.
Tak ada teman abadi di dunia politik. Pemeo ini tepat untuk melukiskan hubungan Presiden Recep Tayyip Erdogan (62) dan ulama pendiri gerakan Hizmet, Muhammed Fethullah Gülen (75). Awalnya, hubungan keduanya sangat harmonis. Kedekatan kedua tokoh Turki ini diawali dari dukungan Gullen yang merupakan ulama moderat terhadap pencalonan Erdogan untuk menjadi presiden.
Gulen menjalin kerjasama dengan Erdogan dalam membangun politik Islam di Turki. Syarif Thagian dalam biografinya tentang Erdogan menilai, meskipun Necmettin Erbakan dianggap sebagai guru besar politik Erdogan, pengalaman Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP) dalam pemerintahan menunjukkan, Gulen merupakan guru sejati Erdogan dan guru spiritual bagi AKP.
Menurut Gulen, di negeri-negeri demokratis dan sekuler justru 95 persen prinsi-prinsip ajaran Islam dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, kata Gulen, tak ada manfaatnya untuk memperjuangkan sisa yang hanya lima persen itu.
Dia menulis artikel di harian Washington Post sehari setelah tragedi 11 September di New York yang menewaskan ribuan orang. Dalam artikel itu Gulen menyebut seorang Muslim tak bisa menjadi teroris dan seorang teroris bukan Muslim sejati. Dalam artikel yang sama dia juga mengecam apa yang disebutnya "pembajakan Islam" oleh para teroris.
Gülen memang sempat berbeda pandangan dengan AKP atas pilihan gerakan dengan simbol Islam, Gerakan Gülen semakin meredup terhadap partai-partai Islam seiring naiknya AKP ke puncak kekuasaan. Hubungan keduanya kemudian membaik dan mampu menggalang kerjasama. Hal inilah yang menambah kekhawatiran kelompok Kemalist Ultra Nasionalis terhadap kehadiran dua tokoh berpengaruh bagi Islam di Turki: AKP dan Gerakan Gülen. [Syarif Thagian, Erdogan: Muadzin Istanbul Sekularisme Turki, Pustaka Al Kautsar: Jakarta, 2012]
Bagaimanapun, Erdogan dan Gülen adalah kekuatan politik yang besar di Turki. Mereka telah mencatat sejarah membumikan nilai-nilai Islam.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)
Puncaknya, hubungan keduanya semakin rusak setelah terungkapnya skandal korupsi yang melibatkan elite partai AKP termasuk putra Erdogan pada tahun 2012 lalu. Saat itu, seperti dilaporkan Reuters, massa oposisi mendesak Erdogan mundur, tetapi pemimpin Turki sejak 2003 ini menolak. Bahkan, dia menuding, aksi massa oposisi tersebut merupakan konspirasi asing.
Meski saat itu Erdogan tak menyebut nama, pihak asing yang dimaksudnya itu adalah ulama moderat Turki Fethullah Gulen yang pengikutnya mencapi 10 persen dari total populasi warga Turki. Banyak institusi penting di Turki, termasuk lembaga peradilan dan militer, pro-Gullen. Hal inilah yang membuat Erdogan menuding Gullen sebagai pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahannya lewat membongkar skandal korupsi di elite AKP.
