Melalui siaran pers yang dirilis di laman Kedutaan Besar Turki untuk Indonesia, Kamis (28/7/2016) Pemerintah Turki menyebutkan ada sembilan lembaga pendidikan di Indonesia yang terkait dengan Fethullah Gulen. Pemerintah Turki menyebutnya Organisasi Teroris Fethullah (FETO). Pemerintah Turki meminta Pemerintah Indonesia menutup sekolah-sekolah itu.
Ada dua lembaga yang terkait dengan Gulen. Pertama, Pasiad--Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association. Lembaga ini bekerja sama dengan pihak-pihak Indonesia mendirikan sejumlah lembaga pendidikan yang dikenal dengan Sekolah Indonesia-Turki. Ada Sekolah Pribadi Depok, Pribadi Bandung, Kharisma Bangsa Tangerang Selatan, Semesta Semarang, Kesatuan Bangsa Yogyakarta, SBBS Sragen, Fatih Putra Aceh, Fatih Putri Aceh, dan Sekolah Banoa Kalimantan Selatan.
Dari sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia ini banyak muncul anak-anak Indonesia yang menjuarai olimpiade sains tingkat internasional. Selain pendidikan, Pasiad juga memfungsikan diri sebagai jembatan antara pengusaha Indonesia dan Turki.
Lembaga yang kedua adalah Gulen Chair. Yang terakhir ini telah lama bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, Gulen Chair juga bekerja sama dengan penerbit di Indonesia untuk menerbitkan buku-buku karya Gulen.
Buku-bukunya yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia antara lain: Jalan Terbaik dalam Berpikir dan Menyikapi Hidup, Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: Menjawab Pertanyaan dan Kebutuhan Manusia, Cahaya Al-Qur’an bagi Seluruh Makhluk, Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia, Bangkitnya Spiritualitas Islam, dan Tasawuf untuk Kita Semua.
Meskipun pandangan-pandangan keislaman Gulen--jalan sufi sebagaimana tampak dari sejumlah judul bukunya--sesuai dengan masyarakat Islam di Indonesia, para pengikutnya tidak pernah menampilkan diri sebagai kiai atau ustaz. Penampilan mereka pun biasa saja - ngepop plus tak berjenggot.
Mereka juga tidak menyelenggarakan ceramah-ceramah agama di masjid atau di tempat lain. Juga tak melibatkan diri dalam kegiatan politik. Kegiatan mereka lebih banyak di pendidikan, seni-budaya, dan sosial (bantuan kemanusiaan).
Muhammad Fethullah Gülen atau yang akrab disapa Hocaefendi, lahir di Korucuk, Erzurum - Turki Timur pada tanggal 11 November 1938. Ia merupakan sosok ulama kharismatik dan paling berpengaruh di Turki bahkan di berbagai kawasan di dunia saat ini.
Pendidikan dasarnya dimulai sejak ia tinggal di daerah asalnya Erzurum. Sejak belia ia sudah menghafal al Qur’an dan belajar Ilmu Agama di sejumlah Madrasah. karier pertamanya sebagai seorang da’i bahkan telah dimulai sejak usianya 14 tahun. Ia juga secara autodidak mempelajari berbagai disiplin ilmu seperti fisika, kimia, biologi, geografi, filsafat, juga kesusastraan Timur dan Barat.
Kini meski ia tinggal di kota Pennsylvania - Amerika Serikat, gerakan-gerakannya serta pemikiran-pemikirannya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Ajarannya tentang Hizmet (pelayanan terhadap umat manusia) telah menarik perhatian tokoh-tokoh penting di berbagai penjuru dunia.
Salah satu tujuan utama dari Gülen adalah untuk mencapai nilai-nilai universal dan ia percaya hal ini menjadi penting untuk pengalaman manusia. Fethullah Gülen percaya bahwa pendidikan, cinta, saling menghormati, dan filantropi adalah satu-satunya pendekatan untuk membangun perdamaian dan harmoni di antara umat manusia. Jadi, salah satu faktor penting dalam meminimalkan konflik adalah menghormati umat manusia. Ini hanya dapat dicapai melalui informasi, interaksi, dan saling pengertian.

Hizmet sendiri berasal dari kata Arab khidmah atau pelayanan. Gerakan ini pada awalnya adalah jamaah sufi yang dipimpin Fethullah Gulen di Kota Izmir pada 1970-an. Waktu itu Gulen berkeliling dari kota ke kota dan dari masjid ke masjid. Ia memberikan ceramah. Ia juga aktif menulis. Tema yang dibawakan kebanyakan soal jalan hidup sufi.
Ia mengatakan, masjid sudah banyak, yang kurang adalah sekolah. Menurut dia, persoalan masyarakat Islam adalah kobodohan dan kemiskinan. Kuncinya adalah pada pendidikan. Karena itu, ia meminta kepada para anggota jamaahnya untuk mendirikan banyak sekolah. Tentu yang berkualitas. Sekolah-sekolah ini sebagai bentuk hizmet kepada masyarakat.
Hizmet tidak lama kemudian menjadi sebuah gerakan besar. Dari pendidikan lalu masuk ke pelayanan kesehatan dan kemudian bantuan sosial dan kemanusiaan. Untuk semua itu mereka membutuhkan dana yang besar. Karena itu, mereka, para pengikut Gulen, mendirikan Bank Asia. Sedangkan, para pengusahanya bergabung dalam sebuah grup bisnis yang bernama Tuskon (Turkish Confederation of Businessmen and Industrialists).
Di bidang media, mereka mengelola kantor berita Jehan, enam stasiun televisi, dan tiga radio. Sedangkan, untuk media cetak danonline, mereka mempunyai Grup Zaman yang menerbitkan koranZaman berbahasa Turki dan Today Zaman berbahasa Inggris, berikut dengan online-nya. Zaman juga cetak di negara-negara lain yang mempunyai komunitas berbahasa Turki. Sedangkan, di bidang pendidikan, Hizmet kini mengelola lebih dari 1.500 lembaga pendidikan di berbagai tingkatan dan 15 universitas yang tersebar di berbagai negara.
Tidak diketahui berapa kini jumlah pengikut Gulen. Namun, diperkirakan jumlahnya puluhan juta orang dari berbagai profesi. Dari guru, dosen, dokter, pengusaha, polisi, tentara, intelijen negara, hakim, pengacara, pegawai negeri dan swasta, hingga wartawan dan lainnya.
Pada 1999, Fethullah Gulen, mengasingkan diri ke Amerika Serikat. Ulama berusia 75-an tahun ini kemudian tinggal di daerah pegunungan di Pennsylvania, AS.
Di Turki, para pengikut Gulen memang tidak berpolitik. Dalam arti tidak bergabung dan tidak mendirikan partai politik. Namun, mereka tetap bekerja sama dengan berbagai partai politik, utamanya partai penguasa. Dengan langkah ini diharapkan mereka justru bisa mendapatkan berbagai keuntungan, termasuk jabatan-jabatan penting dan strategis di lembaga negara. Terutama di lembaga militer, kepolisian, kehakiman, dan intelijen negara. Apalagi mereka didukung oleh grup media.
Pengaruh Gulen yang besar seperti itulah yang kemudian memunculkan kekhawatiran bahwa suatu waktu mereka akan mengambil alih kekuasaan. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyebut Gulen dan pengikutnya sudah seperti negara di dalam negara. Bahkan, kekhawatiran itu kini telah berkembang menjadi tuduhan bahwa Gulen berada di balik kudeta gagal beberapa waktu yang lalu.
