Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari yakin bahwa Agus Harimurti Yudhoyono adalah orang yang pintar seperti ayahnya. Gaya pemerintahan Agus, jika menang, bisa diprediksi mirip dengan gaya SBY saat memimpin Indonesia. “Kalau menang, akan jadi calon presiden kuat,” kata dia.
Menurut Qodari, gaya kepemimpinan Agus dan Susilo Bambang Yudhoyono mirip. Ia melihat dari cara penyampaian Agus ketika berpidato. Ilmu dari SBY pun disebut telah diturunkan kepada putra sulungnya itu. Ia mengibaratkan Agus seperti pepatah: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengatakan keputusan Susilo Bambang Yudhoyono mengusung putranya, Agus Harimurti Yudhoyono, maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 adalah keputusan yang tepat.
Menurut Pangi, SBY memiliki pertimbangan yang cerdas dalam bermain politik. "Kita harus apresiasi keberanian SBY mengambil sikap tanpa ragu-ragu," katanya, Sabtu, 24 September 2016. "SBY lihai memainkan ayunan politik, ahli strategi, dan paham betul dengan dinamika global strategic environment," katanya.
Sementara itu di media sosial juga ramai diperbincangkan munculnya sosok Agus Yudhoyono menjadi Cagub DKI.
Seorang pengguna Facebook, Widjayanto berkomentar: "Kalo gak jadi gubernur kan bisa jadi petinggi partai, daripada di TNI hanya mentok jadi kolonel doang."

Pangi mengatakan langkah ini menjadi momentum untuk menyerahkan masa depan Demokrat ke tangan anaknya. Sebab, setelah SBY, dianggap belum ada sosok yang bisa menggantikannya di Demokrat. Tentu saja, lanjut Pangi, SBY tak main-main.
Partai Demokrat kini adalah partai keluarga milik dinasti SBY.
Dua pentolan Demokrat, Ruhut Sitompul dan Hayono Isman nampaknya merasa tak sanggup menjadi abdi dalem, merekapun berulah membangkang pada keputusan SBY.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman menyatakan dukungannya pada Ahok. Sedangkan Ruhut Sitompul sudah lebih dulu mengaku mendukung Ahok. Ia menyatakan siap dipecat atas sikap bersebrangan itu
Mungkin bagi Ruhut dan Hayono akan lebih gagah jika dipecat dibanding mengundurkan diri seperti Boy Sadikin yang hengkang dari PDIP menentang keputusan Megawati mengusung Ahok.
