Berulang kali Presiden Jokowi mengatakan: Tidak ada visi menteri, yang ada hanya visi presiden. Kabarnya beberapa menteri yang dicopot dalam perombakan kabinet yang baru lalu, adalah akibat tubrukan visi dengan presiden.
Akan halnya Arcandra Tahar, menteri tiga minggu, nampaknya bukan karena visi tetapi presiden dan lingkaran dekatnya kedodoran. Besar pasak visi dari tiang administratif.
"Sulit dimengerti kenapa istana bisa seperti itu. Mungkin Presiden tidak mendapat sumber valid dari "All the President's Men". Padahal negara punya semua instrumen untuk mengetahui itu," menurut mantan wakil ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso
Menurut Sekertaris Dewan Kehormatan Partai Golkar ini, umumnya diaspora yang memiliki keunggulan di banyak negara data lengkapnya ada pada lembaga intelijen. Dan Indonesia adalah negara besar, memiliki Badan Intelijen Negara.
"Saya melihat, BIN dibawah kepemimpinan Sutiyoso telah melakukan langkah-langkah koordinatif proaktif dengan instansi intelijen lainnya dalam fungsinya menjaga stabilitas keamanan negara," tutur Priyo.
Contohnya. kata Priyo, menyerahnya Din Minimi di Aceh, dan tertangkapnya buron BLBI Samadikun, adalah hasil kerja koordinatif yang rapi di era kebebasan dan berdemokrasi saat ini.
"Dalam rekam jejaknya, Sutiyoso juga dikenal sebagai prajurit yang sangat loyal kepada atasan, Ini penting," kata Priyo.
Hanya, "Sudah sebulan ini beredar rumor penggantian kepala BIN, yang memunculkan banyak spekulasi," ungkap Priyo. Apalagi di tengah rumor itu makin hot, presiden mengangkat dua staf khusus bidang intelijen.
"Publik jadi bertanya-tanya, ada apa presiden dengan kepala BIN," pungkasnya.
Presiden Jokowi tidak sepatutnya membiarkan kepala BIN terpanggang rumor seperti itu terlalu lama. Jika tidak ingin kedodoran lagi.
Sadarudin Bakri
