Baru-baru ini Politbiro Partai Komunis Tiongkok (PKT) meloloskan resolusi untuk memindahkan makam Mao Zedong dari lapangan Tiananmen. Tidak diragukan lagi hal ini mengindikasikan arah pemikiran sebenarnya dari elit partai terhadap Revolusi Kebudayaan dan sinyal De-Maoisasi.
Mao Zedong tidak hanya melalui gerakan satu babak demi satu babak telah mencelakakan secara kejam puluhan juta orang di daratan Tiongkok, dan dampak perusakan amat parah terhadap budaya dan masyarakat tradisional Tiongkok, terutama adalah Revolusi Kebudayaan yang diprakarsai olehnya, benar-benar telah ‘merevolusi’ (dibaca: memotong) ’’nyawa’ kebudayaan Tiongkok.
Lebih fatal lagi adalah, masyarakat dipaksa mencampakkan keyakinan dan ketaatan mereka terhadap ajaran Konfusianisme, Buddha dan Tao, tiga aliran agama yang telah menumbuhkan peradaban besar bagi masyarakat Tiongkok.
Mao juga menjalani kehidupan yang mesum dan glamor, ratusan wanita telah dinodai, sedangkan Yang Kaihui istri pertama Mao yang dipublikasikan berlebihan oleh PKT, ternyata telah meninggalkan surat terakhir sebelum ajal menjemput (di-eksekusi), yang bertutur tentang duka lara akibat cintanya dikhianati oleh Mao. Lebih-lebih telah membuka wajah asli Mao.
Namun, Mao yang sarat dengan kontroversi ini, setelah meninggal jenazahnya masih bisa dengan agung berbaring dan dipertontonkan di Mausoleum lapangan Tiananmen, Beijing. Bahkan pada 2012 ia masih termasuk prasasti (cagar budaya), ini benar-benar sebuah lelucon global. Lagi pula dipandang dari perspektif ilmu Feng Shui, mendirikan makam di garis tengah kota tua Beijing jelas bukan pertanda baik.
Setelah resolusi diloloskan, dalam pidato Xi Jinping yang diungkapkan ke publik bahwa masalah ‘Memorial Hall Mao’ cepat atau lambat harus diselesaikan, tidak bisa dengan alasan yang tidak wajar atau bahkan ilegal untuk terus dipertahankan. Ia selain itu juga mengutip kata-kata Deng Xiaoping yang pernah menyatakan bahwa membangun memorial hall adalah keputusan salah yang melanggar dengan serius resolusi terkait.

Rapat Politbiro Pusat PKT yang menyetujui resolusi seperti ini, meskipun kelihatannya luar biasa, namun hal itu sesuai dengan sinyal ‘De-maoisasi’ yang dilepaskan oleh pemerintah pada waktu-waktu sebelumnya. Seperti pada akhir 2013 Xi Jinping membatalkan Malam Renungan Mao dan menurunkan standar peringatannya, pada 2015 ketika Xi Jinping berkunjung ke AS, memberikan kepada siswa SMA Amerika buku karangan Yuan Tengfei seorang guru sejarah Tiongkok yang mengkritik Mao.

Juga sejak Maret tahun ini, situs www.caixin.com di Tiongkok yang berlatar belakang kubu Xi Jinping menerbitkan serial artikel yang menganalogikan zaman dulu dengan menjelaskan kejadian sekarang, yang menyangkal “Mentari Mao (pengkultusan Mao)” dan menyangkal Revolusi Kebudayaan, serta mengusulkan “Komite Fakta”, “Keadilan yang Bertransformasi” dan lain-lain.
Sejarah sudah menunjukkan, dan kini pengembalian wajah asli sejarah. Merenungkan kembali sejarah pasti akan menjadi bagian penting dalam menyambut perubahan besar Tiongkok di masa depan. Hanya dengan cara ini, baru bisa mendobrak banyak, dan Tiongkok baru akan sama sekali berbeda.
