Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) harus membayar lebih dari 1,3 juta dollar AS (Rp 17,2 miliar), untuk membayar jasa perusahaan Israel penyedia perangkat lunak forensik telepon seluler.
Kasus perseteruan FBI dan Apple itu, adalah membongkar enkripsi iPhone yang digunakan salah satu tersangka penembakan di San Bernardino, California, AS.
Kejadian tersebut membuat industri pengintaian rahasia Israel jadi sorotan banyak pihak. Negeri di pusaran konflik Timur Tengah ini dinilai mempunyai teknologi tercanggih di dunia dalam industri perangkat pengintaian.
Apple pun buru-buru memperbarui keamanan produknya setelah aktivis hak asasi manusia Uni Emirat Arab, Ahmed Mansoor, jadi target peretasan perangkat ”Pegasus”. Perangkat ini dikaitkan dengan perusahaan Israel, NSO Group, di Herzliya, Israel.
Menurut lembaga Privacy International dari Inggris, sekitar 27 perusahaan perangkat pengintaian bermarkas di Israel.
”Badan-badan pemerintah menggunakan teknologi pengintaian untuk tujuan ofensif, militer, dan spionase,” kata Privacy International.
Namun, ekspor produk-produk keamanan yang sensitif dari perusahaan-perusahaan itu harus seizin Kementerian Pertahanan Israel.
Daniel Cohen, pakar terorisme siber di Institut Studi Keamanan Nasional, Israel, mengatakan, kecanggihan Israel dalam memproduksi teknologi tersebut berasal dari militernya.
Meski sebagian besarnya menciptakan produk-produk perlindungan dari serangan siber. ”Kurang dari 10 persen perusahaan pada sektor siber menghasilkan teknologi untuk membobol sistem-sistem komputer,” ujar Cohen.
Menurut lembaga Privacy International dari Inggris, sekitar 27 perusahaan perangkat pengintaian bermarkas di Israel.
”Badan-badan pemerintah menggunakan teknologi pengintaian untuk tujuan ofensif, militer, dan spionase,” kata Privacy International.
Namun, ekspor produk-produk keamanan yang sensitif dari perusahaan-perusahaan itu harus seizin Kementerian Pertahanan Israel.
Daniel Cohen, pakar terorisme siber di Institut Studi Keamanan Nasional, Israel, mengatakan, kecanggihan Israel dalam memproduksi teknologi tersebut berasal dari militernya.
Meski sebagian besarnya menciptakan produk-produk perlindungan dari serangan siber. ”Kurang dari 10 persen perusahaan pada sektor siber menghasilkan teknologi untuk membobol sistem-sistem komputer,” ujar Cohen.
Ada peristiwa geger. Allot Communications, salah satu perusahaan di Israel, dengan harga fantastis menjual teknologi pemantau internet kepada Iran, rival abadi Israel.
Hal-hal seperti ini tentu sangat tidak diinginkan Pemerintah Israel. Tetapi Iran berani membayar harga fantastis.
AFP / Nina Fitri
