Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memastikan pihaknya sudah melakukan pengecekan terhadap sembilan sekolah yang disebut pemerintah Turki terkait organisasi Teroris Fethullah (FETO). Tuduhan itu dinilainya konyol.
Ia juga memastikan hubungan kesembilan sekolah itu dengan FETO tak lantas membuatnya mengajarkan hal yang salah, apalagi yang terkait dengan terorisme.
"Pihak sekolah sangat marah dia, apalagi dituduh sarang teroris, konyol sekali itu tuduhan-tuduhan. Enggak ada sama sekali tanda-tanda kekerasan, tanda-tanda teror di sana," kata Muhadjir di Jakarta, Senin (1/8/2016).
Ia memastikan pemerintah menolak permintaan Turki dan tak akan menutup sekolah-sekolah itu.
"Ada ribuan siswa di sana, dan itu sekolah unggul. Dan itu tidak ada uang dari Turki ke sini, siswa bayarnya mahal kok. Malah mungkin uang sini dibawa ke Turki itu," ucap Muhadjir.
Kedutaan Besar Turki telah mengeluarkan rilis yang meminta Pemerintah RI melakukan penutupan sekolah-sekolah terkait dengan jaringan FETO.
Melalui siaran pers yang dirilis di laman Kedutaan Besar Turki untuk Indonesia, Kamis (28/7/2016), diuraikan nama-nama kesembilan lembaga yang dimaksudkan tersebut, yakni Pribadi Bilingual Boarding School yang berada di Depok dan Bandung.
Lalu, Kharisma Bangsa Bilingual Boarding School di Tangerang Selatan, Semesta Bilingual Boarding School di Semarang, dan Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School di Yogyakarta.
Kemudian, Sragen Bilingual Boarding School di Sragen, Fatih Boy’s School dan Fatih Girl’s School di Aceh, serta Banua Bilingual Boarding School di Kalimantan Selatan.
Erdogan dan Gulen, Kawan yang Berubah jadi Lawan
Penulis : Ihsanuddin
Editor : Sandro Gatra
