Ibtihaj Muhammad adalah pemain anggar Amerika yang sangat terkenal. Dia adalah salah satu wajah dari tim AS di Olimpiade. Dia bahkan bersaing sebagai pembawa bendera pada upacara pembukaan Rio de Janeiro pada hari Jumat lusa dan akan menjadi keputusan simbolis sangat besar bagi delegasi AS.
Itu karena Ibtihaj Muhammad merupakan perempuan Muslim Amerika pertama yang memakai jilbab di Olimpiade. Arti semua ini, bahwa Ibtihaj bisa terpilih sebagai duta bangsa untuk berlaga di panggung dunia, benar-benar luar biasa disaat perempuan Afrika-Amerika yang memakai jilbab karena keyakinannya mengalami diskriminasi bahkan untuk menjadi atlit yang berlaga di arena olimpiade.
Setiap orang mengatakan partisipanya dalam olimpiade merupakan cerita mustahil. Yang paling luar biasa adalah peluangnya yang sangat besar sebagai pembawa bendera. Tapi bagaimana Ibtihaj sampai ke olimpiade Rio benar-benar luar biasa
Ibtihaj sebagai atlit anggar papan atas punya sikap berbeda dari atlit lainnya yang mewakili negaranya, Seorang atlit biasanya tahu apakah mereka akan terpilih menjadi atlit olimpiade pada saat mereka mendaftar ke perguruan tinggi. Karena mereka harus menghabiskan waktunya bertahun-tahun berjuang berebut menjadi tim AS untuk berlaga di seluruh dunia, dan sebagian besar dari karir mereka yang pendek telah dikhususkan untuk berjuang untuk menjadi bagian dari tim AS untuk berlaga di olimpiade
Tapi tak satupun yang percaya Ibtihaj akan menjadi seorang atlet olimpiade karena dia tak pernah mewakili AS dalam pertandingan cabang olahraga anggar pada tingkat internasional bahkan belum pernah bertanding di arena olimpiade
Sekarang, menjelang laga pertamanya di Rio, bersama 14 atlit anggar lainnya memulai perannya untuk tim AS. Beberapa dari mereka atlit anggar muda AS yang sangat bagus, Semuanya mempunyai pengalaman internasional kecuali Ibtihaj
"Benar-benar sangat jarang" kata pelatih anggar AS. "Tapi begitu cantik dalam perannya sebagai atlit AS
Perjalanan Ibtihaj menuju Rio sangat berliku. Lahir dan besar di pinggiran kota New Jersey, dia berlatih anggar di sekolah menengah, sebenarnya terlambat jika ingin berlaga di olimpiade.
Dia tertarik pada olahraga anggar karena harus mengenakan pakaian khusus yang bisa menyesuaikan dengan keyakinannya: lengan dan kaki tertutup oleh pakaian pelindung. Bahkan jilbab yang dikenakannya tersembunyi dibalik topeng pelindung yang dia cat dengan warna bendera Amerika.
Dia dengan cepat menyusul dalam kompetisi elit internasional ketika Ibtihaj lulus dari Duke College pada tahun 2007. Ini luar biasa bagi pemain anggar karena terpilih untuk mewakili AS di olimpiade pada usia itu. Dengan pengakuan sendiri, meskipun saat itu olimpiade tidak realistis bagi ibtihaj dalam lima tahun terakhir. Rio begitu jauh dari radar bahwa sampai saat itu dia tidak tahu bagaimana proses kualifikasi Olimpiade itu.
Ibtihaj saat ini berusia 30 tahun dan di usianya saat ini dia berpartisipasi dalam olimpiade untuk pertama kalinya, mengisyaratkan bagaimana kemunculannya tak terdengar. Satu-satunya Tim AS yang lebih tua dari Ibtihaj adalah legenda anggar perempuan Mariel Zagunis-dan sudah empat kali berlaga di olimpiade.
"Itu bukan mimpi saya," kata Muhammad dalam wawancara dengan The Wall Street Journal. "Bagi dia tampaknya itu merupakan mimpi dari orang-orang di sekitar saya."
Dodo Aditya
Sumber The Wall Street Journal
