Wakil Presiden AS Joe Biden bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk memperbaiki hubungan diantara kedua negara yang memburuk setelah upaya kudeta gagal bulan lalu
Profesor dan wartawan Dr. Bilal Sambur kepada Brian Becker dari Radio Sputnik mengatakan, bahwa meski pada pertengahan Juli terjadi peristiwa yang menyebabkan ketegangan, AS dan Turki tidak akan menyerah pada satu sama lain.
Menurut Sambur, kepentingan strategis kedua negara bertepatan di berbagai bidang, dan kunjungan Biden ke Ankara sangat penting dalam menentukan ke arah mana hubungan AS-Turki akan diambil.
"Jelas, Biden akan mengekspresikan dukungannya yang kuat untuk ... pemerintahan demokratis ... dan presiden Turki. Dan rakyat Turki akan senang mendengar pernyataan ini," kata Sambur, dalam siarannya bersama Radio Sputnik's Loud & Clear.
Dia menambahkan, bagaimanapun, ekspresi sentimen mungkin tidak cukup untuk memuluskan ketidakpercayaan saat ini.
Di tengah kemitraan strategis jangka panjang, ada perasaan anti-Amerika yang kuat di antara sebagian rakyat Turki, kata Sambur. Media pemerintah Turki telah menerbitkan banyak potongan yang menanyakan mengapa AS tidak mendukung Turki di Suriah, atau perjuangan pemerintahan Erdogan terhadap pergerakan cendekiawan Islam Fethullah Gulen yang berbasis di AS, Dimana oleh Ankara sekarang dinaggap sebagai organisasi teroris
"Secara formal, Turki dan AS adalah sekutu satu sama lain, tetapi secara informal ada ... perasaan permusuhan, kecurigaan dan ketidakpercayaan di antara rakyat Turki, di antara beberapa pejabat Turki dan media Turki tentang AS," tegasnya.
Menurut Sambur, dari perspektif pemerintah Turki, kegagalan Presiden AS Barack Obama di Timur Tengah adalah hasil dari penolakannya terhadap kerjasama militer dengan Turki. Pemerintah Turki percaya bahwa menerima kebijakan Ankara di Irak dan Suriah adalah kesempatan terakhir bagi AS untuk mencapai sukses di wilayah tersebut.
Persepsi AS sebagai sekutu berkurang menyusul adanya kudeta gagal dan keragu-raguan Amerika untuk menunjukkan dukungan nyata bagi pemerintahan Erdogan yang semakin otokratis, Sambur menegaskan.
Dia menambahkan bahwa Invasi militer Turki yang sedang berlangsung terhadap Suriah dengan dalih membantu Militan Tentara Pembebasan Suriah untuk mengusir Daesh, secara signifikan bertepatan dengan pertemuan Biden dengan Erdogan, dan bisa dianggap sebagai pernyataan pertujuan AS terhadap invasi militer Turki ke Suriah,
"jika Anda tidak membantu kami, berapa pun biayanya, kami akan menerapkan kebijakan kami di ... Suriah."
Dodo Aditya
. Sumber: Sputnik
