Menteri Dalam Negeri Perancis mengatakan bahwa larangan burqini tidak harus menyebabkan "stigmatisasi" terhadap satu sama lain,
Pernyataan mendagri Prancis ini dibuat setelah bertemu dengan komunitas Muslim Perancis untuk membahas tindakan kontroversial. Pertemuan ini menindaklanjuti adanya kasus Muslimah Prancis didenda karena pakaian mereka.
"Pelaksanaan sekularisme, dan pilihan dekrit tersebut tidak harus menyebabkan stigmatisasi atau penciptaan permusuhan di antara orang-orang Perancis," kata Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve.
Kepala Dewan Muslim Perancis (CFCM), Anwar Kbibech, menegaskan "Kami bisa menerima perintah ini tetapi Polisi harus menerima konteks di mana mereka harus menghentikan tuduhan gangguan ketertiban umum agar tidak kehilangan persaudaraan."
Dia menyatakan keprihatinan atas terjadinya risiko perpecahan diantara masyarakat Prancis. Menyusul adanya kekhawatiran yang mengarah pada perdebatan publik di sekitar apa yang disebut burqini
CFCM dalam pernyataan resminya menuntut "pertemuan darurat" dengan Mendagri Cazeneuve karena apa yang mereka katakan adalah menumbuhkan stigmatisasi menakutkan bagi Muslim di Perancis,
"Beberapa walikota menggunakan larangan mengenakan burqini bahkan busana Muslimah lainnya hanya untuk tujuan pemilu dan politik," kata lembaga itu, menambahkan bahwa "di beberapa kota, larangan diberlakukan bahkan tanpa adanya kasus yang tercatat."
Pernyataan Badan Muslim Perancis muncul setelah seorang Muslimah di pantai di Nice dipaksa melepas bajunya oleh polisi.
"Sekarang ini, kami melihat polisi memaksa seorang Muslimah di pantai di Nice untuk melepas pakaiannya, padahal dia tidak mengenakan burqini, sehingga menyebabkan kegaduhan di komunitas nasional," kata pernyataan itu.
CFCM juga menyebutkan insiden di Cannes, ketika seorang Muslimah mengenakan jilbab sederhana didenda oleh polisi.
"Dalam situasi yang sulit dan kritis bahwa Perancis sedang menghadapi bangkitnya serangan tragis yang mempengaruhi negara, CFCM menyeru untuk bersikap bijaksan dan bertanggung jawab kepada semua orang. Hari ini kita membutuhkan lebih banyak tindakan peredaan dan toleransi," seru pimpinan organisasi itu.
Sadarudin.
Sumber: RT
