Operasi lembaga survei dan pengamat yang didanai oleh perusahaan-pemodal besar diterjemahkan ke dalam berita-berita utama jaringan berita, ditambah menyewa para blogger, netizen, dan pelobi yang seolah-olah bertindak sebagai pihak ketiga yang independen: Upaya seperti itu bahkan mampu memaksimalkan sebuah kejadian non-berita diubah menjadi sebuah berita pemicu krisis.
Cara semacam itu kini bukan lagi hanya dilakukan oleh Barat, tetapi juga di negara-negara demokrasi di Asia, seperti Indonesia. Politik adalah pembentukan persepsi, di belakangnya ada kepentingan bisnis besar.
Cerita tentang Barat yang secara bertahap memudar pengaruhnya di Asia Tenggara bukanlah salah satu efek dari kebangkitan China, tetapi juga bangkitnya ekonomi negara-negara berkembang di Asia pada umumnya.
Monopoli Barat telah sejak lama menikmati keunggulan dalam militer, ekonomi dan dalam dominasi ruang informasi, secara perlahan-lahan terkikis oleh lembaga-lembaga, organisasi dan pusat-pusat kekuatan global yang bersaing.
Media alternatif – saluran-saluran, platform dan jurnal-jurnal yang tidak terkait dengan kepentingan-kepentingan khusus Washington, London dan Brussels – telah menjadi lawan yang berat bagi Barat. Untuk setiap “aksi” yang dilakukan oleh media Barat, ada sebuah informasi penyeimbang yang mengungkapkan kebenaran di baliknya, melemahkan dampak yang ditargetkan kepada yang menjadi sasaran.
Sekarang kita dapat melihat lebih jelas apa dan siapa di balik gelombang kebohongan dan disinformasi serta penyelewengan tanggung jawab jurnalistik. Bukan hanya di Barat, tetapi juga di Asia dan Indonesia.
