Para peneliti yang telah menyelidiki pembunuhan Presiden John F. Kennedy selama 30 tahun lebih telah menyimpulkan bahwa ia dibunuh oleh konspirasi Kepala Staf Gabungan, CIA dan Secret Service.
Dalam buku Unspeakable oleh James W. Douglass: Sesaat sebelum ia dibunuh, Presiden John F. Kennedy memberikan sebuah pidato yang luar biasa di American University. Dalam pidato tersebut ia menentang berlanjutnya Perang Dingin yang mempertaruhkan semua kehidupan di bumi untuk kepentingan keuntungan dari bisnis militer-keamanan dan anggaran Pentagon serta CIA.
Presiden Kennedy sudah menjadi sasaran untuk dilenyapkan. Ia menolak rencana Kepala Staf Gabungan untuk menyerang Uni Soviet dan keyakinan mereka bahwa peperangan nuklir dapat dimenangkan. Ia menolak rencana “Operation Northwood’ Kepala Staf Gabungan Lemnitzer untuk melakukan serangan palsu pada AS dan menyalahkan Fidel Castro dalam rangka menciptakan dukungan untuk serangan AS ke Kuba.
Presiden Kennedy sudah menjadi sasaran untuk dilenyapkan. Ia menolak rencana Kepala Staf Gabungan untuk menyerang Uni Soviet dan keyakinan mereka bahwa peperangan nuklir dapat dimenangkan. Ia menolak rencana “Operation Northwood’ Kepala Staf Gabungan Lemnitzer untuk melakukan serangan palsu pada AS dan menyalahkan Fidel Castro dalam rangka menciptakan dukungan untuk serangan AS ke Kuba.
Kennedy menolak dukungan Angkatan Udara AS untuk invasi Bay of Pigs oleh CIA. Ia berupaya di luar jalur formal dengan Khrushchev untuk meredakan Krisis Misil Kuba. Para anti-komunis yang paranoid, yang mengendalikan pasukan-pasukan militer dan keamanan AS menyimpulkan bahwa Presiden Kennedy tidak melayani kepentingan karir mereka. Akhirnya mereka melihat Kennedy sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS yang harus dilenyapkan.
Awalnya, seperti hampir semua orang Amerika pada saat itu, Senator John F. Kennedy menganggap Uni Soviet sebagai musuh yang mengancam. Ia berkampanye untuk menjadi presiden pada “kesenjangan rudal”, anggapan awal bahwa Soviet mengancam supremasi militer atas AS. Namun setelah menjabat sebagai presiden, Kenedy menyaksikan risiko ekstrim bahwa ambisi para pemimpin militer AS tega untuk mengorbankan rakyat AS atas nama perang yang tidak diperlukan.
Awalnya, seperti hampir semua orang Amerika pada saat itu, Senator John F. Kennedy menganggap Uni Soviet sebagai musuh yang mengancam. Ia berkampanye untuk menjadi presiden pada “kesenjangan rudal”, anggapan awal bahwa Soviet mengancam supremasi militer atas AS. Namun setelah menjabat sebagai presiden, Kenedy menyaksikan risiko ekstrim bahwa ambisi para pemimpin militer AS tega untuk mengorbankan rakyat AS atas nama perang yang tidak diperlukan.
Kennedy menyadari bahwa militer-keamanan AS sama berbahayanya seperti yang berada di Soviet. Ia mengerti bahwa ketegangan antara dua kekuatan nuklir ini harus dijinakkan, bukan malah mengobarkannya. Dia bermaksud untuk menghentikan campur tangan AS di Vietnam dan mendisiplinkan CIA. Pendekatan Kennedy ini tidak dapat diterima oleh para pemimpin militer-keamanan, dan kemudian ia dilenyapkan.

Ini saat-saat Presiden JF Kennedy tertembak, sang istri terlihat panik.
Sumber: zejournal - Paul Craig Roberts: JFK Turned to Peace and Was Assassinated
Sumber: zejournal - Paul Craig Roberts: JFK Turned to Peace and Was Assassinated
