Koalisi pimpinan AS di Timur Tengah telah menjatuhkan 50.000 bom dalam permainan perang melawan ISISy yang dimulai pada bulan Agustus 2014 lalu.
Analisis tersebut mencatat bahwa frekuensi pemboman meningkat seiring berjalannya waktu, memuncak pada bulan Juni ketika pasukan koalisi menjatuhkan 3.167 bom di Irak dan Suriah.
“Sebagai perbandingan, pasukan pimpinan AS di Afghanistan telah menjatuhkan lebih dari 16.000 bom dalam waktu enam tahun, data militer menunjukkan,” Shane Dixon Kavanaugh, seorang penulis senior untuk Vocativ, mengungkapkan.
Meskipun laporan-laporan menunjukkan bahwa ISIS mengalami kekalahan terhadap pasukan-pasukan darat di wilayah tersebut, konflik ini masih tidak memiliki akhir yang bisa terlihat dengan jelas. Kavanaugh melaporkan bahwa menjadi lebih jelas bahwa warga sipil semakin sering menjadi korban akibat bom yang dijatuhkan oleh AS dan pasukan koalisinya.
“Airwars memperkirakan bahwa setidaknya 1.422 warga sipil telah tewas oleh senjata yang digunakan oleh pesawat-pesawat tempur koalisi sampai pada tanggal 18 Juli, sebuah angka yang sangat jauh lebih besar dari kematian warga sipil yang diakui oleh Pentagon.”
“Serangan-serangan AS dan koalisi di desa-desa Suriah bagian utara, Tokhar dan Hoshariyeh telah menewaskan sedikitnya 56 warga sipil, termasuk 11 anak-anak, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Kelompok-kelompok lainn mengklaim bahwa korban mencapai 200 orang.”
“Pentagon jarang mengakui warga sipil yang tewas dalam serangan udara mereka di Irak dan Suriah, terkadang mengeluarkan pernyataan dengan jumlah warga sipil tewas (yang telah mereka bunuh) yang telah dikurangi sejak peperangan dimulai,” kata Ditz.
Selain hilangnya nyawa manusia tak berdosa, peperangan yang berlangsung melawan ISIS menguras banyak biaya. Daniel McAdams, direktur eksekutif dari Ron Paul Institute for Peace and Properity mengungkap: “Dengan setiap bom memiliki harga rata-rata $50.000, bom-bom ini telah membuat para pembayar pajak AS membayar setidaknya dua setengah milyar dolar.”

Dan pada bulan Februari, The Hill melaporkan bahwa biaya peperangan ini telah melebihi $6 miliar pada akhir bulan Januari.
“Seorang juru bicara pertahanan mengatakan bahwa, pada tanggal 31 Januari, total biaya yang harus dibayar oleh para pembayar pajak AS dari operasi anti-ISIS yang dimulai pada tanggal 8 Agustus 2014, adalah $6,2 milyar,” Kristina Wong melaporkan, seorang reporter dari The Hill.
“Ini adalah $11,5 juta per hari rata-rata, untuk operasi selama 542 hari. Biaya rata-rata per hari dari operasi ini telah meningkat hingga $11,4 juta per hari, pada akhir bulan Desember.”
Karena tujuan nyata dari peperangan ini lebih berkaitan dengan mengendalikan sumber daya di kawasan tersebut dan menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad daripada benar-benar mengalahkan ISIS, McAdams mencatat bahwa keuntungan bagi bisnis industri militer akan terus bergulir.
“Bayangkan berapa banyak kerusakan infrastruktur, lingkungan dan lain-lain yang akan dihasilkan oleh 50.000 bom,” tulisnya. “Para pembayar pajak AS membayar untuk meledakkan tempat ini dan kemudian membayar lagi untuk membangunnya kembali.”
Jadi, dengan 50.000 bom ini, apakah AS dan pasukan koalisinya semakin dekat untuk memberantas ISIS? Sumber-sumber resmi pemerinah terlalu sedikit melaporkan warga sipl yang telah tewas, dan jumlah pejuang ISIS yang telah tewas sejauh ini bahkan lebih sulit untuk dihitung, dengan sumber-sumber dari Pentagon dan sumber resmi lainnya memberikan pelaporan yang bertentangan dan cenderung manipulatif.
Pada bulan Oktober, Kathy Gilsinan dari The Atlantic melaporkan bahwa militer AS mengklaim telah membunuh 20.000 pejuang ISIS dalam sekitar satu tahun. “Entah bagaimana, ‘kekuatan keseluruhan’ ISIS masih sama seperti ketika kampanye serangan udara AS diperluas ke Suriah lebih dari setahun yang lalu,” tulisnya menyindir.
Gilsinan berpendapat bahwa hitungan yang tidak akurat ini dapat membantu memperpanjang peperangan ini tanpa batas, ia menyimpulkan:
“Dan jika AS tidak dapat mengetahui kapan pihaknya menang – atau kalah – negara ini tidak tahu kapan pembunuhan ini akan berhenti. Atau seberapa banyak pembunuhan yang telah dilakukan persisnya.”
Zejournal / Mohammad Isa Ibrahim / Kit O'Connell
