Ahok Basuki Tjahaja Purnama memang sungguh menyebalkan bagi banyak orang dan banyak kalangan. Tapi mengapa elektabilitasnya masih tetap tinggi, masih disukai dan dipercaya (relatif) mayoritas warga DKI?
Bahkan meski kian hari melalui media sosial maupun percakapan makin banyak ditebar berbagai cerita buruk tentang Ahok. Masih saja Ahok yang songong yang arogan dan menyebalkan itu nampak tak tergoyahkan. Padahal, dalam konteks SARA (maaf) Ahok yang Cina dan non-muslim itu kok masih saja banyak dipercaya dan disukai oleh warga DKI yang mayoritas muslim dan bukan Cina.
Kebencian delapan penjuru angin terhadap Ahok sudah digenjot jauh sebelum Ahok resmi menjadi calon gubernur DKI pilgub 2017. Berbagai cara dan upaya bagaimana supaya kredibilitas Ahok hancur dan tidak bisa tampil dalam kontestasi Pilgub 2017 melalui jerat hukum; walau akhirnya, semua upaya tersebut gagal. APBD Siluman, Sumber Waras, Reklamasi, hingga soal penggusuran -- dan tidak bisa lepas dan tidak bisa tidak selalu ditumpangi SARA.
Jika Ahok tidak dipercaya dan tidak disukai oleh mayoritas warga DKI, mungkin sudah lama dia sakaratul politis dan cuma menghitung hari: terjungkal atau setidaknya hanya menunggu pensiun.
Kekuatan Ahok lainnya adalah dia dipercaya dan didukung oleh Presiden Jokowi. Mengapa sejak jauh hari partai Nasdem dan Hanura menyatakan dukungannya pada Ahok adalah karena faktor Jokowi, menangkap sinyal halus Jokowi. Belakangan, demikian pula Golkar.
Masih ada lagi, para pebisnis besar, khususnya pengusaha properti merasa nyaman dengan kepemimpinan Ahok --- atas banyak faktor --- dan tentunya menginginkan Ahok kembali menjabat Gubernur.
Dengan demikian 'sumbangan sukarela' logis mengalir bagi keperluan dukung mendukung Ahok, termasuk untuk keperluan partai politik pendukung.
Meski demikian sebetulnya Ahok masih bisa ditandingi bahkan dikalahkan, seandainya ada figur yang disukai, dipercaya, dan didukung mayoritas warga DKI. Figur yang seumpama Jokowi saat dulu meluncur dari Solo ke Jakarta. Figur yang meraih simpati karena karakternya, kapabilitasnya, kredibilitas dan integritasnya. Bukan karena hasil mengerahkan banyak cara untuk menyerang dan membusukkan Ahok.
Bagaimanapun harus diakui, Ahok adalah tokoh fenomenal. Ahok yang saling ngefans dengan artis Dian Sastro itu, seandainya nanti ternyata tak tertandingi di pilgub DKI 2017 -- atas nama demokrasi dan konstitusi harus diterima kepemimpinannya.
Penggunaan isu SARA dan hasutan kebencian adalah sama halnya dengan penghalalan segala cara yang jauh dari moral agama.
Sekalipun Ahok didukung presiden dan cukong besar, tetap bisa dikalahkan.
Figur seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memiliki potensi itu. Tanpa menggunakan serangan SARA dan kebencian pada Ahok, banyak cara mudah untuk mendongkrak elektabilitas Risma hingga melampaui Ahok.
Hanya, apakah PDIP berani dan ada sumber pendukung logistik kuat yang mau menyokongnya?
Dan pertanyaan penting yang butuh jawaban rasional-akurat: mengapa Presiden Jokowi sangat condong ke Ahok?
Siti Rahmah
Editor Galaberita
