Pilot-pilot jet tempur dan pembom Saudi lagi-lagi meluncurkan serangan udara pada gedung sekolah di provinsi Ta'izz Yaman.belum ada informasi tentang adanya korban luka dan tewas akibat pemboman terbaru yang dilakukan Saudi Arabia
Menurut televisi Yaman, al-Masirah, serangan udara menghantam sekolah al-Rawd di distrik Dabab di Ta'izz Barat pada Senin pagi 22 Agustus 2016.
Dalam perang yang dipaksakan Arab Saudi terhadap Yaman, jet-jet tempur Saudi mentarget sekolah, rumah sakit, bangunan perumahan, jalan, pasar dan kamp-kamp pengungsi.
Saudi meluncurkan perang sejak akhir Maret 2015, sejauh ini menewaskan sekitar 10.000 orang, menurut sumber-sumber internal.
Kembali pada bulan Juni, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan Arab Saudi pada daftar hitam negara-negara yang membunuh dan melukai anak-anak. PBB dalam laporannya menyimpulkan bahwa Riyadh bertanggung jawab terhadap 60 persen dari 785 anak-anak yang dalam perang yang dipaksakan Saudi di Yaman pada tahun 2015.
Beberapa hari kemudian, badan dunia itu mengumumkan bahwa Saudi dikeluarkan dari daftar sambil menunggu peninjauan bersama dengan Arab Saudi. Dalam keterangannya yang sangat jarang setelah Saudi dihapus dari daftar, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengakui bahwa keputusan yang dibuat di bawah "tekanan yang tidak semestinya" dari Arab Saudi.
Kepengecutan di udara
Media AS melaporkan bahwa Amerika Serikat menawarkan dukungan intelijen kepada Arab Saudi dalam memerangi Yaman yang miskin dan lemah dengan membantu pasukan Saudi memperoleh "target" karena saat ini Arab saidi telah menunjukan ketidakmampuan serta bersikap pengecut dengan melakukan serangan udara yang membabi buta terhadap di Yaman.
Ada artikel yang terbit di The New York Times pada 13 Maret lalu dengan mengutip pejabat Amerika dengan menunjuk pada kemampuan pilot Saudi, karena tak punya pengalaman dalam misi terbang ... dan takut tembakan musuh dari darat.
Menurut artikel itu, para pilot Saudi terbang pada ketinggian untuk menghindari ancaman tembakan di darat. Tapi terbang tinggi bisa mengurangi akurasi pemboman dan peningkatan korban sipil, kata para pejabat Amerika.
"Penasihat Amerika menyarankan bagaimana pilot bisa terbang rendah dengan aman, dibutuhkan taktik lainnya. Tapi serangan udara masih mendarat di pasar, rumah, rumah sakit, pabrik, sekolah dan pelabuhan. Sehingga bertanggung jawab terhadap sebagian besar dari 3.000 kematian warga sipil selama perang yang sudah berlangsung setahun, menurut PBB," tulis artikel theTimes.
Dalam contoh sebelumnya tentang pengeboman tanpa pandang bulu, puluhan murid SD tewas dan luka-luka dalam serangan udara Saudi terhadap sekolah dasar di provinsi Sa'ada kurang dari sepekan lalu.
Pada hari Jumat pekan lalu, militer AS mengatakan mengurangi dalam jumlah besar pasukannya yang bekerja dengan Arab Saudi dalam perang di Yaman.
Sementara beberapa pejabat AS berusaha mengambil jarak dan berencana memutuskan untuk menurunkan kerjasama militer dengan Arab Saudi menyusul adanya protes atas meningkatnya korban sipil yang tewas di Yaman. Juru bicara Pentagon Adam Stump mengatakan Jumat lalu, "Dkungan militer AS untuk perang Arab di Yaman tidak tidak berarti bahwa kami akan menahan diri dari mengungkapkan keprihatinan kami tentang perang di Yaman dan bagaimana perang dilancarkan."
Arab Saudi telah menyerang Yaman dalam upaya untuk mengembalikan kekuasaan Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, yang telah mengundurkan diri dari kursi kepresidenan tapi berusaha untuk merebut kembali kekuasaan lagi melalui intervensi militer Saudi.
Pejuang Ansarullah Houthi dan unit militer sekutu kembali berjuang melawan Saudi dan tentara bayaran mereka.
Dalam insiden terpisah, Senin, serangan udara Saudi benar-benar menghancurkan gedung kantor Politik dan keamanan di provinsi Sa'ada. Sumber setempat mengatakan pesawat tempur Saudi meluncurkan tiga serangan udara terhadap gedung tersebut, Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Dodo Samego.
Sumber: Press TV
