Korporasi media mainstream secara rutin mencoba untuk memperlihatkan bahwa rezim Bashar al-Assad di Suriah sebagai satu-satunya yang bertanggung jawab atas konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. Media mainstream tidak melaporkan fakta yang – meskipun sedikit – ketika dicermati, rincian-rincian fakta yang kurang diekspos ini memberikan wawasan baru pada konflik yang sedang berlangsung.
Bashar al-Assad memiliki rating popularitas rakyat yang lebih tinggi daripada Barack Obama
Meskipun klaim Obama bahwa Assad tidaklah sah dan harus mengundurkan diri, kenyataan tetapnya adalah bahwa sejak konflik meletus pada tahun 2011, Assad memiliki dukungan mayoritas dari rakyatnya. Pemilu tahun 2014 – di mana Assad menang mutlak dengan para pengamat internasional mengklaim bahwa tidak ada pelanggaran – adalah bukti bahwa meskipun Assad telah dituduh melanggar hak asasi manusia yang serius, ia tetap populer di kalangan rakyatnya.
Obama, di sisi lain, memenangkan pemilu tahun 2012 dengan jumlah pemilih 53,6% dari rakyat AS; hanya 129.100.000 total suara yang mendukungnya. Ini berarti sekitar 189.800.000 rakyat AS tidak memilih Obama. Rating popularitasnya saat ini adalah sekitar 50%.
Oposisi “moderat” telah dibajak
Tidak ada lagi yang namanya oposisi “moderat” di Suriah. Yang disebut-sebut sebagai Tentara Pembebasan Suriah/Free Syrian Army (FSA) yang didukung oleh Barat telah didominasi oleh para ekstremis selama beratahun-tahun. AS telah mengetahui fakta ini namun terus mendukung oposisi Suriah ini, meskipun New York Times melaporkan pada tahun 2012 bahwa sebagian besar senjata yang dikirim ke Suriah telah direbut oleh para ekstremis. Sebelumnya sebuah laporan rahasia DIA (Defense Intelligence Agency) yang memprediksikan munculnya ISIS pada tahun 2012, menyatakan:
“Jika situasi terurai, ada kemungkinan pembentukan sebuah kerajaan Salafi yang dideklarasikan atau tidak di Suriah bagian timur... dan ini adalah kekuatan yang diinginkan oleh para pendukung oposisi, untuk mengisolasi rezim Suriah.”
Selanjutnya, seorang komandan FSA diketahui tidak hanya mengerahkan pasukannya secara teratur untuk melakukan operasi gabungan dengan al-Nusra (al-Qaeda di Suriah), tetapi juga bahwa ia ingin melihat Suriah diperintah oleh hukum Syariah.
Tampaknya, “moderat” juga bisa berarti “para fanatik yang berafiliasi dengan al-Qaeda”.
Assad tidak pernah menggunakan senjata kimia pada rakyatnya sendiri
Sebuah penyelidikan PBB kedalam serangan senjata kimia pertama yang dilakukan pada awal tahun 2013 – sebuah kejahatan yang dengan cepat dituduhkan kepada Assad oleh Barat – menyimpulkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa serangan tersebut lebih mungkin dilakukan oleh pihak oposisi Suriah. Sebuah penyelidikan PBB berikutnya atas serangan bulan Agustus 2013 tidak menyalahkan siapa pun, termasuk pasukan Assad. Pada bulan Desember tahun 2013, peraih Hadiah Pulitzer wartawan Seymour Hers merilis sebuah artikel yang menyoroti kurangnya situasi tersebut ditangani:
“Berbulan-bulan sebelum serangan, badan-badan intelijen AS membuat serangkaian laporan yang sangat rahasia... mengutip bukti-bukti bawha al-Nusra, kelompok ekstremis yang berafiliasi dengan al-Qaeda, telah menguasai mekanisme untuk menciptakan sarin dan mampu untuk memproduksinya dalam jumlah besar. Ketika serangan tersebut terjadi al-Nusra seharusnya menjadi tersangkanya, namun AS memilih intel yang paling menguntungkan untuk menyerang Assad.”
Menggulingkan rezim Suriah adalah bagian dari sebuah rencana yang diambil tak lama setelah insiden 9/11
Menurut sebuah memo yang diungkapkan oleh Jenderal bintang 4, Wesley Clark, tak lama setelah insiden 9/11, Pentagon mengadopsi sebuah rencana untuk menggulingkan tujuh pemerintahan dalam kurun waktu lima tahun. Negara-negara tersebut adalah Irak, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Iran.
Seperti yang kita ketahui, Irak telah diserang pada tahun 2003. Sekutu AS, Israel mencoba untuk menghancurkan Lebanon pada tahun 2006. Libya hancur pada tahun 2011. Sebelum intervensi ini, Libya memiliki standar hidup tertinggi dari setiap negara di Afrika. Pada tahun 2015 saja, Libya telah turun 27 peringkat dalam Indeks Pembangunan Kemanusiaan PBB. Drone-drone AS terbang di Sormalia, pasukan AS ditempatkan di Sudan Selatan – Sudan telah terbagi setelah sebuah perang saudara yang brutal – dan Suriah telah menjadi medan pertempuran yang mematikan sejak tahun 2011. Yang terakhir hanyalah Iran, yang akan segera dibahas di bawah.
Iran dan Suriah memiliki perjanjian pertahanan bersama
Sejak tahun 2006, Iran dan Suriah telah terikat oleh sebuah perjanjian pertahanan bersama. Pemerintah Iran telah menunjukkan bahwa mereka berniat untuk sepenuhnya menghormati kesepakatan tersebut dan telah memberikan rezim Suriah dengan segala bentuk dukungan, termasuk pasukan, pinjaman sebesar $1 milyar, pelatihan dan nasihat. Apa yang membuat konflik ini bahkan lebih berbahaya, bagaimanapun, adalah kenyataan bahwa Rusia dan China telah memihak Iran dan Suriah, yang menyatakan secara terbuka bahwa mereka tidak akan mentolerir setiap serangan terhadap Iran. Intervensi militer Rusia di Suriah dalam beberapa bulan terakhir membuktikan bahwa ini bukanlah ancaman kosong – mereka telah membuktikan ini dengan tindakan bukan dengan perkataan belaka.
Iran telah berada pada sasaran pembentukan kebijakan luar negeri AS selama sekian lama hingga sekarang. George W. Bush gagal untuk mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk menyerang Iran ketika ia menjabat sebagai presiden dan sejak tahun 2012, sanksi-sanksi telah diberlakukan terhadap Iran. Dengan menyerang dan mendestabilisasi sekutu utama Iran di kawasan tersebut, kekuatan-kekuatan yang dapat melemahkan upaya Iran untuk menyebarkan pengaruhnya di kawasan tersebut, akhirnya melemahkan Iran.
ISIS muncul dari invasi AS di Irak, bukan dari konflik Suriah
ISIS sebelumnya dikenal sebagai al-Qaeda di Irak, yang bangkit dan menonjol setelah invasi AS-Inggris di Irak pada tahun 2003. Juga diketahui dengan baik bahwa tidak ada kehadiran al-Qeaeda yang nyata di Irak sampai setelah invasi tersebut, dan ada alasan untuk ini. Ketika Paul Bremer ditunjuk peran sebagai Utusan Presiden AS ke Irak, ia membubarkan kepolisian dan militer. Bremer memecat hingga 400.000 personel militer dan kepolisian, termasuk perwira militer berpangkat tinggi yang berjuang dalam perang Iran-Irak pada era 1980-an. Para jenderal ini sekarang memegang posisi senior dalam ISIS. Jika bukan karena tindakan AS di Irak, ISIS kemungkinan besar tidak akan ada.
Turki, Qatar dan Arab Saudi ingin membangun sebuah jalur pipa melalui Suriah, namun Assad menolaknya
Pada tahun 2009, Qatar mengusulkan sebuah jalur pipa yang melalui Suriah dan Turki akan mengekspor gas alam dari Arab Saudi. Assad menolak usulan tersebut dan sebaliknya membentuk kesepakatan dengan Iran dan Irak untuk membangun sebuah jalur pipa ke pasar Eropa yang akan memotong sepenuhnya Turki, Arab Saudi dan Qatar dari rute tersebut. Sejak saat itu, Turki, Qatar dan Arab Saudi telah menjadi pendukung setia bagi oposisi yang berusaha untuk menggulingkan Assad. Secara kolektif, mereka telah menginvestasikan milyaran dolar, mengirimkan persenjataan, mendorong penyebaran ideologi fanatik dan membantu menyelundupkan para ekstremis melintasi perbatasan mereka.
Jalur pipa Iran-Irak akan memperkuat pengaruh Iran di wilayah tersebut dan melemahkan saingan mereka, Arab Saudi – produsen utama OPEC. Mengingat kemampuan untuk mengangkut gas ke Eropa tanpa melalui sekutu-sekutu Washington, Iran akan menjadi lebih unggul dan akan dapat menegosiasikan perjanjian-perjanjian yang sepenuhnya mengecualikan mata uang dolar AS.
Percakapan telepon yang disadap menunjukkan Turki memberikan para radikalis ISIS perawatan medis yang mahal
Dukungan Turki bagi para ekstremis garis keras yang memerangi rezim Suriah sangat luas. Bahkan, para militan ini teratur mengatakan bahwa perbatasan Turki sebagai “pintu gerbang Jihad”. Pada bulan Mei 2016, laporan-laporan mulai muncul mengenai Turki yang menunjukkan bahwa pihaknya memberikan pengobatan medis yang mahal bagi para pejuang ISIS.
Zejournal / Darius Shahtahmasebi
