• Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • PSIKOLOGI & KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu
Menu
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • SPORT
  • ENTERTAINMENT
  • SAINSTEKNO
  • GAYA
  • PSIKOLOGI & KESEHATAN
  • PERSONA
  • RILIS
  • FEATURES
  • OPINI

Panglima Besar Dalam Tandu Itu Dikira Sri Sultan

Follow @GALABERITA
Category Category: FEATURES

Perjalanan berat itu dimulai pada Senin, 20 Desember 1948 menuju Panggang. Tandu dibuat untuk mengangkut sang panglima jenderal agar dapat menyimpan tenaganya yang mulai payah akibat penyakit Tuberkulosis (TBC) yang dideritanya.


Namun itu semua berbanding terbalik dengan semangat sosok Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman, yang seringkali disapa Pak Dirman itu. Jalan setapak yang dialiri air hingga Gunung Kidul yang mesti didaki tak menyurutkan gairahnya untuk meraih kemerdekaan bangsanya.

Dengan jalan terhuyung-huyung, Pak Dirman dibimbing oleh Kapten Tjokropranolo dari Panggang menuju Palihan. Keesokan harinyanya, dari Playen, tandu itu berganti menjadi dokar tanpa kuda. Rombongan terus bergerak menuju lokasi selanjutnya, Semanu.

Kapten Tjokorpranolo dan rombongan tak begitu ambil pusing untuk permasalahan makanan dan logistik. Rakyat yang desa atau daerahnya dilewati oleh rombongan sang panglima itu selalu menyediakan kebutuhan makan dan minum. Dari nasi, ketela, hingga lauk pauk serta dedaunan.

“Hanya khusus untuk Pak Dirman, kami selalu berusaha agar dapat menyediakan makanan bergizi yang akan dapat memberi kekuatan fisik dan kesembuhannya, seperti telur, kacang-kacangan, sayur, daging ayam, ikan, buah-buahan, dan lain-lan. Dan inipun jarang sekali dapat kami peroleh,” ujar Kapten Pranolo dalam buku biografi sang jenderal.

Panglima Buronan Belanda

Belanda terus melakukan pencarian lokasi kedudukan sang panglima, hingga akhirnya disusun siasat untuk menyesatkan mereka. Kapten Tjokropranono melancarkan siasat tersebut sesuai perintah Pak Dirman.

Dibalik perjalanan berat itu, alasan yang mendasarinya adalah keamanan sang panglima dari kejaran Belanda. Kapten Tjokropranolo menekankan bahwa sebaiknya Pak Dirman tetap berada di luar kota, tatkala waktu itu ibu kota RI, Yogyakarta diduduki oleh Belanda.

“Alasan mengapa Pak Dirman seyogyanya harus berada di luar kota, ialah karena dikabarkan bahwa patroli Belanda yang saya perkirakan ditugasi memburu dan menangkap Panglima Besar TNI itu sudah berhasil mencapai Sukohardjo,” ujar Kapten Tjokropranolo.

TNI sendiri sebenarnya telah menyiapkan jebakan di jembatan besar Wonogiri-Ponorogo berupa “trek bom” (bom tarik). Jebakan yang ditarik dengan kawat panjang tersebut akan diledakan jika pasukan Belanda melewati jembatan tersebut.

Dikira Sri Sultan Hamengkubuwono

Tandu kedua dibuat kembali untuk membantu perjalanan Pak Dirman menuju Pracimantoro, bagian selatan Surakarta. Untuk sampai disana, rombongan harus melalui daerah Bedoyo.

Dalam tandu, sosok sang panglima jenderal mendapat perlakuan spesial dari masyarakat Bedoyo. Banyak dari mereka yang berebut menciumi kakinya untuk meminta berkah. Masyarakat banyak yang mengira bahwa sosok dalam tandu yang diangkut itu adalah Sri Sultan Hamenkubuwono.

Sosok Panglima Jenderal Sudirman tak lepas dari sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia tak pernah mau tunduk kepada siapapun dan menghindari adanya aksi perundingan dengan pihak Belanda. Sudirman menganggap hal tersebut hanya akan melemahkan posisi Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Kegigihannya dalam membela kemerdekaan tanah air tak luntur lantaran penyakit TBC mengrogoti tubuhnya. Dari atas tandu, ia terus mengarahkan pasukan untuk tetap berjuang melawan Belanda.

 

Presiden Sukarno memeluk Panglima Besar Jenderal Soedirman di istana Yogyakarta, 10 Juli 1949. 
Foto: Frans Mendur dalam IPPHOS Remastered Edition karya Yudhi Soerjoatmodjo.


Panglima Besar Jenderal Soedirman: “Satu-satunya hak milik nasional Republik yang masih tetap utuh dan tidak berubah-ubah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan hanyalah Angkatan Perang Republik Indonesia." 

Sumber: Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman; Soekanto S.A, Jenderal, Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia; Let.Jen.(Purn) TNI-AD Tjokopranolo. Annisa Hardjanti / National Geographic
SHARE

SPG dan Foto Model Bertarif Uh-oh-ih Rp 7 Juta

Polisi India ini Ketagihan Menelan Pisau

Iran Pamerkan Sistem Pertahanan Udara Bavar-373, Mirip Sistem S-300 Rusia

Pemimpin Jerman, Italia dan Perancis Unjuk Solid Pasca Brexit

Singapura dibayangi Ketidakpastian Kepemimpinan

SPG dan Foto Model Bertarif Uh-oh-ih Rp 7 Juta

Polisi India ini Ketagihan Menelan Pisau

Iran Pamerkan Sistem Pertahanan Udara Bavar-373, Mirip Sistem S-300 Rusia

Pemimpin Jerman, Italia dan Perancis Unjuk Solid Pasca Brexit

Singapura dibayangi Ketidakpastian Kepemimpinan

Rusia Kembangkan Sistem Peringatan Serangan Rudal

Donald Trump Lebih Psikopat dari Adolf Hitler, Menurut Penelitian Oxford University

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Kopassus dengan Satuan Kecil dan Mematikan

Kejamnya Cara Penyiksaan Oleh CIA

Surat Einstein kepada Roosevelt, Kisah Dokumen yang Mengubah Dunia

Wiji Thukul dan Kata-kata yang Tak Pernah Binasa

Mengapa Kita Harus Kasihan pada Orang yang Gemar Cari Perhatian?

Trailblazers, Aplikasi Belajar Bahasa Inggris

Bagaimana Genetika Pengaruhi Depresi Seseorang?

M3ng4pa Bah4sa Gaul Indon3sia Dipelajari di Austr4lia?

Banyak Dibaca

Demi Menyusui Pacarnya Tiap Dua Jam, Wanita Ini Berhenti Bekerja

Dewan Kesepian Jakarta: Menjadi jomblo dan tetap baik-baik saja

Perang Narkoba di Filipina dan Cara Cepat Menjadi Gila

Ini 8 Diktator Paling Kejam dalam Sejarah Dunia

Generasi Tanpa Ayah, Anak-Anak yang Terlahir dari Wisata Syahwat

Orang Ambivert adalah Ekstrovert sekaligus Introvert

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Beginilah ISIS Jual Minyak Curian Ke Israel via Turki

Perubahan Urutan Pancasila dan Perdebatan Syariat Islam di Piagam Jakarta

Masjid bekas gereja dengan lukisan Yesus yang masih dipertahankan

Kisah Perempuan Indonesia Penyelamat Harimau

Bisakah Otak Berkembang Setelah Usia Dewasa? Bisa, Ini Caranya

Sering Salah Panggil Nama Orang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Inilah Fakta Pengaruh Ajaran Fethullah Gulen di Indonesia

Saat Bangunan Intelektual Rumi Terkoyak, dan Tenggelam di Dunia Sufi

Mengapa Manusia Bisa Merasakan Jika Ada Seseorang yang Menatapnya?

Diremas Dadanya Oleh Orangutan, Turis Wanita ini Malah Tertawa

Ini Sebabnya Mengapa Hitler Pakai Kumis Model Sikat Gigi

Konsep Hijâb dalam Tradisi Yahudi, Nasrani, dan Islam

Hadeuh ... Jokowi Adu Panco dengan Kaesang, Lihat Videonya:

Ingin Awet Muda, Olahraga dan Kurangi Berat Badan

Mau Langsing? Ini 4 Cara Aktifkan Hormon Penurun Berat Badan

Erdogan dan Gulen, Kawan yang Berubah jadi Lawan

Ada Korelasi antara Gen dan Kebahagiaan Seseorang

Sepakbola Tinju ala Italia, dan Festival Tukang Sihir Jerman

  • Homearrow
  • NEWS & FEATURESarrow
  • FEATURES
Powered by Helix
Copyright © GALABERITA 2016 Vina Junies. All Rights Reserved.Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates

Valid CSS!

Goto Top
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu