Akhirnya Gubernur DKI Ahok Basuki Tjahaja Purnama berhenti berharap dukungan dari PDIP. Walaupun sudah dibantu diantar Presiden Jokowi untuk meyakinkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, ternyata jawaban Megawati hanyalah: "PDIP punya mekanisme."
Tentu saja Jokowi tak mungkin bisa memaksakan hasratnya supaya Megawati memutuskan PDIP mendukung Ahok, seperti halnya Megawati juga tak bisa memaksa Jokowi dalam memilih Kapolri.
Kini akhirnya Ahok tidak lagi menunggu PDI-Perjuangan untuk memberi dukungan kepadanya. "Enggak dong, kita enggak nunggu PDI-P. Kita sudah fix tiga kan," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (29/7/2016).
Padahal selama ini Ahok sering mengumbar cerita hubungan istimewanya dengan Megawati. Beberapa bulan lalu Ahok mengatakan: Megawati menawarkan kepadanya agar maju di Pilkada DKI Jakarta lewat PDI-P. Namun, saat itu ia masih menghargai perjuangan yang dilakukan kelompok relawannya, Teman Ahok.
"Dari dulu Bu Mega pasti mau nyalonin, saya sudah pasti oke dari dulu. Cuma waktu itu Teman Ahok kan anak muda yang pengen menunjukkan pada partai, kalau partai tidak mau dukung, warga tuh mampu. Nah, itu dibuktikan," kata Ahok, "Hak prerogatif tetap ada di Bu Mega. Kalau Bu Mega sih bilangnya 'Belanda masih jauh, tenang, tenang',"
Kini Ahok mengatakan mungkin saja PDI-P tidak mendukungnya dan mengusung calon gubernur dan calon wakil gubernur sendiri. "Kan kita engga tahu, bisa saja PDI-P maju sendiri kan kita enggak tahu," ujar Ahok.
Gubernur Ahok Basuki Tjahaja Purnama akan maju melalui jalur partai politik (parpol) pada Pemilihan Kepala Daerah 2017, dengan tiga partai politik yang sudah menyatakan siap menjadi kendaraan politik baginya: Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai Hanura. Jumlah kursi tiga partai itu di DPRD DKI jika digabungkan mencapai 24 kursi. Adapun jumlah minimum kursi di DPRD DKI bagi parpol atau gabungan parpol yang ingin mengusung pasangan calon gubernur dan wakilnya adalah 22 kursi.
