Presiden Rodrigo Duterte memerintahkan militer Filipina untuk menumpas mati kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan. "Tidak akan ada kesepakatan damai. Mereka harus dihabisi sampai orang terakhir," kata Duterte, seperti yang dilansir Update Philippines pada 7 Agustus 2016.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan berkoalisi dengan pemberontak komunis. "Saya tidak akan pernah setuju untuk berkoalisi dengan pemberontak komunis," katanya.
Perintah itu disampaikan Duterte dihadapan sekitar 200 tentara di Aula Bondad, Central Command Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) di Barangay Lahug, Cebu City.
Duterte berjanji untuk meningkatkan kekuatan militer dengan menambah 10.000 tentara tahun depan, dan memberikan militer dan polisi peralatan terbaik.
Dia mengatakan, ancaman terbesar bagi negara dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan adalah terorisme. "Saya ingin mempersiapkan negara untuk menghadapi ini," katanya.
Dengan menggunakan kata-kata tajam yang khas, ia juga menanggapi kritik bahwa ia mengerahkan satuan-satuan pembunuh untuk menegakkan ketertiban.
“Sebagai mantan pengacara dan mantan jaksa, saya tahu batas kekuasaan presiden,” katanya menambahkan. “Anda lakukan pekerjaan Anda dan saya lakukan tugas saya. Saya tahu apa yang legal dan apa yang tidak legal.”
Presiden Duterte juga bersumpah akan membunuh puluhan ribu penjahat narkoba di Filipina.
"Kampanye 'tembak dan bunuh' ini akan tetap diberlakukan hingga hari terakhir saya menjabat, jika saya masih hidup hingga saat itu," tegas Duterte yang berusia 71 tahun ini
"Saya tidak peduli soal HAM," imbuhnya
PhilStars | Inquerer I Abraham Mohammad
