Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan keras atas uji rudal balistik baru Korea Utara, dan menegaskan persiapannya untuk "membela diri dan membela sekutu kami."
Pada hari Rabu 3 Agustus 2016, Korea Utara menembakkan rudal balistik dari wilayah barat ke laut lepas pantai timur dalam apa yang diyakini sebagai unjuk kekuatan setelah Korea Selatan mengerahkan sistem pertahanan rudal buatan AS yang lebih canggih.
"Kami menyadari laporan bahwa DPRK (Korea Utara) menembakkan rudal balistik," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Anna Richey Allen tak lama setelah tes.
"Kami tetap siap untuk bekerja dengan sekutu dan mitra di seluruh dunia untuk menanggapi provokasi lebih lanjut dari DPRK, serta untuk mempertahankan diri beserta sekutu kami dari serangan atau provokasi."
Menurut Kantor berita Korea Selatan mengutip dari Kepala Staf Gabungan, rudal itu diluncurkan dari provinsi Hwanghae Selatan di barat daya ibukota, Pyongyang.
Menteri Pertahanan Jepang Jend Nakatani juga mengatakan bahwa peluncuran tersebut menimbulkan "ancaman serius" karena rudal terbang menuju Laut Jepang.

Richey Allen menegaskan komitmen Washington untuk membela sekutu-sekutunya seperti Korea Selatan dan Jepang
Dia mengatakan bahwa AS berencana untuk berunjuk rasa menentang uji coba rudal balistik Korea Utara di PBB.
"Kami bermaksud untuk meningkatkan kekhawatiran kami di PBB untuk memperkuat tekad internasional dan mendesak DPRK bertanggungjawab atas tindakan-tindakan provokatif," kata juru bicara itu.
Utara menguji tiga rudal balistik lainnya pada 19 Juli, mengatakan peluncuran itu merupakan bagian dari latihan simulasi serangan mendahului terhadap pelabuhan Korea Selatan dan lapangan udara yang digunakan oleh militer AS.
Pada tanggal 22 Juni, Korea Utara meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah Musudan yang keduanya terbang menuju Laut Jepang, juga dikenal sebagai Laut Timur.
Utara telah ditempatkan di bawah sanksi terberat PBB selama dua dasawarsa. Negara ini, bagaimanapun, telah berjanji untuk tidak melepaskan tenaga nuklir dengan syarat AS mengakhiri kebijakan permusuhan dan membubarkan komando militer di Korea Selatan.
Agustina.
Sumber: Press TV




