Indonesia akan memperkuat penjagaan keamanan wilayahnya di kawasan Laut Cina Selatan. Menhan Ryamizard Ryacudu menyatakan, sekalipun kapasitas militer akan ditingkatkan, Indonesia tidak ingin ada konflik bersenjata.

Sejak pertengahan 2014 militer Cina sibuk memperluas "Fiery Cross Reef" di tepi barat kepulauan Spratly. Pakar di "Centre for International and Strategic Studies" di Washington dan Asia Maritime Transparency Initiative meyakini, negeri tirai bambu itu tengah membangun pangkalan udara sepanjang tiga kilometer. Landasan sepanjang itu mampu menampung pesawat pembom jarak jauh tipe H-6 milik Cina
Menteri Pertahanan (Menhan) Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan Indonesia akan memperkuat pertahanan dan penjagaan keamanan di sekitar Kepulauan Natuna. Antara lain dengan penempatan satuan jet tempur F-16, rudal darat-udara, perlengkapan radar dan pesawat, serta membangun pelabuhan baru dan meningkatkan kapasitas landasan pacu.
Hal itu disampaikan Menhan dalam wawancara dengan kantor berita AFP. Peningkatan kapasitas militer inio sudah dimulai selama beberapa bulan terakhir, dan akan selesai dalam "kurang dari satu tahun", katanya.
"Ini akan menjadi mata dan telinga kita," kata pensiunan jenderal Ryamizard Ryacudu. "Sehingga kita benar-benar dapat melihat apa saja yang terjadi di Natuna dan daerah sekitarnya di Laut Cina Selatan."

Mahkamah Arbitrase di Den Haag memenangkan gugatan Filipina dalam sengketa soal Laut Cina Selatan
Ryacudu selanjutnya mengatakan, Indonesia akan menempatkan sejumlah persenjataan dan satuan angkatan udara khusus ke Natuna. Batalyon tentara akan segera ditempatkan, setelah barak dan perumahan militer selesai dibangun, kata Ryacudu.
Dia menerangkan, Indonesia tidak meningkatkan militerisasi di Laut Cina Selatan, tapi akan menjaga perbatasannya. "Ini adalah pintu depan kami, mengapa tidak dijaga?" kata Ryamizard.
Hubungan Indonesia dan Cina belakangan sempat menegang, ketika Angkatan Laut Indonesia menangkapi kapal-kapal pukat Cina yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di sekitar Kepulauan Natuna. Cina sempat mengajukan protes keras, namun kemudian mengakui kedaulatan Indonesia di wilayah perairan sekitar Natuna.

Presiden Jokowi dan Presiden Cina Xi Jinping di Beijing
Setelah insiden bulan lalu itu, Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Natuna dan naik ke kapal perang Angkatan Laut. Kunjungan Jokowi dipandang sebagai isyarat kepada Cina, bahwa Jakarta serius akan membela wilayah teritorialnya.
Pemerintahan Jokowi baru.baru ini menyetujui peningkatan anggaran militer. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menjelaskan, pulau-pulau di perairan terpencil antara Kalimantan dan Semenanjung Malaysia akan dijadikan pos jaga di kawasan utara Indonesia.
Menhan Ryacudu mengatakan, keputusan itu tidak mrngubah posisi tradisional Indonesia sebagai negara yang tidak menaruh klaim dalam sengketa wilayah di Laut Cina Selatan.
"Mari kita menghindari perang," katanya dan menambahkan, Indonesia memiliki hubungan baik dengan semua pihak.
VOA

