Presiden baru Filipina, Roberto "Digong" Duterte, melancarkan perang besar terhadap kelompok kriminal, terutama pengedar narkotik dan obat terlarang. Sumpahnya itu bukan sekedar omong kosong. Sejak Duterte naik jabatan ribuan pelaku kriminal telah dijebloskan ke penjara, meski dalam kondisi yang tidak manusiawi.

Potret paling muram perang narkoba di Filipina bisa disimak di Lembaga Pemasyarakatan Quezon City, di dekat Manila. Penjara yang dibangun enam dekade silam itu sedianya cuma dibuat untuk menampung 800 narapidana. Tapi sejak Duterte berkuasa jumlah penghuni rumah tahanan itu berlipat ganda menjadi 3.800 narapidana.
Tahanan dibiarkan tidur berdesakan di atas lapangan. "Kebanyakan menjadi gila," kata Mario Dimaculangan, seorang narapidana bangkotan kepada kantor berita AFP. "Mereka tidak lagi bisa berpikir jernih. Penjara ini sudah membludak. Bergerak sedikit saja kamu menyenggol orang lain," tuturnya. Dimaculangan sudah mendekam di penjara Quezon City sejak tahun 2001.


Sebuah ruang sel di penjara Quezon City sebenarnya cuma mampu menampung 20 narapidana. Tapi lantaran situasi saat ini, sipir memaksa hingga 120 tahanan berjejalan di dalam satu sel. Pemerintah menyediakan anggaran makanan senilai 50 Peso atau 14.000 Rupiah dan dana obat-obatan sebesar 1.400 Rupiah per hari untuk setiap tahanan.

Buruknya situasi sanitasi di penjara Quezon City sering berujung pada munculnya wabah penyakit. Selain itu kesaksian narapidana menyebut tawuran antara tahanan menjadi hal lumrah lantaran kondisi yang sempit dan berdesakan.

Menurut studi Institute for Criminal Policy Research di London, lembaga pemasyarakatan di Filipina adalah yang ketiga paling membludak di dunia. Data pemerintah juga menyebutkan setiap penjara di dalam negeri menampung jumlah tahanan lima kali lipat lebih banyak ketimbang kapasitas aslinya.
Pecandu Mati Kutu
Presiden Duterte tidak cuma membidik pengedar saja, ia bahkan memerintahkan kepolisian untuk menembak mati pengguna narkoba. Hasilnya 114.833 pecandu melaporkan diri ke kepolisian untuk menjalani proses rehabilitasi. Namun lantaran kekuarangan fasilitas, sebagian diinapkan di berbagai penjara di seantero negeri.
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte bersumpah akan membunuh puluhan ribu penjahat narkoba di Filipina.
"Kampanye 'tembak dan bunuh' ini akan tetap diberlakukan hingga hari terakhir saya menjabat, jika saya masih hidup hingga saat itu," tegas Duterte yang berusia 71 tahun ini dalam konferensi pers di kampung halamannya di Davao.
"Saya tidak peduli soal HAM, percaya dengan saya," imbuhnya, berdasarkan transkrip resmi yang dirilis Istana Kepresidenan Filipina (6/8).
Duterte menyebut, pejabat pemerintahan yang memanfaatkan jabatannya untuk terlibat perdagangan narkoba, yang menghancurkan banyak kehidupan rakyat Filipina, ada di urutan pertama dalam daftarnya. Lebih lanjut, Duterte juga menawarkan jaminan resmi dan personal, kepada para tentara dan polisi Filipina, untuk mendapat kekebalan dari peradilan atas pembunuhan yang dilakukan mereka saat menjalankan tugas.

