43 warga Rusia yang akan berangkat menuju Lille untuk mendukung Tim Nasional Rusia dipaksa turun dari Bus dan ditahan selama 48 jam. oleh Jaksa Penuntut Marseille pada 11 Juni 2016 © REUTERS/ Eric Gaillard
Kementerian Luar Negeri Rusia telah memanggil duta besar Prancis di Moskow untuk menerima nota protes menyusul penahanan penggemar sepak bola Rusia dalam kejuaraan Euro-2016 di Prancis.

Moskow telah memberitahu utusan Prancis bahwa tindakan diskriminatif terhadap beberapa fans Rusia di Euro-2016 tak dapat diterima
Pada Rabu tanggal 15 Juni, Duta Besar Prancis untuk Moskow Jean Maurice Ripert dipanggil ke Kementerian Pertahanan Rusia. Kami diberitahu bahwa Rusia memprotes sehubungan dengan penahanan atas sekelompok penggemar Rusia yang akan menuju Lille dari Marseille untuk pertandingan Euro -2016 dengan partisipasi tim [sepakbola]' Rusia untuk memberikan dukungan dan semangat kepada tim kesayangan mereka tim nasional Rusia.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa tindakan Perancis bisa meminyaki sentimen anti-Rusia atas partisipasi Rusia dalam kejuaraan dan dapat memperburuk hubungan dengan Perancis.
Kementerian luar negeri mencatat bahwa "menarik perhatian diplomat Prancis ke karakter diskriminatif dan selektif dari tindakan terhadap warga negara Rusia atas tindakan jaksa Marseille memutuskan untuk menahan selama 48 jam 43 pendukung Rusia, termasuk tiga pengemudi untuk menjalani pemeriksaan"
Sebelumnya pada hari Rabu 15 Juni 2016, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa perilaku beberapa penggemar sepak bola Rusia di turnamen Euro 2016 itu tidak dapat diterima, namun, Lavrov juga mencatat bahwa ada tindakan provokasi.
Pada tanggal 11 Juni, tim nasional sepak bola Rusia bertemu Inggris di turnamen UEFA Euro-2016 di Perancis. Setelah pertandingan, yang berakhir imbang, sekitar 30 fans Rusia menerobos dan menembus barisan keamanan ke area fans Inggris di dalam stadion Velodrome Marseille, selanjutnya menyerang fan Inggris dengan menendang, meninju dan melakukan tindakan kekerasan lainnya.
Didik Prasetyo.
Sumber: Sputnik

