Di balik dalih AS Perang Melawan Teror dan Penyebaran Demokrasi, ada banyak teori konspirasi mengenai tragedi 9/11. Berikut ini perspektif Dr Paul Craig Roberts, seorang Ekonom Senior AS:
Penjelasan tragedi 9/11 versi pemerintah AS sendiri adalah sebuah teori konspirasi di mana beberapa orang Arab Saudi mengecoh keamanan nasional AS. Tidak diragukan bahwa banyak dari teori konspirasi yang lebih imajinatif dibentuk untuk tujuan menyangkal skeptisme apapun.
Ketika berpikir mengenai insiden 9/11, sangat penting untuk dapat membedakan pendapat para ahli dari penjelasan yang mustahil.
Di antara pendapat ahli ini adalah 2.600 orang insinyur instruktur dan arsitek gedung tinggi yang termasuk dalam Architects & Engineers untuk kebenaran insiden 9/11 dan telah menulis kepada Kongres meminta sebuah penyelidikan yang nyata, Pemadam Kebakaran untuk kebenaran 9/11, Pilot untuk kebenaran 9/11, para fisikawan dan ahli kimia yang menganalisa debu dari menara kembar dan laporan temuan bahan-bahan bereaksi dan tidak bereaksi yang digunakan dalam penghancuran yang dikendalikan tersebut, dan para mantan pejabat pemerintahan yang memahami bahwa sebuah kegagalan keamanan besar seperti insiden 9/1 ini seharusnya memicu sebuah penyelidikan yang segera dan menuntut.
Kelompok orang-orang yang berkualitas dan berpengalaman ini mengatakan bahwa cerita resmi 9/11 pemerintah adalah palsu. Para arsitek, insinyur dan ilmuwan mengatakan bahwa cerita resminya tidak memungkinkan secara fisik. Para petugas pemadam kebakaran dan personil pemeliharaan gedung mengatakan bahwa ada banyak ledakan di dalam gedung dan bahwa ledakan pertama terjadi di basement sebelum gedung tersebut dihantam oleh pesawat terbang. Para pilot militer dan sipil yang berpengalaman mengatakan bahwa manuver pesawat tersebut melebihi kemampuan dari para pembajak terduga. Baik wakil ketua dan penasihat hukum Komisi 9/11 telah menulis buku-buku di mana mereka mengatakan bahwa ada informasi-informasi yang disembunyikan, bahwa pemerintah AS berbohong kepada Komisi tersebut, dan bahwa Komisi tersebut telah diatur untuk gagal.
Dengan kata lain, bukti-bukti keras tidak mendukung cerita resmi pemerintah AS mengenai insiden 9/11 ini.
Kita mengetahui bahwa cerita resminya palsu. Kita tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atau tujuan dari insiden tersebut. Namun, bukti-bukti secara kuat mendukung kecurigaan terhadap para neokonservatif yang posisi tingginya dalam pemerintahan memungkinkan mereka untuk melancarkan serangan palsu tersebut dan untuk menunda serta mengalihkan penyelidikan sampai cerita resminya ditetapkan dan ditanamkan dalam persepsi masyarakat luas. Kita juga mengetahui dari “dancing Israelis” bahwa unsur-unsur dalam pemerintah Israel mengetahui serangan tersebut sebelum terjadi, ketika para agen Isrel menyiapkan diri mereka untuk merekam penghancuran dari menara kembar tersebut.
Makalah-makalah neokonservatif yang ditulis pada tahun 1990-an menyerukan diadakannya insiden “Pearl Harbor” baru untuk meluncurkan perang Washington untuk hegemoni, pertama-tama di Timur Tengah. Makalah tersebut mengisyaratkan Irak, Suriah, Iran dan Libya agar diserang sebelum peristiwa 9/11. Tidak satu pun dari negara-negara ini memiliki hubungan apapun dengan cerita resmi 9/11 yang disalahkan pada al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden, sebuah kelompok teroris yang didirikan oleh Washington pada tahun 1970-an untuk melawan pendudukan Soviet di Afghanistan.
Tidak satupun dari negara-negara ini memiliki pemerintahan teroris. Iran memiliki bentuk hukum Islam yang diredam, sedangkan Saddam Hussein di Irak dan Assad di Suriah menuju pada pemerintahan yang sekuler. Namun tetap, para neokonservatif secara palsu mengklaim bahwa Saddam Hussein memiliki “hubungan dengan al-Qaeda”. Kebohongan ini dan kebohongan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal yang mengancam AS digunakan untuk menyerang Irak di bawah banner 9/11.
Insiden 9/11 ini digunakan oleh pemerintah AS untuk memulai peperangan yang telah menghancurkan seluruh atau sebagian besar dari tujuh negara, menewaskan jutaan orang dan memicu aliran besar pengungsi. Insiden 9/11 ini juga digunakan untuk membentuk sebuah negara polisi Amerika, yang merupakan sebuah ancaman yang jauh lebih besar bagi kebebasan dan demokrasi daripada terorisme.
Namun, jika dipikir secara lebih rasional: Bagaimana bisa beberapa orang Arab mengecoh seluruh Keamanan Nasional AS (semua 16 kantor intelijen AS, intelijen sekutu NATO dan Israel, Dewan Keamanan Nasional, Air Traffic Control dan keamanan bandara. Sebaliknya, pemerintah AS menolak penyelidikan selama satu tahun sampai sebagian besar bukti-bukti dapat dihancurkan.
Jika memang benar demikian, beberapa orang Arab yang dapat mengecoh semua keamanan nasional AS adalah sebuah penghinaan terbesar terhadap negara adidaya tersebut, namun tidak ada yang bertanggung jawab.
Di antara pendapat ahli ini adalah 2.600 orang insinyur instruktur dan arsitek gedung tinggi yang termasuk dalam Architects & Engineers untuk kebenaran insiden 9/11 dan telah menulis kepada Kongres meminta sebuah penyelidikan yang nyata, Pemadam Kebakaran untuk kebenaran 9/11, Pilot untuk kebenaran 9/11, para fisikawan dan ahli kimia yang menganalisa debu dari menara kembar dan laporan temuan bahan-bahan bereaksi dan tidak bereaksi yang digunakan dalam penghancuran yang dikendalikan tersebut, dan para mantan pejabat pemerintahan yang memahami bahwa sebuah kegagalan keamanan besar seperti insiden 9/1 ini seharusnya memicu sebuah penyelidikan yang segera dan menuntut.
Kelompok orang-orang yang berkualitas dan berpengalaman ini mengatakan bahwa cerita resmi 9/11 pemerintah adalah palsu. Para arsitek, insinyur dan ilmuwan mengatakan bahwa cerita resminya tidak memungkinkan secara fisik. Para petugas pemadam kebakaran dan personil pemeliharaan gedung mengatakan bahwa ada banyak ledakan di dalam gedung dan bahwa ledakan pertama terjadi di basement sebelum gedung tersebut dihantam oleh pesawat terbang. Para pilot militer dan sipil yang berpengalaman mengatakan bahwa manuver pesawat tersebut melebihi kemampuan dari para pembajak terduga. Baik wakil ketua dan penasihat hukum Komisi 9/11 telah menulis buku-buku di mana mereka mengatakan bahwa ada informasi-informasi yang disembunyikan, bahwa pemerintah AS berbohong kepada Komisi tersebut, dan bahwa Komisi tersebut telah diatur untuk gagal.
Dengan kata lain, bukti-bukti keras tidak mendukung cerita resmi pemerintah AS mengenai insiden 9/11 ini.
Kita mengetahui bahwa cerita resminya palsu. Kita tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atau tujuan dari insiden tersebut. Namun, bukti-bukti secara kuat mendukung kecurigaan terhadap para neokonservatif yang posisi tingginya dalam pemerintahan memungkinkan mereka untuk melancarkan serangan palsu tersebut dan untuk menunda serta mengalihkan penyelidikan sampai cerita resminya ditetapkan dan ditanamkan dalam persepsi masyarakat luas. Kita juga mengetahui dari “dancing Israelis” bahwa unsur-unsur dalam pemerintah Israel mengetahui serangan tersebut sebelum terjadi, ketika para agen Isrel menyiapkan diri mereka untuk merekam penghancuran dari menara kembar tersebut.
Makalah-makalah neokonservatif yang ditulis pada tahun 1990-an menyerukan diadakannya insiden “Pearl Harbor” baru untuk meluncurkan perang Washington untuk hegemoni, pertama-tama di Timur Tengah. Makalah tersebut mengisyaratkan Irak, Suriah, Iran dan Libya agar diserang sebelum peristiwa 9/11. Tidak satu pun dari negara-negara ini memiliki hubungan apapun dengan cerita resmi 9/11 yang disalahkan pada al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden, sebuah kelompok teroris yang didirikan oleh Washington pada tahun 1970-an untuk melawan pendudukan Soviet di Afghanistan.
Tidak satupun dari negara-negara ini memiliki pemerintahan teroris. Iran memiliki bentuk hukum Islam yang diredam, sedangkan Saddam Hussein di Irak dan Assad di Suriah menuju pada pemerintahan yang sekuler. Namun tetap, para neokonservatif secara palsu mengklaim bahwa Saddam Hussein memiliki “hubungan dengan al-Qaeda”. Kebohongan ini dan kebohongan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal yang mengancam AS digunakan untuk menyerang Irak di bawah banner 9/11.
Setelah 9/11 berlalu, dan kemudian “Perang Melawan Teror” dan “Penyebaran Demokrasi” mengambil tempatnya sebagai dalih yang digunakan.
Insiden 9/11 ini digunakan oleh pemerintah AS untuk memulai peperangan yang telah menghancurkan seluruh atau sebagian besar dari tujuh negara, menewaskan jutaan orang dan memicu aliran besar pengungsi. Insiden 9/11 ini juga digunakan untuk membentuk sebuah negara polisi Amerika, yang merupakan sebuah ancaman yang jauh lebih besar bagi kebebasan dan demokrasi daripada terorisme.
Penulis

Dr Paul Craig Roberts
Asisten Menteri Keuangan dalam pemerintahan Reagan, dan kini associate editor Wall Street Journal
The Unz Review
