Kandidat presiden dari Partai Republik Donald Trump akhirnya menyalip lawannya dari Demokrat Hillary Clinton dalam jajak pendapat dukungan nasional terbaru, setelah tertinggal dalam jajak pendapat beberapa pekan yang lalu.
Hasil jajak pendapat yang dilaksanakan oleh Rasmussen dan dirilis pada hari Jumat 2 Oktober 2016, menempatkan Trump memenangkan dukungan dengan 1 poin yaitu 40 persen untuk Trump lawan 39 persen untuk Clinton.
Calon Libertarian Gary Johnson meraih dukungan 7 persen, menduduki peringkat ketiga sedangkan calon lainnya dari Partai Hijau Jill Steins, hanya mendapat suara 3 persen.
Ini menandai perubahan signifikan dari hasil survei edisi pekan lalu, di mana Clinton memimpin sebanyak 4 poin dengan 42 persen lawan 38 persen.
Pada bulan Agustus, tak lama setelah Konvensi Nasional Partai Demokrat, Clinton pernah memperoleh dukungan 44 persen dalam jajak pendapat, merupakan tertinggi yang pernah diperoleh.
Clinton telah mendominasi hampir semua pemilihan presiden selama beberapa pekan terakhir, setelah calon Partai Republik melakukan beberapa kesalahan.
Namun, jajak pendapat yang lebih baru telah menunjukkan persaingan dalam perolehan suara dukungan yang sangat ketat
Pada hari Jumat lalu Reuters / Ipsospoll merilis hasil jajak pendapat yang menghasilkan keunggulan 5 poin bagi Clinton lawan atas Trump, dimana dukungan terhadap Clinton menalami penurunan dari 41 persen menjadi 36 persen, Menurun 7-point
Trump sedang mencoba fokus kmbali pada kampanyenya selama beberapa pekan terakhir, mengumumkan secara rinci rencana imigrasi dan kebijakan ekonomi.
Dia juga melakukan serangan sengit terhadap Clinton mengenai kegagalan email, serta kesehatannya yang diduga menurun.
Clinton, di sisi lain, telah berusaha untuk menangkis kritik tentang kurangnya kejelasan seputar yayasan Clinton.
Dalam kampanyenya Trump menuduhnya terlibat dalam "permainan pembayaran" dengan donor keluarga yayasan.
Organisasi ini muncul dan menjadi sasaran permasalahan pendanaan asing, bersifat bipartisan selanjutnya memicu kecurigaan atas kegiatannya selama beberapa tahun terakhir.
Pada awal Agustus, baru dirilis email Clinton saat menjabat Menteri Luar Negeri selanjutnya memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan kaitan antara departemen danYayasan Clinton.
Dodo Aditya: S
umber: Press TV
