Uni Eropa harus memberikan bebas visa mulai Oktober depan kepada warga Turki yang melakukan perjalanan atau kesepakatan migran yang melibatkan Turki untuk membendung arus migran ilegal menuju negara-negara anggota UE akan dikesampingkan, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada surat kabar Jerman.
Ditanya apakah ratusan ribu pengungsi di Turki akan menuju ke Eropa jika Uni Eropa tidak memberikan Turki kebebasan visa mulai Oktober, ia mengatakan kepada surat kabar Bild Senin 15 Juli 2016, "Saya tidak ingin berbicara tentang skenario terburuk, pembicaraan dengan Uni Eropa terus berlangsung tapi jelas bahwa kita menerapkan semua perjanjian pada saat yang sama atau kita kesampingkan semua perjanjian itu."
Akses bebas visa ke Uni Eropa adalah imbalan dari kolaborasi Ankara dengan UE untuk mencegah tercekiknya UE akibat masuknya migran ke Eropa telah ditunda menyusul disahkannya Undang-undang anti-terorisme Turki dan tindakan keras Ankara kepada para pelaku kudeta dan para pihak yang terkait dan terlibat aksi upaya kudeta yang gagal.
Pada 24 April 2016 silam Uni Eropa dan Turki menandatangani kesepakatan dalam menanggulangi aliran migran yang masuk ke negara-negara Uni Eropa
Tujuan dari kesepakatan ini adalah untuk mencegah aliran migran, terutama dari Suriah dan Irak untuk menyeberang secara ilegal melalui laut yang memisahkan Turki dengan anggota Uni Eropa Yunani.
Davutoglu mengatakan negaranya telah memenuhi tanggungjawabnya dalam perjanjian itu sedangkan bebas visa untuk memasuki wilayah Schengen Uni Eropa adalah "penting" bagi Turki.
Kesepakatan itu mengatakan Turki harus memenuhi 72 persyaratan yang ditetapkan untuk mendapatkan akses. Sejauh ini.para diplomat mengatakan hanya setengah dari point yang dipenuhi oleh Turki
Sedangkan Badan pengungsi PBB dan organisasi hak asasi lainnya menanggapi kesepakatan itu dengan penuh keprihatinan.
Dodo Aditya.
Sumber: Reuters dan BBC
